Wanita-wanita dan Pengkhianat
Ada seorang wanita, ia hendak memungut resah yang basah, merajut atau meniti air mata menjadi benang-benang merah warna, penghubung antar kecewa dan harap yang telah lama ia buang jauh-jauh di palung terdalam entah di mana bahkan ia lupa.
Ketika kelak benang merah itu terkumpul banyak, inginnya melanjutkan rajutan yang lain — menjadikan kesedihan masa lalu sebagai selimut, sarung bantal juga pakaian mewah yang akan ia kenakan ke pesta pernikahan mantan suaminya.
Tak luput ia mengasah, belati yang seringkali ia pakai teruntuk membunuh merpati yang gemar hinggap di pohon-pohon depan rumahnya, ia terlanjur kecewa dengan kata-kata ‘setia’ hingga tega dirinya menghabiskan nyawa merpati-merpati lucu itu yang sedang bercinta di hadap tatap matanya yang bulat namun tajam menyayat.
Juga ia kenakan sepatu taplak tanpa hak, hak sepatu yang tinggi hanya mengganggu laju larinya kelak ketika penghulu atau tamu undangan yang lain berlarian mengejarnya, tergeletak suaminya di hadap istri muda (pengkhianat) yang adalah adik kandungnya; cita-citanya.
Jika terpojok dan hilang arah juga tak mampu lagi berpikir jernih, ia ingin sekali berpasrah pada sebuah jurang terjal di belakang rumah pak lurah — tempat bagi pak lurah membuang para simpanannya yang cantik jelita tapi penuh darah isi perut dan seluruh paha mereka. Wanita-wanita yang dikhianati lainnya bermukim di sana mayat-mayat jelitanya.
Janda itu mati akhirnya dengan senyuman yang teramat manis, bukan karena terjatuh menuju jurang di belakang rumah pak lurah, melainkan ia berupaya menyudahi hidupnya yang selalu saja resah dan membuat matanya basah. Senyumannya palsu, kematiannya asli.
Di alam siksa, ia telanjang bulat dan dibelenggu kedua tangannya juga melahap panas yang menjadi-jadi, di hadap matanya si pengkhianat sedang di sunat kemaluannya oleh maut, oleh sepasang malaikat.