Disabilitas di Amerika: Bagian 3 — Mengintip Fasilitas Latihan Atlet Paralimpik USA
Dalam dua minggu terakhir, kita berada dalam sorak-sorai kemeriahan ASIAN GAMES 2018. Pada 2 September, obor api telah dipadamkan. Namun, terdapat semangat yang masih menyala-nyala dari atlet-atlet paragames yang juga akan bertanding bulan depan. Tulisan ini dibuat dalam rangka menyambut ASIAN PARAGAMES 2018 sekaligus melengkapi tulisan-tulisan sebelumnya tentang disabilitas di Amerika.

Saat kami menjejakkan kaki ke dalam gedung, kami disambut oleh wall of fame dari atlet-atlet dengan disabilitas baik lokal (Phoenix) maupun yang termasuk dalam timnas USA karena memang Ability 360 sports & fitness center ini merupakan tempat latihan squad paralimpik Amerika Serikat. Hal ini tidak mengherankan karena Ability 360 menyediakan banyak program pelatihan, serta fasilitas pendukung yang aksesibel. Dengan keberadaan program pelatihan yang komprehensif dan fasilitas pendukung, tidak mengherankan kalau Amerika Serikat selalu berada dalam jajaran atas peraih medali di paralimpik.




Foto-foto dan jersey dari para atlet dengan disabilitas ini dipamerkan di lobby utama bukan tanpa alasan. Namun untuk menggugah pemikiran bagi siapapun yang datang kesini. Bahwa atlet dengan disabilitas juga mampu menorehkan prestasi. Bagi yang sudah pernah atau sering menyaksikan paragames dan paralimpik pasti tahu bagaimana ajang olah raga mampu mentransformasi persepsi kita tentang disabilitas. Salah seorang teman yang pernah menonton Pekan Paralimpiade Nasional (PEPARNAS) bahkan pernah mengungkapkan, “rasanya momen itu jadi titik dimana saya sadar bahwa orang dengan disabilitas itu bukan perlu dikasihani”. Ini sejalan dengan apa yang pemandu Ability360 juga katakan pada saya bahwa olah raga adalah ajang yang paling efektif untuk mengubah pandangan terhadap orang dengan disabilitas, bahwa perihal ‘bisa’ dan ‘tidak bisa’ itu keadaan pikiran, bukan fisik.
Ability 360 menyediakan berbagai program kebugaran baik bagi kelompok difabel maupun bukan karena fasilitasnya dibangun berdasarkan pakem-pakem desain universal. Mereka juga sering mengadakan dan menjadi tuan rumah pertandingan-pertandingan olah raga seperti rugby, lacrosse, dan basket.
Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, tentunya fasilitas di sentra olah raga ini aksesibel. Dari mulai kamar ganti, ruang loker, lift, fasilitas gym, sampai kolam renang. Berikut ini beberapa foto fasilitas yang terdapat di dalam gedung yang dibangun melalui dana dari pemerintah dan donasi dari banyak pihak.






Saya dan beberapa teman yang berkunjung ke Ability 360 pada hari itu cukup beruntung karena kebetulan setelah kami selesai berkeliling, ada mantan atlet paralimpik yang sedang bermain basket dan kami dipersilakan untuk main bersama. Selain bermain, saya juga bertanya padanya tentang bagaimana keadaan fasilitas yang serba akses, baik fasilitas olah raga maupun pada fasilitas umumnya, mempengaruhi hidupnya selama ini. Tidak disangka, ternyata ia perlu mengambil jeda untuk menjawab pertanyaan ini. “Ini pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan pada saya sebagai orang dengan disabilitas di Amerika karena mayoritas fasilitas yang ada sudah dapat diakses dan saya tidak dapat membayangkan hidup tanpanya. Tapi, yang saya rasakan keberadaan fasilitas yang aksesibel ini telah memberikan saya kesempatan untuk hidup yang sama dengan manusia pada umumnya. Saya bisa sekolah, saya bisa bekerja, berolah raga, meraih hal-hal yang ingin saya capai.”


Pada penghujung kunjungan kami disini, pemandu kami juga banyak bercerita tentang pengalaman pribadinya sebagai orang dengan disabilitas di Amerika. Seperti misalnya ketika ia berada di supermarket sering ada anak-anak yang melihatnya dengan bingung karena ia memiliki satu tangan. Tidak jarang orang tua yang memergoki anaknya kebingungan dan bertanya justru buru-buru mengajak anaknya pergi atau menyuruh anaknya memalingkan pandangan. “Mungkin karena takut menyinggung perasaan orang dengan disabilitas”, ujar pemandu saya. Padahal, menurutnya ia pun tidak merasa keberatan untuk menjawab seandainya ada seseorang yang bertanya tentang kondisi fisik yang ia miliki. Hal seperti ini dapat terjadi karena masih minimnya interaksi dengan kelompok difabel. Oleh karena itu, penting mengupayakan integrasi sosial yang salah satunya dapat dicapai lewat keberadaan fasilitas yang dibuat berdasarkan prinsip-prinsip desain universal sehingga siapapun bisa mengaksesnya.
Hal lain yang akan selalu saya ingat adalah ketika pemandu saya bilang “WORDS REFLECT ATTITUDE”. Sedikit saya mengetahui bahwa asal mula kata Handicapped adalah dari cap in hand yang merupakan idiom dari meminta belas kasihan. Oleh karena itu, jika ingin mengubah pandangan masyarakat tentang orang dengan disabilitas, jangan gunakan kata handicapped. Change words that we use, be barrier buster.