Sesunggunya Cinta dapat Membunuhmu

Ketika di dalam gua, kau sendiri menempel pada rahimnya, tumbuh gema-gema dalam rongga kerongkongan. Kau ingin berbicara saat itu, tapi hanya hampa yang membaur di sekitarmu dalam gelap saja. Tidur saja, pejamkan sadarmu sementara, mungkin dalam mimpi kau akan hidup dalam sebuah kemewahan, penuh perayaan dan cahaya harap, kau juga akan berdansa dengan pangeran tampan hingga kau mabuk semalaman. Lalu, gua di dalam badanmu tak lagi hampa, akan ada dirinya yang berdansa-dansa juga di sana.

Ia menjanjikan padamu sebuah istana dan kerajaan yang agung. Kau tak lagi hampa, hina di tengah keramaian bukankah lebih indah ketimbang kau suci dalam kesendirian?

Namun, ketika bangun tidurmu, kau temui diri sendiri sebagai setubuh mayat yang tak lagi utuh, dingin keningmu, tak lagi nadimu berwara-wiri dalam detakmu, kini dalm detikmu kau hanya sebatas mayat tanpa lengan dan kaki yang entah hilang ke mana, namun di dalam gua yang lain — perut mungilmu, tumbuh besar anakmu tanpa ibu dan seorang bapak yang entah bersembunyi di mana.

Sesungguhnya cinta dapat membunuhmu. Atau, cinta yang begitu gila memaksa dirinya agar dapat membunuhmu.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.