Tuan — Kini Saya Ikhlaskan.
Ada masa dimana saya merasa begitu berarti — dicari setiap hari sebagai tempat ceritanya berbagi. Bahagia sekali.
Hingga sampai pada waktu dimana perlahan semuanya berubah. Dingin, tak lagi hangat.
Saya tak pernah lelah, mengapa kamu menyerah?
Benar katanya, laki-laki tidak akan pergi kecuali menemukan yang lebih baik lagi. Kini ia berada di persimpangan. Memilih bertahan dengan godaan, atau pergi dengan penyesalan.
Sayangnya, ia memutuskan pergi, berharap penyesalan tak mengikuti. Saya pun tersenyum, karena menangis tak mampu lagi.
Berat rasanya.
Ada yang hilang di hari hari saya.
Tak ada lagi tempat saya bertukar cerita.
Semua pikiran dan perasaan itu selalu menghantui saya di awal perpisahan tiba.
Hingga sampai pada akhirnya, saat ini saya memilih ikhlas. Melepaskan apa yang harusnya dilepaskan. Karena untuk apa bertahan pada pilihan yang tak mau dipertahankan? Untuk apa berjuang sendirian?
Bagai pohon yang berdiri kokoh di tengah hembusan angin kencang, saya tidak pernah mengatakan bahwa saya tidak akan goyah dan daun-daun tidak akan lepas terseret angin.
Di tengah kepergiannya, saya dengar bahwa ia telah menemukan yang lain. Di tengah saya berusaha menguatkan diri, nyatanya saya tak mampu menahannya lagi.
Tuan, saya bahagia mendengarnya, meski hati ini sesak rasanya. Semoga ia mampu menerima segala kurangmu sama seperti saya dulu — seperti menerima paket yang berisi kurang dan lebihmu, saya mampu.
Tuan, hari ini air mata saya tumpah lagi. Namun tidak untuk esok hari.
Tuan, semoga ia adalah perempuan yang selama ini kamu cari.