Kenduri
“Membaca buku adalah sebuah kegiatan di mana kamu memandangi tubuh pohon mati dan berhalusinasi”
(Kalimat ini kupinjam dari sebuah tweet yang lewat di linimasaku kemarin).
Entah ada berapa banyak pohon mati yang kupelototi hingga telanjang seluruh bagian tubuhnya selama ini. Sampai saat ini aku pun meragukan darimana datangnya halusinasi itu, apakah dari pikiran yang kuproduksi sendiri, campuran huruf yang digoreskan di tubuh buku, atau si pohon sendiri yang mendongengkannya kepadaku.
Tapi, masih saja aku merasa masih kurang paham akan apapun kisah yang kubaca. Kata-kata selau jadi surat cinta semesta yang susah untuk kucerna.
Tapi, aku keranjingan.
Sebelum aku belajar menulis, aku memulainya dari membaca. Dari membedakan huruf “b” dengan “d”, atau “p” dengan “q”, atau keempatnya. Melafalkan bunyi huruf “e” yang berbeda pada “kecap” dan “kecup”. Serta berupaya menyusun puisi dari sembarang huruf yang tersedia.
Hanya ada 26 huruf dan peluangnya untuk dibuat puisi lebih besar dari galaksi bima sakti.
Tapi, masih saja aku kesulitan.
(Sadarkah bahwa segala kata yang pernah kita produksi adalah sebuah hal yang kita pinjam dari sebuah percakapan bersama entah siapa dan entah di mana atau sebuah kalimat dari lembaran yang entah bersumber dari mana? Pada titik ini aku pun ragu apakah kita pernah benar-benar memproduksi kata atau pikiran kita sendiri).
Dalam banyak tembang lagu ataupun kisah drama, penulis naskah selalu berupaya menceritakan suasana hati si tokoh utama dengan membuat seisi alam mendukungnya. Misalnya, alkisah seseorang menerima ajakan kencannya, dibuatkanlah bagian dari skenario di mana satu kota bersedia untuk menari dan menyanyi bersamanya. Ia diarak oleh seluruh kota, ada kembang api menyala di siang hari, para pedagang bunga menyediakan karpet mawar untuknya berjalan sampai ke rumah.
Atau, ketika kencan pertama itu berujung petaka, dengan tega tertulis bahwa hari itu ditutup dengan hujan deras sampai pemadaman listrik satu kota. Petir menyambar di mana-mana bahkan sampai ke helmnya juga, sedangkan ternyata tiket parkir yang ia yakin diletakkan di saku jaketnya pun hilang sehingga denda 50 ribu harus ia relakan. Duh!
Singkatnya, entah kenapa, apapun yang dirasakan si tokoh utama walaupun hampir tidak pernah diucapkannya secara gamblang selalu ditunjukkan melalui suasana lingkungan sekitarnya. Istilahnya, show don’t tell, mungkin ya. Tapi ya, tidak melulu sih, walau hampir selalu.
Aku yang pernah kerajinan membaca cerita seperti itu kadang-kadang ingin mengamini juga. Tanpa sadar mengimani setiap detik yang terlewat di hidupku dan setiap tanda yang dituliskan semesta sebagai bagian dari suasana hatiku juga.
Misal, aku selalu tau bahwa hujan selalu datang di kota tempatku tinggal saat usiaku genap bertambah. Tidak peduli kemarau sedang memeluk erat akar-akar pohonnya. Bahkan walau langit semalaman cerah dan bertumpahan bintang. Hujan pasti turun.
Lagi-lagi hal itu terbukti tahun ini, musim hujan yang terlambat datang baru mengetuk pintu pekan lalu. Untungnya aku tidak sedang menjemur pakaian atau memakai sepatu putih kesayanganku. Hujan masih peduli bahwa aku ingin perasaanku riang pada hari itu.
Di hari ulang tahunku kali ini tidak ada perayaan yang megah, tidak ada bunga mawar yang dipetik untukku (syukurlah), tidak jua ada kue manis untuk dimakan bersama-sama. Sesungguhnya, aku paling ingin menghabiskan ulang tahun bersama diriku sendiri. Tapi, hari itu diriku kubagi jadi berbagai lapis. Untukmu satu, untuknya satu, untuk siapapun yang mau boleh ambil satu!
Aku jalan-jalan ke Pangalengan dan melihat kebun penuh wortel dan kembang kol. Ada juga pabrik susu dan dodol. Masih menyesal tidak menyempatkan waktu barang 5 menit untuk sekadar berkunjung dan membeli cenderamata.
Sampai pukul 12 malam, ketika seharusnya sepatu kacaku disulap jadi sneakers biasa, masih tidak ada lilin angka yang kutiup juga.
“Tyas, mau nasi kuning atau bubur?”
“Ayok kita makan bakso!”
“Teteh mau tambah siomaynya?”
“Tyas, jangan lupa makan ikan bakarnya ya.”
“Serabi oncom hangat paling enak untuk malam yang dingin begini.”
Walau tidak ada kue keju yang dibelikan seseorang untukku tetapi aku makan dengan sangat lahap hari itu.

Setelah diingat kembali, sebenarnya memang tidak ada hal yang istimewa di hari itu. Tidak ada untaian bunga mawar yang tiba-tiba gugur di sepanjang perjalananku, atau nyanyian selamat ulang tahun oleh pengamen jalanan yang tidak mengenal namaku.
Hari yang berjalan-jalan dengan biasa-biasa saja itu kututup dengan tidur panjang dan janji yang terlupa. Aku lupa harus menulis sesuatu di hari ulang tahunku seperti yang sudah-sudah.
Aku tahu hal ini memang sudah terlambat kulakukan. Para penonton sudah meninggalkan bangku, panggung sedang disapu, tirai sudah lama ditutup. Tapi, biarlah kunyalakan mic sebentar karena aku ingin bercerita. Walau mungkin semua orang yang tersisa juga akan menutup telinga.
“..Di usia ke-22, segala hal menjadi mungkin dan mustahil di sekaligusnya.”
(Kalimat ini dipinjam dari buku karya Afrizal Malna)
