tak pernah jelas

Kemarin, aku bertemu dengan seseorang. Aku panggil ia sepi, atau sepi yang berteriak. Di dalam matanya, aku menemukan sunyi. Ia sedang berceloteh pada bintik buta mata milik sepi. Sedang mulutnya terkatup rapat, sepertinya sudah bertahun-tahun ia menelan suaranya sendiri.

Lalu aku bertemu seseorang. Ia menyebut dirinya mata, mata yang kelelahan. Sebenarnya, aku tak melihat raut lelah di wajahnya. Tetapi matanya, sepertinya ia akan buta dalam hitungan hari. Ia tidak bisa membedakan dimana ramai, dimana damai, dimana bunyi, dimana sunyi.

Kemudian aku betemu seseorang. Dia tak dikenal, tak punya nama.Aneh, entah kenapa aku menyukainya sesekali. Ya, sesekali, detik berikutnya tidak, detik berikutnya iya. Akhirnya kami sepakat memanggilnya aku.

2016

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.