“TUMBUH DAN MATINYA BUNGA-BUNGA”

Tumbuhnya Bunga-bunga

Ada yang tumbuh dengan adanya sisa-sisa sebiji kerumitan itu, bunga warna warni — Tulip namanya — dihadapan muka bianglala dan kincir angin yang terus meroda tak kenal lelah di benua eropa sana, sebab angin tak menjual dirinya layak minyak bumi yang sedang mengumpat dari tangan-tangan kotor serupa Lapindo, atau perusahaan-perusahaan lain yang sama jahatnya, baik milik negara kita sendiri maupun milik asing yang sedang gemar-gemarnya menjajah kembali negeri kita ini, tempat bagiku dan bagimu pernah berbagi cerita-cerita bahagia maupun yang bukan cerita bahagia.

Nama-nama purba bermunculan kembali menemani kelopak bunga yang jatuh ke bumi, bunga apa saja, kecuali bunga matahari — di pelbagai iklim ia tetap bertahan, berdiri tegak. Layak sesosok pria yang sebentar lagi akan aku bahas di dalam sajak ini…

maaf jika sajak ini terlampau mengguruimu.


Wahai engkau yang melegenda di telinga-telinga mahasiswa semacamku. Namun tidak di telinga-telinga para mahasiswa-mahasiswa hedon itu.
Adakah namamu disana? Atau disini? Adakah batang tubuhmu di sana? Atau di sini? Atau barangkali memang sudah sepantasnya kematianmu tak di ketahui khalayak ramai, baik tempat maupun waktunya.
Kutunjuk sebuah ladang hampa pandangannya, layak sepasang mata Wiji — itu namamu. Wiji Thukul — teramat kosong tatap matamu, lusuh pula pakaian dan gaya rambutmu teramat ketinggalan zaman. cadel lidah pendekmu itu berkata-kata melawan kejahatan-kejahatan dengan nyata-nyata. Di negeri ini, hingga hilang dan mungkin engkau mati begitu saja.
Menjadi sejarah, melahirkan demonstran-demontran baru. semacamku, tapi tak seberanimu. hilangnya dirimu, kelahiran era yang baru, era yang masa bodoh dengan keadaan negeri ini yang kian bobrok, era di mana membaca sastra itu adalah sebuah hal yang tabu, era di mana-mana persetubuhan diperbolehkan oleh media cetak dan yang lainnya, era di mana kami yang selalu lemah dan gemar sekali menutup mulut sendiri, menutup mata jua.

Tak lagi aku merasa pelukannya tidak sehangat bunga matahari dengan biji-biji kuaci yang mengenyangkan (faktanya tidak mengenyangkan) dan ia sukai. Ke mana rasa hangat itu?

Selain biji-biji, bunga matahari juga menghasilkan minyak tapi tak seburuk minyak bumi. Bahkan bila kau ingin tahu (tapi dugaanku kau tak ingin mengetahuinya), di tangan bangsa Aztec minyak dari bunga matahari dapat di jadikan obat merah ketika manusia-manusia di bangsa itu sedang gemar-gemarnya saling melukai dengan memakai clubs dan busur…

Maaf jika sajak ini terlampau menjenuhkanmu.


Jika boleh kukatakan, mereka terbilang ganas, mahir berperang akan tetapi pandai juga menyembuhkan. Layak seekor jaguar dan elang serupa pakaian-pakaian perang bangsanya (perihal perang) atau dunia farmasi yang semakin maju berkat pengetahuannya (perihal menyembuhkan).

Kau masih saja lapar tetapi, ingin memakan duri sendiri, melukai dirimu sendiri — menjadikan kedua bibirmu penuh merah darah yang nyalanya tak mudah kupadamkan begitu saja, atau duri-duri yang lain pada setangkai mawar hitam — barangkali mawar putih lebih pucat pasi dan kau ingin tersakiti, sekali lagi.

Benamkan saja bibit-bibit bunga yang lain, tanam saja bunga-bunga lucu — layaknya tulip di benua eropa sana — di depan sekolah atau panti penampungan anak-anak jalanan. Suatu hari nanti semoga bunga-bunga yang lain disukai anak-anak kita. Kunamai taman itu; bumi.

Air matamu adalah hujan yang aku benci. Tapi bunga ingin tumbuh tinggi. Maka, tangisilah bumi. Taman kanak-kanak itu. Agar riang mereka dapatkan, agar mereka tumbuh menjadi orang-orang dewasa yang periang, yang membenci hal-hal yang mampu melukai diri sendiri atau menyakiti orang-orang sekitarnya.


Matinya Bunga-bunga

Kau telah berjalan, jauh sekali, meninggalkan danau-danau basah pada sebuah kehampaan saja. Kau lupa mengucapkan kata perpisahan yang indah pada rerumputan dan pohon-pohon yang tumbang. Menjadikan air mata banjir bah, mewabah.

Kau sempat bunuh bunga-bunga itu dengan pijakan kaki yang mengagetkan. Terhentak kelopak, mati sudah semua. Beranjak anak-anak taman kanak-kanak itu berlari ketakutan, tak ingin kehilangan tulip-tulip tercinta.

Mereka menarik-narik angin yang lewat di hadapan muka bianglala dan kincir angin. saling tatap semuanya. harap tiada yang hilang begitu saja, ingin menanam batang, ranting dan akar-akar yang lain, mungkin bunga tak cukup bagimu.

Ada beberapa kumbang-kumbang hanya menyaksikan sembari bergosip dengan serangga-serangga yang lain, mereka juga membeli sayur-mayur untuk dipasak bakal bekal anak-anaknya. Aku lebih suka memanggil mereka dengan sebutan ‘ibu-ibu rumpi’ saja. Kelewat sosialita.

Matinya bunga-bunga adalah matamu yang tak lagi merah warnanya. Tiada sentuh angin menyelinap masuk dalam hidupmu yang sesak. Madu yang ada padamu sudah habis, atau perasaan ini yang telah habis. Akan tetapi aku ingin memakamkan bunga-bunga itu dengan segera pada sebuah taman ‘kita’.


Revisi yang Berulang-ulang.

Adegan itu mati sudah. Semoga benar-benar habis madu-madu yang kini tinggal sepah itu. Sutradara serupa aku menyuntang — barangkali merevisi sendiri — sajak ini teruntuk kamu yang bosan dengan macam ragu dan tanda-tanda tanya itu? Sudah siapkah kita untuk meninggalkan taman-taman yang lain; yang mati kehidupannya. menanam biji-biji bunga yang baru?

Revisi yang berulang-ulang ini akan selalu kuulang sedemikian rupa, dalam tanda tanyamu saja. Kini, kita sedang gemar-gemarnya membenahi yang sudah-sudah bukan? Tak ingin terulang, kita senang merevisi hidup ini berulang-ulang hingga tamat sudah, hilang dan mungkin mati telah tiba.

Like what you read? Give Mad Ulil Ayidi a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.