Dua Pelajaran Penting

“Pelajaran paling penting yang kudapatkan dari ayahku adalah rendah hati..”
“Tunggu sebentar. Dari mana kamu tahu seberapa dalam kerendahan hatimu? Bukankah semakin sering seseorang membicarakan tentang dirinya sendiri berarti semakin banyak kebohongan yang terucap olehnya? Rendah hati yang disadari, terlebih dipublikasi. Barangkali hanyalah bayangan dari kesombongan yang enggan kamu pertontonkan.”
“Jangan marah-marah begitu. Paragrafku belum selesai kutulis. Katanya kamu mau jadi wartawan? Kok mendengarkan ceritaku saja gak tahan?”

Ayahku pernah bilang, tiga orang anaknya lahir dan tumbuh menjadi bunga yang berbeda. Dan sampai kapan pun dia tidak akan bisa memilih bunga apa yang menjadi favoritnya.

Bunga mana yang paling harum tubuhnya? Paling awet kelopaknya? Paling nyala warnanya?

Menurutnya, itu bukanlah suatu pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Pun tak pantas siapapun untuk tanyakan.

Secara emosional, aku memang sangat dekat dengan ayahku.

Aku menulis dua paragraf panjang untuknya saat aku cemburu dengan Aa’ku. Surat penuh kemarahan itu aku letakkan di meja kerjanya. Berharap hanya dia yang menemukan dan membacanya.

Aku menulis puisi sepanjang 3 halaman dari buku tulis matematika yang kusobek sebagai hadiah Hari Ayah. Mengenang perkataannya pada suatu waktu, saat masalah terbesarku dalam hidup adalah tugas matematika, “Dek, kamu gak akan bisa ngehindarin matematika.” Tau betul bahwa bungsunya sering ingin kabur dari masalah.

Aku menulis pesan untuknya (kali ini tidak ditulis tangan) saat aku berulang tahun ke-19. Bahwa aku takut tumbuh dewasa. Dan bagaimana hari ulang tahun bukanlah peringatan yang ingin kurayakan dengan pesta pora. Aku bilang, “maybe there’s no such thing as being an adult. I only grow older, and if im lucky.. maybe a little wiser,” kalimat itu aku kutip dari sumber yang entah dari mana, aku sudah lupa.

Singkatnya, aku sering sekali menulis untuknya.

Dia menularkan kecintaannya pada huruf sejak aku baru fasih a-ba-ta-sa. Dan mengajarkanku bermimpi untuk menulis buku ketika aku pertama kali jatuh cinta.


Pernah di suatu hari yang biasa-biasa saja, aku mengalami ujian paling berat di dunia. Sekali itu, aku terlena oleh riah riuh pujian. Hingga tanpa sengaja aku jadi tinggi hati. Menganggap aku yang paling-paling. Mengira orang lain tak bisa menutupi sinarku.

Lantas, dia menegurku di sofa merah ruang keluarga.

Katanya, pujian hanyalah ujian yang bersembunyi dalam pesta pora.


Beberapa waktu lalu,

Seseorang yang kuanggap hebat melontarkan pernyataan secara tersirat bahwa sinarku sampai kapanpun tidak akan bisa seterang dirinya. Dengan semburat senyum yang baik, dia memberikan tawaran untuk meminjamkan sinarnya padaku.

Dan, dengan lapang dada, aku menolak.

Aku mungkin bukan apa-apa. Dan belum akan menjadi siapa-siapa. Tapi, aku bisa bersinar dengan caraku sendiri. Tidak dengan bantuanmu, bahkan tidak dengan pengorbanan Ayahku.


Sore tadi, aku bercakap-cakap dengan Kakakku lewat telpon. Membicarakan kabar rumah. Tak lupa mengeluh akan tugas kuliah.

Pagi ini, dosenku bilang bahwa yang terpenting ketika kegiatan wawancara bukanlah pertanyaan apa yang kita ajukan ke narasumber, tapi apa jawabannya. Lebih jauh lagi, apa dampak dari jawaban tersebut bagi masyarakat.

Selama satu dasawarsa aku hidup, aku menemukan pelajaran penting lainnya.

Bahwa, dalam kehidupan sehari-hari, demi menyelamatkan kewarasan kita.

Kadang, kita hanya butuh ditanya dengan pertanyaan yang tepat nan sederhana. Tak peduli 5W+1H. Jawaban yang kita layangkan juga bukan hal utama.

“Apa kabar?”

P.S

Tulisan ini dibuat dengan penuh rasa sombong dan bangga bahwa aku kangen rumah.

Sekian.