Surat Cinta Untuk Kursi dan Pendingin Ruangan yang Sekarat di Kampus Tempat Saya Berkuliah

Sayang memang, banyak sekali mata juga tiada mulut yang cakap tentang cacat fisik kalian di sana. Mata-mulut mereka terpaku cerita-cerita lama si dosen tua.

Kursi reot dan pandai menggoyangkan diri. Pendingin ruangan hanyalah pajangan bagi kelas yang panas bagai sauna.

Kemana habisnya uang kuliah saya dan mereka?

Mungkin di telah habis bapak dan ibu bertitel doktor itu, mungkin juga mereka dan saya (kebanyakan dari kami kalangan elite dan doyan berfoya-foya) hanya dicipta untuk merusak. Entah otak atau mencipta pribadi palsu penuh pencitraan bangsat.

Atau barangkali kepala jurusan lebih merindu kenangan ketimbang menghadirkan hal-hal baru di seluruh isi kelasnya.

“Bangku ini sudah lama reot dan bengkok pak, tak kau buang saja dan ganti yang baru?” tanya saya setengah membentak! tak-tak.

“Oh. Jangan, dulu kursi itu pernah diduduki oleh simpanan saya, dia kakak tingkat anda yang baru saja menyandang gelar sarjana bulan lalu” Jawab beliau setengah membatuk! uhuk.

Anjing!! Umpat saya dalam hati.

Anda tainya. Bapak tua berbisik.

Mahasiswi yang juga saya pacari itu diliriknya. “Kamu kepanasan ya? Beres kelas saya, mampir sebentar ya ke ruangan saya, ada hal penting yang mau saya bicarakan” goda si tua bangka.

Keparat!! Batin saya membentak-bentak.

Tapi saya sadar betul, pacar saya butuh jajan dan si bapak butuh ayam.