Ulfi
Ulfi
Aug 9, 2017 · 1 min read

Dalam hidup ini, aku hanya menyukai dua tempat. Kamarku dan halaman rumahmu. Tempat dimana aku bisa merasa beruntung dari siapapun. Ibuku tak pernah membiarkan kamarku diisi oleh sesuatu kecuali kasur dan lengang. Dari sini, aku berkenalan dengan remang. Ia pernah memperkenalkan diri, katanya ia adalah serpihan senja yang tak mau diseret menuju malam. Kamu tahu? Ia takut gelap, sama sepertimu. Aku menemukannya duduk di jendela kamarku, menangis. Ia sunyi yg tak ingin sepi.

Lalu di halaman rumahmu, aku menemukan laut dan teduh. Mereka bersarang di bola matamu dan satu pohon yg kesepian. Aku tahu terkadang remang bermain dan bertengger di pohon depan rumahmu. Memperdebatkan warna langit yang tak pernah selesai. Membicarakan lengang yang menghinggapi jalan-jalan di tengah hutan. Menanggapi makhluk-makhluk kecil yang menyelinap melalui udara hujan dan membawa waktu--masa lalu, dan tempat--jendela rumah ibu yang jauh. Menerka-nerka manusia yang bergerombol dan tertawa, apa yang membuat mereka sangat bahagia?

Halaman rumahmu, darinya aku menyelam. Bola matamu tak pernah punya palung yg dangkal. Hitam dan pekat, atau putih tak berujung. Aku tahu baruna bersarang di bola matamu. Ia yang mendayung sampai langit dan melukis warna kelabu. Warna kesukaanmu dan pohon yang kesepian.

Setiap hari kamu duduk di halaman rumah, melepas baruna ke angkasa dan mengamati pohon yang kesepian. Setiap hari aku duduk di jendela kamar, mengamati halaman rumahmu dan berbicara pada remang. Karena dalam hidup ini, aku hanya menyukai dua tempat. Kamarku, dan halaman rumahmu. Tempat dimana aku bisa merasa beruntung dari siapapun.

Ulfi

Written by

Ulfi

suka bingung.