Membicang Tuhan bersama Anak-anak

“Mas, Tuhan itu seperti apa? Tanya Rachel, ‘Anak’ perempuanku di kelas 6.
“Menurut kamu, Tuhan seperti apa?” balasku, mencoba membangun dialog dengannya.
“Tuhan itu seperti gambar Yesus, lelaki tinggi dengan rambut panjang” Jawab Rachel.
“Kalo Aku, membayangkan Tuhan seperti Matahari dalam serial Teletubies” timpal Citta, gadis disamping Rachel yang tampak tertarik dengan obrolan ini.
“Kalo Mas bagaimana?” Tanya Rachel padaku
“Dulu sewaktu Mas seumur kalian, Mas membayangkan kalo Tuhan itu berwujud lelaki tinggi, sangaat tinggi sampai peci di kepalanya menyentuh langit. Kemudian ia membawa alat penyiram tanaman yang airnya menjadi hujan.” Terangku sambil menceritakan masa kecilku. “Tapi sekarang bayangan seperti itu mulai memudar.”
“Kenapa Mas?” Tanya mereka bersamaan.
“Mungkin karena Mas mulai beranjak dewasa” timpalku.
Kemudian Saya lanjutkan obrolan tentang Tuhan yang rumit ini dengan menggunakan perumpamaan.
“Kalian tahu nyawa?” tanyaku pada Rachel dan Citta.
“Tahu, nyawa yang membuat kita tetap hidup” jawab mereka.
“Nah, kalian tahu bentuknya nyawa?”
“Enggak”
“Tapi kalian yakin kalo nyawa itu ada?”
“Yakin kok kalo Ada”
“Ya seperti itu Tuhan, ada tapi tidak bisa kita lihat keberadaannya” pungkasku.

Perbincangan tadi terjadi ketika waktu istirahat berlangsung. Awalnya Rachel mengeluh karena ia sering dikira beragama Katholik, hanya karena namanya tidak menggunakan bahasa Arab, dan ia juga tak mengenakan Jilbab seperti halnya teman muslim sekelasnya. Strereotipe ini juga menjangkiti Saya, dari awal saya mengira bahwa Rachel bukanlah penganut Islam hanya karena ia tak mengenakan jilbab dan menyandang nama yang bukan dari bahasa Arab. Barangkali juga, ini konsekuensi dari kebijakan SALAM yang tidak memuat materi tentang agama dalam persekolahan. Dimana urusan agama menjadi urusan pribadi masing-masing. Dan memang baiknya begitu.

Citta, Oki dan Rachel: Anak-anakku di kelas 6 SD Sanggar Anak Alam.

Perbicangan dengan anak-anak tentang Tuhan membuat saya teringat dengan dialog dengan salah satu dosen Psikologi Dakwah dulu, Pak Musthofa. Saya ingat sekali Ia membuka kelas dengan pertanyaan “Apa yang kalian bayangan tentang Tuhan ketika kalian masih kecil?” semua mahasiswa di kelas menjawab dengan jawaban bermacam-macam. Ada yang menjawab dengan postur lelaki besar, ada pula yang serupa dengan tokoh kartun anak-anak dan masih banyak ragamnya. Kemudian Pak Musthofa memberikan penjelasan bahwa ketika kita anak-anak, cara berpikir kita masih kongkrit, belum abstrak. Sehingga konsep apapun yang coba dimasukkan dalam pikiran kita, akan dicarikan bentuk kongkritnya.

Saya tak menyangka bahwa pertanyaan semacam itu saya dapati sendiri dari mulut anak-anak. Untung saja, suatu waktu saya sempat membaca buku Quraish Shihab tentang cara menjawab pertanyaan anak tentang Tuhan. Disana disajikan cara menjawab pertanyaan anak-anak tentang hal-hal yang abstrak. Mulai dari rupa Tuhan, mengapa wudlu, dll. Tidak selalu jawaban yang diberikan adalah jawaban sesungguhnya, beberapa jawaban adalah perumpamaan kasus yang sebenarnya tidak pas untuk dijadikan jawaban. Namun hal itu dilakukan semata untuk memberi pengertian tentang posisi konsepsi dalam pikiran anak. Yang dibutuhkan anak bukanlah jawaban atas kebenaran itu-dimana orang dewasa pun belum usai melakukan perdebatannya-, namun yang Anak-anak cari adalah jembatan antara bahasa orang dewasa yang rumit dengan dunia mereka yang sederhana.

Yogyakarta, 21 Agustus 2018