Open Source dan Startup, Collision of Culture?

Dari dini hari tadi ngulik beberapa hal tentang python akhirnya jadi musing satu hal tentang tekanan terhadap startup utk segera menghasilkan value,dan terutama (95%) value finansial,sementara di masa (atau generasi) sebelumnya sejumlah programmer hebat mampu meluangkan waktu-nya utk menghasilkan karya-karya solid yang value-nya TIDAK BISA segera di-uang-kan karena kode sumber-nya dibuka dan dilepas ke publik (baca = open source dgn lisensi GPL atau sejenisnya). Saya mengalami sendiri keinginan para insan IT kekinian untuk mengemas satuan produk code sekecil apapun menjadi satu produk bisnis, kadang (maaf) beberapa diantaranya sebenarnya terlalu kecil.

Timbul prasangka, sebagai pengguna yang merasa telah sangat banyak diuntungkan oleh aneka software dan poroject opensource, jangan-jangan attitude (dibawah tekanan) Startup itu menghambat lahirnya programmer-programmer berdedikasi yg masih cukup waktu untuk menjalankan programming hampir sebagai hobi. well, kita tahu mereka yang menikmati pekerjaan-nya biasanya adalah yang paling kreatif.

Saya kemudian mencoba menelusuri via mesin pencari, dibantu beberapa tool data mining, perkembangan proyek-proyek open source di seluruh dunia pada sekira 5 tahun terakhir. menarik, ternyata tidak berkurang, Linux Kernel bahkan mengumumkan makin tinggi-nya frekuensi update Kernel dan makin besarnya jumlah kontributor (https://www.linux.com/blog/top-10-developers-and-companies-contributing-linux-kernel-2015-2016). Tool-tool opensource besar lain, semacam Python yg saya sebut diatas, juga PHP, aneka project dibawah Apache Foundation, kecuali Java dibawah Oracle (karena ada juga Java yg dikembangkan dan dipelihara diluar Oracle), semua menunjukkan perkembangan yang justru makin pesat.

Teringat pada petuah Chris Anderson bahwa FOSS adalah salah satu dari 3 faktor yang menyebabkan dunia menjadi makin datar dalam versi dia (as conjunction dengan versi-nya Thomas L. Friedman). Saya kemudian mencoba menelisik latar belakang kontributor-kontributor utama dalam project-project open source, diawali dari Linux Kernel, top 10 kontributor adalah programmer-programmer dari perusahaan besar macam Intel, Samsung (siapa yg mengira), IBM. saya kemudian lanjut menelisik Python, ternyata persentil besar-nya (saya tdk berani mengatakan sebagian besar) berasal dari kalangan peneliti, PHP luar biasa dilihat di Github sebagian besar ternyata adalah foundation (yayasan) dan programmer individu, Javascript selain Google sebagian besar kontributornya adalah para individu dan beberapa foundation.

Dari situ, entah sudah cukup valid atau tidak, saya melihat budaya programmer yang suka mengulik, suka mencoba, dan suka tantangan (dalam koding, tentu) untuk menaklukkan problem masih terjaga, sepertinya tidak terkurangi oleh neo-budaya startup yang datang akhir-akhir ini. Alih-alih, budaya Startup justru ‘memecah’ keberadaan programmer-programmer kontributor proyek opensource dari karyawan perusahaan-perusahaan besar, menjadi boss-boss, atau setidaknya CTO-CTO, bagi perusahaan kecil-kecil milik mereka sendiri. Dan tuntutan untuk selalu berubah menjawab tantangan yg ditimbulkan oleh ekosistem startup itu melikuidasi waktu, SDM, dana dari yang dibutuhkan untuk mempackage suatu project IT menjadi produk proprietary seperti di masa sebelumnya. Maksud saya, contohnya Microsoft berapa banyak jumlah programmer, dana, kantor, server, tenaga pemasar, manajer yang dia perlukan untuk mengembangkan, menjaga dan memasarkan Office, misalnya. Dengan kata lain produk-produk yang full-proprietary semakin tidak feasible.

Jika ada harapan, tentunya, karena saya merasa sebagai orang yang masuk IT dari Startup, bukan sebaliknya. Mari kita ingat startup yang didirikan, bahkan kemudian dijalankan, oleh segelintir orang yang kemudian mampu menantang, bahkan mengalahkan perusahaan-perusahaan besar yang sudah kawakan, tidak akan mungkin tanpa adanya tool dan produk-produk opensource yang ‘membanting dan merusak’ barrier pengmebangan produk IT. Jika semula butuh dana besar, paling tidak untuk membeli license, atau mengembangkan sendiri dari nol, saat ini kita diuntungkan oleh lautan library yang tersedia gratis untuk kita rangkai menjadi aneka produk unik.

So, let us never stop contributing. Respek tertinggi untuk teman-teman yang sukarela berbagi code, nyaris tanpa pamrih di github atau sejenisnya :-).

remarks : header picture courtesy of Systemexpert.asia