Halte Dekat Stasiun UI

Surat untuk kekasih (Desny Putri Sunjaya).

1/

Yang lalu, hilang aku tak berkabar padamu dalam kurun waktu yang cukup lama. Namun, sesungguhnya akulah yang benar-benar merasa kehilangan saat itu.

Hari-hariku tanpamu tentang pencarian, aku seorang petualang yang sempat tersesat di peluk wanita lain.

2/

Kutemui engkau masih dalam keadaan sama, usia kau makin menua hari demi harinya. Tapi paras itu yang kupuja selama ini, kepandaianmu juga kusalutkan. Kau tiada tanding.

Kita kembali bertukar kabar kembali. Aku yakin kau kecewa atas hilangku, teruntuk itu aku kembali dalam keadaan seperti dahulu, seperti sediakala pertama kalinya berusaha aku untuk mengenalmu lebih jauh. Membacamu kian dalam.

Kau makin menawan dan lucu ternyata. Dungu aku sempat sia-siakanmu tanpa berusaha mencari pula. Aku akui akulah lelaki terbodoh di muka bumi yang pernah Tuhan ciptakan. Aku sangat menyesali itu semua.

3/

Akhirnya kita jumpa, banyak cerita dan juta-juta tanya mengudara dari bibir tipismu. Kita membicarakan tentang perkuliahan masing-masing, keluarga dan bahkan sedikit menyinggunng hal semacam ‘mantan kekasih’.

Di kafe itu, dalam lahap dan laparku, kusempatkan pertemukan sepasang mata ini pada kedua bola mata indahmu. Aku suka caramu yang malu-malu ketika mata kita bertemu.

Kita mengabadikan rasa bahagia dalam beberapa bidik kamera telepon genggangmu. Sungguh aku senang. Semoga engkau juga.

Pembicaraan-pembicaraan yang lain berujung pada kebingungan baru. Kau mengajakku berkeliling malam itu, di perjalanan terkadang kita membisu dan ada kalanya kau menanyakan hal-hal yang kau pertanyakan, dan aku lebih banyak bercerita ketimbang menanyakan kembali pertanyaan-pertanyaan yang kau lontarkan.

4/

Dari DETOS hingga Margo City, dialog kita hanyut pada puisi-puisi yang aku suka dan perlombaan baca puisi yang pernah kau menangkan juga. Oh iya, malam itu lebih tahu akan hal yang belum pernah kau beritahukan sebelumnya. Kau gemar menulis cerita-cerita pendek. Mesti jarang.

Toko Gunung Agung di dalamnya kita, bersama buku-buku yang tersusun sedemikian rupa. Di sana kau bercerita juga bahwa kau senang membeli buku bacaan anak untk bahan ajarmu kepada murid-muridmu yang lucu-lucu itu.

Sempurna. Sewaktu-waktu semoga Tuhan menyempatkanku untuk melihatmu mengajarkan apapun kepada anak-anak kita nanti. Semisal kita memang berjodoh. Amin.

5/

Malam makin menghitamkan diri, aku tahu kau lelah berjalan terus dan akupun merasakan hal yang sama, tetapi kita malah melanjutkan perjalanan menuju pulang ke indekosmu dengan cerita yang sedikit tertahan.

Di dalam angkutan umum itu, kita membisu, sesekali aku memanggil namamu dan kamu tersenyum padaku.

Aku sengaja menahan-nahanmu, aku masih ingin bercerita dan mendengarkan ceritamu lebih lama lagi malam itu.

Kau mengajakku untuk berbicara lebih lama di halte depan stasiun Universitas Indonesia — kampusmu yang tercinta itu. Hitam malam makin pekat dan hiaju dedaunan juga ngin dinginnya menancapi kita. Teduh aku dekatmu di sana malam itu.

Cerita berlanjut ke hal-hal yang lebih intim, hingga akhirnya kita membicarakan perihal anak-anak yang sudah berpacaran, pekerjaan dan lainnya.

Sedari awal kutemui kamu di depan indekosmu itu, sesungguhnya rasa nyamanku telah tumbuh, berlama-lama denganmu rasa itu makin mengada-ngada. Kuharap kau juga merasakan apa yang kurasakan malam itu.

Dan, pada akhirnya. Kereta terakhir tak lama lagi menjemputku, Gelap malam seakan-akan menahanku kala itu. Ada yang mengganjal, harus aku ucapkan tapi bibir ini kelu. Dengan malu-malu aku usahakan jujur padamu, kau juga tampaknya sama salah tingkahnya seperti aku.

Dan, dengan cara yang aneh akhirnya kita berdua memutuskan untuk berbahagia malam itu juga. Kupasrahkan diri untuk kau cintai dan menjadi milikmu, kuharapkan kamu juga mau untuk selalu menjadi kekasih hatiku ini.

4 Juni 2016, Halte dekat Stasiun Univ. Indonesia. (Tanggal dan Tempat jadi kita).

Semoga esok, masih banyak kebahagiaan dan cerita-cerita lucu yang akan selalu iringi langkah kita. Semoga kita dapat menjadi pribadi yang mampu saling menguatkan satu sama lain, dan saling mendoakan hal-hal baik untukku dan untukmu.

Salam sayang, kekasihmu.

Ulil Ayidi.

Like what you read? Give Mad Ulil Ayidi a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.