Bagaimana menjadi Software Engineer yang lebih baik setiap harinya?

Ilustrasi berdiskusi di cafe

(cerita fiksi)

Yogyakarta 4 November 2018

Zzzt..Zztt.. terdengar suara hp bergetar di atas meja kerja di kantor. Getaranya sangat mengganggu konsentrasi. Beberapa waktu telah berlalu, namun BUG ini belum juga diselesaikan. Jenuh dan lelah membuat jemari ini gatal untuk membuka pesan yang masuk.

Don, Zak njaluk nomermu. Wes tak kei. Mbuh meh ngopo ra ngerti

Sebut saja Kopetsy, bukan nama sebenarnya. Pesan whatsapp dari sahabat sejak masa kuliah. Kopetsky adalah teman bermain PES sejak Playstation 2. Kami suka melakukan kompetisi tidak jelas, yaitu pertandingan PES 2 vs 2. Biasanya dilakukan disaat weekend. Kopetsky merupakan pemain PES yang tangguh dikala itu.

ok, Thanks

Jawabku singkat. Alis berkrenyit, hmm. Ada apa nih tiba-tiba Zak mencari nomer hp ku. Ah sudahlah, masa bodoh, kembali ke laptop adalah keputusan terbaik saat itu. BUG ini harus segera ditangkap dan diadili segera. Dan waktu pun berlalu…

Dia bisa berubah, kita juga bisa

Bro lagi sibuk ra?” pesan whatsapp dengan nomor tidak dikenal muncul di notifikasi Hp Oppo A37 warna hitam milik kantor ini. “aman. gmn”, jawabku singkat. “Tak telpon naknu ya” “ok”

Percakapan di telpon :

Hi Pie kabare”
“Apik apik wae”
“Ngerti aku ora”
“Reti, Zak to. Haha”
“Kok Reti, haha”
“Wingi dikandani Kopetsky”

Begitulah kalimat basa-basi yang diucapkan untuk membuka percakapan. Zak adalah orang yang dulu sangat bersemangat. Seingatku saat kuliah dulu. Dia tidak menyelesaikan studi dan memilih jalan lain untuk ditekuni. Bisa dikata jarang sekali masuk ke kelas, terutama pada semester ahir. Sampai aku sudah lulus sudah tidak pernah melihat atau mendengar kabar dari Zak. Sepertinya dia menyerah di pertempuran studi ini, dan memilih pertempuran di tempat lain.


Singkat cerita Zak mengajaku bertemu dan ingin berdiskusi. “Aku ingin membuat Startup” Seketika pikiranku melayang dengan sejuta pertanyaan tanpa jawaban. “Startup tentang pendidikan sih, aku pengen diskusi” Bak disambar petir ⚡️⚡️⚡️. Hebat sekali, pikirku dalam hati, aku tidak punya keberanian sebesar itu untuk membuat startup. Semakin muncul banyak pertanyaan yang mengusik pikiranku. Sebagai Software Engineer, kata startup seakan mengetik keyword “Startup” ke dalam Google. Maka akan muncul banyak sekali halaman web yang merupakan hasil pencarian yang akurat. Pikiranku bercabang, namun segera kualihkan dengan bertanya “Startup kaya apa sih?”


3 Jam diskusi yang panjang pun berahir, dan waktu yang singkat ini mungkin dapat membuatku berfikir ulang terhadap dogma yang telah aku pelajari selama ini. Satu frase yang teringat dari diskusi ini adalah “Break the limit” lampau batasmu sendiri. Wah, brilian sekali kalimat ini. Pada menit ke tiga, saya pun tercengang. Terdengar seperti judul clickbait pada website berita Trib*n Jogja. Tapi kenyataanya saya memang terkagum pada perubahan sosok Zak. Persona yang ku ingat terahir kali adalah dia sosok yang senang bersenang-senang seperti minum minuman keraz, ngeband, street dance. Persona ini pun menjadi sirna setelah berjumpa kembali 8 tahun kemudian, yaitu hari ini. Saya pun kagum, sekagum-kagumnya. “Aku dulu punya bisnis jahat, namun sekarang sudah stop. Dan mau berubah.” Kemudian saya pun memberanikan diri dan bertanya, “Ada apa? Kok bisa?

(nantikan kisah selanjutnya)