Mengunjungi Tokyo


Mengenalmu, aneh rasanya. Aku merasa hidup sebagai warga di sebuah kota yang memiliki jumlah kepadatan penduduk kedua setelah New York. Barangkali juga aku seorang turis yang sedang mengunjungi Tokyo untuk sementara waktu saja.

Hari-hari mengenalmu. Kubayangkan berpuluh-puluh kali tentang isi padat pada kepala, akan dirimu yang menyesakkan seisinya serupa Tokyo dengan segala macam rutinitas yang tiada matinya.

Kubayangi pula matamu sebagai lampu-lampu kota Tokyo yang indah tatapannya di sepanjang malam, di seluruh jalan dan tampak indah meski kau dan aku berjauhan.

Hadirmu sempat meramaikanku dan membangun kesibukkan, hari-hari jauh lebih ramai. Mirip sekali dengan jalanan di depan perkantoran — lautan manusia, semerawut kendaraan dan apa saja.

Datang dan pergimu secepat kereta-kereta di sana. Benci aku sebenarnya dengan hal-hal menyusahkan semacam terjebak selama dua jam di dalam gerbong kereta, yang padat dan sesak akibat perkelahian-perkelahian antar warga-warga bodoh di ibukota negara kita. Jujur, aku mencintai kemajuan transportasi di Tokyo namun di lain sisi aku membenci kata pamit darimu secepat mereka. Bisakah kata-kata itu terjebak sesaat saja dalam keraguanmu yang mendalam dan lama? Kadang kala, aku mengharapkan kamu menyerupai kereta-kereta di Jakarta; gemar berlama-lama.

Tapi kita sama-sama tahu bukan? Kita gemar mengadopsi teknologi-teknologi dari sana, sayang saja. Orang-orang kita lebih menyukai sesuatu yang ‘bekas’. Dari segi apapun.

Aku benci hal-hal instan semacam mie dan kopi, maka aku tak pernah menyeduh keduanya. Begitu pula dengan hubungan instan, aku lebih suka hubungan semacam rumah makan sederhana, atau restoran Sushi, Tempura, Udon dan Teriyaki di Tokyo sana — orang di Tokyo sana lebih mengerti apa itu arti berjuang; mencari, mendapatkan, mengolah, membuahkan dan mempertahankan eksistensinya.

Aku ingin seperti mereka, denganmu saja.

Tokyo dan kehadiranmu adalah hal-hal kesukaan. Tokyo dengan segala aspek berbudayanya sangat memikat wisatawan semacamku. Sedangkan kamu; kerumitan yang sejujurnya mengganggu. Namun di pandang dari aspek manapun. Kamu adalah keutuhan, untuk aku yang belum tergenapi ini. Kamu adalah kekuatan, bagiku yang lemah.

Jika aku seorang warga negara, sebelum aku benar-benar berpindah warga-kenegaraan. Aku ingin sekali berpindah, mencari negara lain. Berusaha melupakan segala macam urusan kita. Tapi, bolehkah aku kembali menjadi warga negaramu? Sekali lagi.

Jika aku seorang turis, sebelum aku benar-benar di deportasi dari kehidupanmu yang baru. Aku ingin mengucapkan terimakasih atas kecupan yang pernah kau berikan, dan selamat beristirahat dari kunjunganku.


Atau.

Sewaktu-waktu aku ingin hilang di sana — Tokyo, dan kembali menemukanmu atau di temukan olehmu pada puisi-puisi yang lain.

Jika kau mencariku, kau tahu kau harus ke mana.

Jika nanti aku akan mencarimu, aku belum benar-benar tahu, di mana keberadaanmu dan masihkah kau menungguku untuk menjemputmu?

Meski sebuah kepastian dalam hidup adalah ketidak-pastian itu sendiri.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.