Teruntuk Puisi, Terkutuk Kau.
1
Pada senja yang tua usianya. Tampak sebuah puisi yang ramai ubannya, acak-acakan janggutnya.
Puisi itu letih dan usianya lebih tua dari senja, sedang ngaso di teras rumah peninggalan kolonial, yang berderit lantai kayunya, termakan rayap juga atap-atapnya.
Digenggaman Puisi ada secangkir kata yang dibuatkan oleh Ibunya sejak hari sedang bolong-bolongnya, secangkir kata itu sudah mendingin kini — menjelma kalimat sepi tanpa wanita yang penuh tanya.
Aroma tubuh wanita yang dicintainya adalah paragraf yang pergi — merantau menuju Ibukota tapa sedikit pun mengingat Ibukata. Ia menjemput malam, menuju mimpi. Puisi yang tua itu masih saja ngaso hingga malam sedang pekat-gelapnya, tak sedikitpun disetubui oleh wanita yang dicintainya.
Pada senja yang mati usianya.
Aroma kata-kata mewujud wanita dan tiba untuk menjenguk Ibu Puisi, paragraf itu ada kini menjelma cinta yang penuh tanda tanya yang berterbangan ke mana-mana yang bingung hendak bermuara di mana.
“Ke mana Puisi reot itu pergi, buk?” tanya Cinta.
“Mungkin puisi sedang ngaso di Surga” jawab si ibuk yang matanya basah.
“Ia menitipkan secangkir kata untukmu” lanjutnya.
“Apa katanya?” Cinta bertanya-tanya.
“Jangan lupa minum Puisi” kata Ibu Puisi yang keriput lembar tubuhnya.
Cinta diam, mewujud kembali sebagai paragraf yang pecah, menjelma senja. Kata-katanya berpisah. Menjadi gundah yang jingga warnanya.
2
Di atas bumi Puisi yang baru Senjanya, jauh dari putih awan-awan, tujuh lapis tingkat lantainya. Puisi memutih dan menjadi muda kembali — hilang seluruh uban dan runtuh jenggotnya.
Ada Bidadari jatuh, pernah sayap tumbuh dipunggung emasnya — kini tiada lagi utuh.
Bidadari yang cantik itu berlari-lari kecil, ringan langkahnya dan tak menapaki lantai yang terbuat dari benang-benang awan itu. Ia membawa senja ganda di balik kelopak mata yang ranum warnanya. Ada yang sedang ngaso di hadap tatap senja ganda itu — Puisi muda.
Puisi sadar, ia sedang diperhatikan, lekas segera ia rapihkan wajah kusutnya, menanam kembali kata-kata di kepala licinnya dan kenakan pakaian dari rajut makna.
Bidadari tak malu walau tanpa busana, ia mengucap sesuatu tapi hilang kata-katanya. Puisi yang rapih dan kembali utuh itu membatu dan penuh kagumnya — hadap wajah Bidadari yang tebal bedaknya, yang merah gincunya, yang menempel alis palsu di atas senja gandanya.
Takjub ia pada segala yang berada pada sosok Bidadari jalang itu, terlebih kepada bukit ganda di permukaan dadanya, apa lagi rahimnya yang palung terdalam itu — puisi ingin menyelam ke sana.
Bidadari kembali berucap tapi masih hilang kata-katanya.
“Mungkin kau butuh cium aku agar kembali kata-katamu” ucap Puisi.
“Atau bersetubuh saja denganku agar lekas kau menjelma paragraf utuh” lanjutnya.
Bidadari yang jalang itu malu, terdiam, pudar kepalsuan pada wajahnya, senja ganda di balik kelopak matanya berbinar terang, sedih sudah ia termakan kata-katanya sendiri yang masih belum sempat ia ucapkan.