Kita Di Sini Karena Kesempatan Kedua

http://www.zazzle.com/zz_templates

Dari bebeberapa kali saya ikut proses perekrutan panitia acara kampus, adu argumen menentukan siapa yang diterima sudah jadi hal yang lumrah. Beda pendapat biasa terjadi karena setiap panitia inti punya pandangan masing-masing dalam merekrut anggota. Salah satu yang saya ingat adalah ketika saya berdebat soal keputusan yang mau dibatalkan karena pendapat panitia inti lain tentang performa yang bersangkutan di kepengurusan yang berbeda.

Menurut saya, orang-orang yang berhasil melewati proses wawancara lebih baik dibanding calon-calon lain layak mendapatkan kesempatannya. Saya yakin prosedur wawancara ini punya maksud dan selayaknya dilakukan dengan serius untuk mencapai tujuannya. Kalau pada akhirnya pendapat panitia inti lain bisa menentukan kelolosan seseorang, untuk apa kita harus bersusah-susah mengadakan proses wawancara?

Saya membela hal ini karena saya percaya tidak ada kepengurusan yang ‘terlalu eksklusif untuk menerima yang belum berpengalaman’ dan tidak ada kepengurusan yang ‘terlalu sempurna untuk menerima seseorang yang pernah berbuat salah’. Setiap orang berhak atas kesempatan untuk berubah dan menebus kesalahannya.

Tidak ada kepengurusan yang terlalu eksklusif untuk menerima yang belum berpengalaman ataupun terlalu sempurna untuk menerima seseorang yang pernah berbuat salah

Aktifnya saya di beberapa kepengurusan juga tidak lepas dari kesempatan kedua yang diberikan pada saya dulu. Saya termasuk mahasiswa yang menghabiskan kesempatan untuk aktif di senggangnya semester awal dengan kuliah-pulang-kuliah-pulang. Sampai akhirnya saya merasa ingin terlibat dan memutuskan mendaftar masuk himpunan sebagai mahasiswa ‘cukup umur’ dengan nol pengalaman organisasi.

Jika ditentukan dari rekam jejak, tentu posisi saya sudah diisi oleh mahasiswa lain yang lebih berpengalaman. Tapi kesempatan kedua yang diberikan pada saya ini nyatanya membawa saya ke lompatan-lompatan lainnya.

Saya yakin keberadaan siapapun kita sekarang tidak lepas dari kesempatan kedua, begitu juga dengan mereka yang dulu disepelekan dan kini telah jadi ‘seseorang’ di bidangnya. Semua hal yang dulu pernah kita tahu mungkin juga sudah berubah sekarang.

Lalu apa yang membuat kita tidak bisa memberi kesempatan kedua?

Saya percaya pada kesempatan kedua. Saya percaya bersama jalannya waktu, semua hal bisa berubah. Bukan berarti kembali menerima ‘masa lalu’, tapi lebih pada memberi kesempatan dan menghidupi ‘saat ini’.

Seize the day.

Tangerang, 22 Maret 2016