Menjadi Fasilitator atau Teman?

Ubaidillah Fatawi
Sep 1, 2018 · 3 min read

Ada satu ungkapan menarik dari Mbak Tiyas, rekan Fasilitator di kelas 4 yang aktif sekali berbagi pengalamannya bergulat dengan isu anak. Ia menulis dialognya dengan salah satu temannya di laman facebook:

“Yas, untuk bisa dekat dengan anak-anakmu itu kamu selalu memposisikan diri sebagai teman ya?”
“Enggak, aku menempatkan diriku sebagai fasilitator”
“Lah kenapa? Bukannya gitu ya caranya biar bisa dekat dengan anak-anak didik?”
“Mereka tidak butuh teman, karena mereka sudah punya banyak teman. Di sekolah, di rumah, di tempat-tempat belajar lainnya. Tapi mereka butuh fasilitator, untuk menolong mereka menghadapi kemarahan, menghadapi rasa bersalah, menghadapi rasa tidak percaya diri, dan menghadapi banyak tantangan lainnya yang seringkali melibatkan emosi. Itu semua tidak bisa dilakukan oleh SEORANG TEMAN.”

Awalnya saya sangat sepakat dengan apa yang disampaikan oleh Mbak Tiyas, terutama pada bagian kalimat terakhir. Seorang Fasilitator adalah jembatan bagi dunia anak dengan dunia ideal orang dewasa. Bagi saya, apa yang dikatakan oleh Mbak Tiyas sebagai ‘kerja yang hanya bisa dilakukan oleh fasilitator’, tidak mungkin dikerjakan oleh seorang teman. Sehingga, memposisikan diri sebagai teman bagi anak, akan menyulitkan kita membantu anak menghadapi masalahnya.

Penulis bersama Anak-anak

Namun setelah saya renungkan lebih dalam, terutama setelah melakukan kilas balik ingatan dan juga membaca beberapa naskah, saya fikir apa yang dikatakan oleh rekan saya itu ada benarnya, namun ada juga titik lemahnya.

Bagi saya, posisi kita terhadap suatu persoalan mempengaruhi tindakan atau sikap kita atas suatu persolan, hal ini juga berpengaruh pada respon yang diberikan oleh anak kepada kita. Saya teringat akan cerita Mas Didit, salah satu rekan Romo Mangun di Code sebagaimana ia tuturkan dalam Diskusi Refleksi 30 Tahun Gerakan Anak di Indonesia yang didokumentasikan oleh Save the Children dan SAMIN dalam buku Bikin Jalan Sambil Berjalan. Suatu waktu Mas Didit sedang ’nongki’ di dekat Stasiun Tugu, tak lama perhatiannya tertarik oleh anak-anak yang sedang malakukan transaksi seks. Kemudian ia mencoba berdialog dengan anak tersebut. Namun ketika ia bertanya, pertanyaan Mas Didit malah dijawab anak itu dengan : “om duitnya om.. “. Ia heran, “kenapa kalau Saya yang tanya, kok dimintai duit. Sedangkan kalau yang tanya temannya sendiri, tidak dimintai duit”.

Mas Didit berpikir, “kalau saya bagian dari mereka mungkin tidak akan dimintai duit lagi”. Akhirnya ia memutuskan untuk menjadi bagian dari mereka, ia memulung. Ketika ia memulung ia tak lagi dimintai oleh anak-anak. Malah ketika hasil mulungnya kehujanan, ia diberi makan atau dilindungi. Dari situ kita bisa melihat, untuk masuk kedalam persoalan yang lebih dalam, kita perlu menjadi bagian dari komunitas itu sendiri. Dalam konteks fasilitator atau teman tadi, medium yang paling bisa mendekatkan kita dengan dunia anak adalah memposisikan diri kita sebagai Teman, tentu tanpa meninggalkan perpektif fasilitator kita. Jadi ada teman, ada fasilitator dan ada pula teman yang memainkan peran fasilitator. Saya kira ini tiga hal yang berbeda.

Ketika saya menghadapi anak-anak kelas 6 yang beranjak dewasa, saya selalu mencoba menjadi bagian dari mereka, menjadi teman mereka, saya membuat titik temu-titik temu antara dunia mereka dengan dunia saya : memainkan game mereka, berbicara tentang Trending di Sosial Media dan lainnya. Dengan cara seperti itu, saya merasakan perbedaannya. Sikap mereka menjadi lebih terbuka kepada saya. Misalnya saja hari ini, Ci dan Be cerita tentang kisah percintaan mereka: sejak kapan mereka mulai suka, dengan siapa saja mereka suka hingga sejauh mana aktivitas pacaran yang mereka lakukan. Itu semua mereka ceritakan selayaknya mereka curhat kepada teman sebaya. Dari situ saya belajar, kadang anak-anak tak memerlukan nasehat orang dewasa, namun memerlukan persolan mereka dimengerti oleh orang dewasa. Sulit untuk membuat mereka membuka kisah remajanya ketika kita, orang dewasa, membuat jarak antara teman dan fasilitator.

Namun saya juga barangkali belum sepenuhnya bisa dekat dan mampu memahami anak, saya rasa saya masihlah ‘kaku’, tak jarang pikiran untuk menyeragamkan, mengatur dan memaksa masih timbul tenggelam. Bisa saja, Mbak Tiyas yang menempatkan diri sebagai fasilitator tadi, sesungguhnya dalam kehidupan nyata malah menempatkan diri sebagai teman. Sedang saya, yang dalam pikiran menempatkan diri sebagai teman plus, ternyata masih menempatkan diri sebagai fasilitator an sich. siapa tahu?

Yogyakarta, 30 Agustus 2018

Ubaidillah Fatawi

Written by

Facilitator @Sanggar Anak Alam Yk-INA. Menulis pengalaman menjadi rekan belajar anak-anak.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade