Puisi tidak Suka Menggantungkan Dirinya Sendiri

Kelam malam ini kejam, cekam-cekam menakuti jiwa yang dini. Malam ini, aku bagaikan seorang anak kecil yang sedang tersesat di sudut kafe kesukaanmu, berharap datang sudut senyummu itu, tak ada tapi.

Angin yang menyelinap masuk melalui jendela yang sedikit terbuka itu mencabik-cabik tiap kerinduan, rindu akan sebuah kecup dan hangatnya peraduan kedua dada; kita.

Hitam langit tak berbulan di puncak kepalaku untuk saat ini. Menghitamkan semua macam rasa. Hanya ada kunang-kunang yang menggantung bagaikan lampu di sana. Redup cahayanya.

Banyak buku-buku di atas meja melacurkan dirinya masing-masing. Sebab mata seketika buta, sebab langit masih saja bermuram dan barangkali sang rembulan sedang bercuti hingga tak ada di atas sana.

Nyala-nyala suara, sepi-sepi menghilang. Kini hanya tersisa secangkir pahit pada kopi yang lupa di teguk. Tak ada lagi dahaga di sudut puisi ini. Barangkali aku butuh secangkir atau lebih hal-hal yang lebih manis, umpama menempatkan kerinduan yang hanya untukmu. Pada cara tawamu.

Tak ada lagi kibar, belai matamu. Dan ucapan-ucapan itu yang merayu-rayu. Tolong sekali saja, kau bisikkan yang indah. Cerita perihal kemarin atau senyummu di esok pagi. Yang sejujurnya tak dapat kumiliki lagi.

Di ujung jalan sempit dan gelap, ku kirimkan bermacam harap pada cahaya yang tiada, untukmu yang kini tiada. Semoga, di pelukan puisi yang lain kau temukan makna yang berbeda — berbahagialah saja.

Biarkan diriku menggigil sendiri, dan menggantung, dan menggantung. Meragukan keraguan, tak ingin segera berakhir di ujung akhir kata-kata di puisi ini.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.