“MENJUAL DIRI SENDIRI”


Aku ingin menjatuhkan diri saja, pada pekat malam yang kantuknya menggantung di ujung matamu itu, aku ingin tertidur pulas pada lubang pipimu yang dangkal kedalamannya, menjadikanku merasa gemas, menghilangkan sudah rasa cemasku, menjadikanku sesederhana senyum dan gaya tidurmu.

Jangan lagi kau tangisi kegelisahan-kegelisahan sebab perpisahanmu dengannya, aku juga ingin sewaktu-waktu datang menjumpaimu dalam adegan komedi yang pas. menari-menari penuh gerakan tidak pantas. agar kelak, kutemui gelak tawamu yang galak itu; memarahi air-air mata yang terjatuh menjauhi matamu.

seperti malam-malam yang lain. aku ingin menjual diri sendiri dengan harga terendah, agar kau dapati kebahagiaan dalam bentuk kesederhanaan, bukan lagi keserakahan atau ketamakkan itu. berharap, pelukmu masih sehangat tungku ibumu, yang mendekap tulus dingin dadaku.

kelak. bila tiba masa di mana tak ada lagi keraguan untuk mencintaimu kembali, aku akan pulang dari rantauan ini. kau muaraku. biarlah sudah perdagangan ini melabuhkan dirinya pada apapun yang ada padamu, atau barangkali pada tempat di mana pernah ada aku dan kamu di sana.

Like what you read? Give Mad Ulil Ayidi a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.