“Dadamu; Mata yang Menatap dengan Malu-malu…”

pagi adalah embun yang mengintip penuh rahasia pada semburat rambutmu kala itu — layak mimpi-mimpi yang basah dan wajahmu yang membasuhnya dengan senyum ramah itu.

jika boleh kukatakan. dadamu; mata yang menatap penuh malu, meratap penuh doa yang lalu, dan amin yang telah lama hanyut ditelan tindak tercela kita semalam. kamu masih jalang, dan aku tak henti-hentinya menyerang.

ku temapatkan kita berdua sebagai pendosa pada puisi ini. sebab kata demi kata tidak mampu mencium bibirnya masing-masing — tak selihai kita bukan? sebab itu aku ada, menjadikanmu tulisan-tulisan penuh nafsu.

ranjang, alat kontrasepsi, puntung rokok, segelas kopi, pakaian dalam dan tisu adalah taman kanak-kanak kita bermain-main. melupakan hal lain-lain, kita adalah anak-anak yang sedang bermain petak umpet dari kedewasaan diri masing-masing. kau hitung satu sampai sepuluh penuh birahi, jangan tatap aku, pejam saja. cukup.

ada yang terlupa. punggungmu; tempat mengendus ternyaman di taman ini — tempat ranjang megahmu tumbuh, tempat bagi pakaian dalamku terbasuh. puntung rokok dan segelas kopi? anggap saja mereka kata-kata yang sedang bercinta dengan lucu-lucunya, layak macet kota yang tiada henti-hentinya.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Mad Ulil Ayidi’s story.