Karena Tanggung Jawab Itu Bukan Hal Yang Sederhana

Picture diambil dari Quotefancy

Ditahun 2016 ini dan dikalangan anak muda -karena yang saya rasakan ya berada dikalangan anak muda. *cie masih muda, cie* - tanggung jawab adalah hal yang semakin susah ditemukan.

Kenapa mendadak ngebahas ini Cup? Karena mendengarkan curhat seorang teman dekat sekali bercerita bahwa dia secara nggak sengaja menjatuhkan iPhone temannya.

Dengan kronologis: Dia baru datang ke kelas kemudian mau duduk, ketika menarik kursi yang ternyata iPhone temannya ada diatas meja — yang ketutupan kertas banyak — yang posisinya ada diujung dan — yang kabelnya ternyata terlilit dikursi.
Tentunya bisa ditebak dong apa yang terjadi berikutnya setelah kursi ditarik? Ya iPhonenya jatuh dan pecah dibagian LCDnya.

Doi bertanya “aku salah ga ya bang?” — secara diliat dari kronologisnya sih kalo *menurut saya ya…* Dia ga salah, kenapa?

  1. Dia ga tau ada iPhone disitu dan KENAPA TEMENNYA NARUH IPHONE DIPINGGIRAN MEJA?
  2. Dia ga sengaja, ya wajar orang mau duduk kursinya ditarik dan iPhone nya berada dikondisi yang ga keliatan

Tapi kemudian saya tanya “kamu niat mau ngegantiin?” — setelah saya kasih tau hal diatas sih saya pikir dia ga akan ngegantiin tapi nyatanya

“Iya aku mau ngegantiin aja, ga enakeun da tetep kudu tanggung jawab mah

Jawaban yang diluar dugaan sih bagi orang yang kaya dia. Disaat jaman sekarang jarang banget orang yang bertanggung jawab dan dalam posisi 50:50 antara benar dan salah tapi ini suatu pertanda bahwa masih ada orang baik diluar sana.

Layaknya kamu meminjam atau membawa sesuatu punya teman ya maka kembalikan lah dalam kondisi semula itu sudah hal wajar dan standar *…lagi lagi menurut saya*

Kalo hal diatas tidak dijadikan acuan sebagai hal yang standar, maka enak dong:

”Saya punya mobil, kamu pinjam mobil saya, dipake seenakannya, dibalikin kondisi bensin abis. Kalo tau begitu ya dari pada saya punya mobil sendiri lebih baik pinjam nanti toh tinggal dibalikin” — ditambah pinjem mobilnya ga ijin (ini sih kebangetan)

Guru saya tercinta @aagym mengajarkan

”Kalo kamu pinjam motor orang ketika kembalikan maka isilah bensinnya, cuci motornya, pompa bannya. Kembalikan dalam kondisi yang jauh lebih baik dari ketika kamu pinjam! Walopun kamu gak pake kotor-kotoran, awal kamu pinjem bannya juga udah kempes, bensinya emang udah sekarat. Kamu udah pinjem ya harus punya jiwa terhormat buat ngebalikinnya jauh lebih baik, karena kamu ga mampu beli motor jadi kalo pinjem ya harus terhormat bisa mengembalikkannya lebih baik walopun yang punya ga memintanya! Jangan sampe kamu berhutang budi sama orang lain!”

Padahal dia harus sampai bongkar tabungan untuk ngeperbaiki iPhone temennya yang tentunya ga murah. Suatu hal yang salut sih demi harga diri dan tanggung jawab.
Lebih baik menyelesaikan ini bongkar tabungan, pinjem sana sini dulu dari pada mengemis-ngemis keliatan ga mampu memperbaiki, blaming kesalahan pada orang lain dan ujungnya kabur karena ga mau disalahkan dan kehilangan kehormatan karena gak bertanggung jawab… Apalagi sampai bawa temen cerita hal yang ga seharusnya supaya merasa dirinya nggak disalahkan.

Mental kere dan suka gratisan itu kudu diilangin. Ga enak jadi tangan dibawah, lebih baik tangan diatas. Kalo belom mampu jadi tangan diatas, terhormatlah untuk tidak meminta-minta dan mengemis.


Karena masalah akan selesai jika dipertanggung jawabkan

Jadi masalah yang terjadi ya memang harus dihadapi mau kabur kemana pun gak akan menyelesaikan masalah, jalan satu satunya ya hayati, hadapi, dan nikmati *…lagi lagi rumus dari guru saya* — karena episode orang ga selalu diatas dan selalu berputar yang kadang kala ada dibawah dan setiap episode yang terjadi pasti ada hikmahnya tinggal gimana kamu mau mengurai dan bertanggung jawab tidak dengan kondisimu.

Ntahlah tulisan ini enak dibaca atau nggak tapi saya ingin menulis aja dikala senggang- kalopun kalian ngga setuju dengan pendapat saya diatas ya silahkan karena sudut pandang tiap orang berbeda, saya hanya mengungkapkan beberapa point of view yang ya ada diotak saya dan tentunya dengan segelas kopi sore.

…Oh ya kalo ada yang merasa sebagai pemeran diatas dan ngga berkenan untuk ditulis monggo silahkan japri saya dan saya tidak menjadikan salah satu orang dari cerita ini tersangka dan terdakwa, ini hanya tulisan opini saya :)