“Tuhan, Laki-laki, Wanita, Majas, Puisi, Kengerian yang ada dan isi Perut Buku dan Bumi”

Tuhan menyimpan laki-laki yang rangkaian katanya penuh makna, mempertemukan pertemanan lewat lintas majas, mendidiknya mencintai kesederhanaan.

Laki-laki memang demikian, kata-katanya penuh sekali dengan jalanan yang berbelok, terkesan bohong tapi indah bila didengar. Mata dan akal seorang laki-laki pastinya selalu bertabrakan, untuk itu terlahirlah kata-kata yang sedemikian rupa mengejutkan dan tumbuh menjadi makhluk-makhluk yang dapat mendirikan bulu kudukmu (wanita) sewaktu-waktu. kesederhanaannya teramat tapi, mungkin kau tak suka diajaknya bercinta di atas tumpukan buku-buku puisi.

Tuhan juga menciptakan berpuluh-puluh wanita (mungkin lebih) dengan beribu macam emosi, untuk itu, wanita terkadang lebih cantik dan menakutkan dari sebilah belati yang dengan kapan saja dapat membunuh lelaki itu.

Terpampang teka-teki silang pada batang tubuhnya. membuat laki-laki selalu menduga kedalaman rahimnya, apakah sehangat rahim ibunya? ia tak kenal lelah perihal membaca dan menulis. Keberadaan mereka juga menjadikan seorang lelaki yang peka akan kengerian menulis berpuluh-puluh (mungkin lebih) puisi-puisi lucu, tentang cinta melulu. berusaha mengumpat dari hal-hal jahat serupa politik.

Tuhan merahasiakan setiap perjumpaan yang ada di bumi, ia tak ingin salah membagi pelukan-ciuman pada orang-orang yang dilanda nafsu.

Untuk itu, puisi berkuasa atas kehendakNya dan menjadi ladang bercinta yang jauh dari unsur hina. Sebab kata adalah segala keberadaan dan keseragaman yang sesekali perlu dikaji berkali-kali. Laki-laki ingin memajaskan wanita berkali-kali lewat puisi-puisi yang lain. laki-laki itu ingin jadi sastrawan saja, ia membenci menjadi seorang politikus; pengamat kejahatan hukum negaranya. ia tidak juga beringin menjadi jahat kepada wanitanya.

Tuhan membangun sebuah kematian, pada lembar-lembar buku yang tak terbaca untuk kau rasuki sewaktu-waktu dan menjadikan lelaki sebuah nisan yang tidak menuliskan namanya sendiri pada permukaan wajahnya.

Laki-laki dan wanita adalah buku-buku yang lain yang sewaktu-waktu bila tepat waktunya mereka berpulang menuju perut bumi membawa puisi-puisi yang pernah ada dan tidak pernah ada.

wanita itu ingin membawa kekayaannya, laki-laki itu tertawa lalu menuliskan puisi terakhir dengan pena merah serupa darahnya, yang menggenang membentuk danau-danau asmara. laki-laki itu ingin berenang dan tenggelam di kedalaman aksara, menjemput ajalnya cepat.

dan, ia membiarkan wanita mencari jalan kematian yang lain; terjerat kasus korupsi, misalnya. dimiskinkan oleh pemerintah, di tahan seumur hidupnya hingga tinggal nama dan sejarah tercetak pada nisan dan koran.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.