AKAN TETAP BERDIAM

Pukul dua belas malam ditemani secangkir kopi meyambut pagi, penghujung sebuah rutinitas semester mahasiswa.

Saat menapakkan kaki pertama kali di Perguruan Tinggi yang kujalani saat ini

Cerita tentang apa yang dipandang mata sejak menjadi mahasiswa tetapi mulut tak berani berkata. Akankah ku tetap diam? Sebenarnya ku diam adalah tanda ku bersuara, kudiam dan bersuara lewat tulisan saja. Salahkah aku mengungkapkan nya lewat tulisan? Ku tidak akan bertanya pada mereka karena bagiku diam tetap tanda bersuara. Tidak ada hasilnya mungkin bagi mereka yang suka bersuara, tapi bagiku yang diam dan beku semua bisa bersuara saat diam itu mulai berkata. Dan tidak jarang banyak berbicara merupakan bentuk konsepsi dari rasa yang kurang pasti (kalimat ini kudapat dari salah satu buku yang pernah kubaca).

Apa yang dapat kupandang terlebih mulia dan apa yang dapat kudengar terlebih istimewa. Tetapi aku gila itu pandang mereka, ya aku gila dan tergila-gila dengan kebekuan yang ada sejak menjadi mahasiswa. Lalu akankah kegilaanku ini dapat terobati? Jawablah padaku, aku bertanya padamu yang suka bersuara. Sudahlah, kini saatnya aku membuka cerita lama.

Awalnya kugoreskan sebuah mimpi yang kuanggap tak akan mungkin terjadi, mimpi yang sudah ada sejak aku duduk di Sekolah Dasar dan mimpi di tengah malam saat tangan yang usil ini mulai menggoreskan titik yang menyatu menjadi sebuah lambang instansi ternama. Warna yang timbul darinya, membuat air mata menetes. Kuingat betul malam itu adalah malam pukul 24.00 Wib tertanggal 9 Januari 2015. Aku tidak pernah menyangka mimpi yang mustahil didapat seorang sepertiku dan saat itu pun aku sadar betapa besar Tuhan yang menjadikanku ada. Tuhan yang tidak pernah menutup telingaNya karena pendengaranNya tidak kurang tajam untuk mendengar, Tuhan yang tanganNya tidak kurang panjang untuk memegangku saat ku jatuh dan Tuhan yang selalu ada disaat dunia meninggalkanku. Mengapa aku berkata dunia? Ya, kita ini makhluk dunia, hidup dan merasakan sebuah kehidupan didunia. Bukannya aku ingin menyalahkan tetapi gejolak yang terus menghantap perasaan menyebabkan hal ini merajai.

Saat menginjakkan kaki pertama ditempat yang kusebut sebagai instansi ternama seketika itu aku terdiam. Benar-benar diam dan tak berkutik, hanya hati yang berbicara bahkan hati mengisyaratkan ku untuk mulai meneteskan air mata. Kesan pertama yang membuatku diam dalam jutaan detik inilah yang tidak terbantahkan tetap mewarnai hari-hari setelahnya.

Malam semakin larut dan aku tetap ingin memanggil ingatan yang dahulu.

Diam yang sebenarnya tak diingnkan semakin bertambah di kala bertemu banyak orang dengan berbagai jenis suku dan budaya. Kabarnya mereka berasal dari sekolah ternama, mereka juga orang pintar diantaranya lalu bagaimana denganku? Ku juga melihat perubahan besar teman sepermainan saat SMA, mereka berubah di tempat mereka yang baru dengan gaya dan model kekinian ditambal tampilan warna kepala yang berbeda, sementara aku tetaplah menjadi aku yang biasa. Lagipula aku tidak menginginkan hal itu terjadi. Apa kata dunia bila aku hanya mengikuti nya tanpa tau tujuan sebenarnya. Ternyata kehidupan mahasiswa ditempat ku berada tidak seperti tempat teman lainnya. Disini semua serba ada, ada yang mencintai banyak kegiatan atau sekedar menyendiri dibalik buku, ada yang menghilang entah kemana meski namanya sudah tertera, ada yang tetawa seakan tidak ada beban padahal tugas dan ujian menanti didepan mata, ada yang mengayunkan bola sampai larut malam untuk sekedar menghilangkan penat, ada yang bergaya entah seperti apa tetapi tetap terkesan istimewa, bahkan hal menarik lainnya adalah ketika banyak bahkan hampir semua duduk beralaskan lantai di selasar atau di tempat apa saja yang bisa dikuasai. Untuk apa? Tidak perlu ditanya semuanya mengerjakan tugas, menyantap makanan, melepas lelah setelah jam kuliah, berkumpul membahas sesuatu hal, mengakses berbagai situs dan segala jenis kegitan lainnya. Bahkan aku sendiri yang dulunya merasa ini adalah hal yang aneh, sudah tebiasa. Terbiasa dengan hidup menjadi mahasiswa. Mahasiswa?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, mahasiswa adalah orang yang belajar di perguruan tinggi dan di dalam struktur pendidikan di Indonesia, mahasiswa memegang status pendidikan tertinggi. Aku kembali teringat beberpa waktu lalu pernah mengikuti sebuah kegiatan dari himpunana mahasiswa tempat ku berada. Acara yang dilakukan setiap tahunnya didasari sebuah fakta bahwa tahun berganti maka akan ada yang datang dan pergi atau sering disebut sebagai sebuah regenerasi. Kemarin dijelaskan apa itu posisi, potensi dan peran seorang yang menjadi mahasiswa. Posisi berarti letak atau kedudukan, seorang mahasiswa disebut civil academia. Maksudnya mahasiswa berada diantara masyarakat sipil yang mengenyam pendidikan lebih lanjut atau disebut masyarakat terpelajar. Potensi bearti kemampuan yang dapat dikembangkan dan biasanya mahasiswa memiliki energi, semangat yang membara dan terbilang idealis. Yang terakhir berbicara tentang peran yang berarti tingkah laku yang diharapkan atau diakibatkan karena adanya posisi dan potensi. Peran mahasiswa terbagi menjadi empat. Pertama, mahasiswa berperan sebagai Guardian of Value, diharapkan menjaga nilai luhur bangsa seperti kejujuran dan kesopanan. Kedua, sebagai Agent of Change, maasiswa dituntut untuk melakukan perubahan atau perintis pergerakan. Ketiga, Regenerasi mahasiswa sebagai penerus bangsa. Keempat, Role of Model, mahasiswa menjadi role model bagi masyarakat di sekitarnya.

Semua hal diatas bertujuan mulia dan akan sangat membantu membuka mata seorang mahasiswa. Tetapi namanya manusia, memiliki kehendak bebas sehingga memilih untuk melaksanakan atau tidak bukanlah suatu hal yang harus dieliti setiap waktu. Aku juga masih bertanya setelah setahun lebih berada ditempat ini apakah aku sudah benar-benar menjadi seorang mahsiswa. Tidak mudah bagiku untuk mendapat hal itu, ditengah banyaknya tekanan yang datang silih berganti. Bagi mereka mungkin saja hal itu sangat mudah, dengan kemampuan yang mereka miliki mereka dapat mengembangkan semuanya. Perlu diingat ini bukan hanya sarana untuk menutupi keadaan sebenarnya.

Aku yang semula sudah terbiasa dengan diam saat menjadi mahasiswa kembali diusik sebuah tuntutan dari profesi yang akan dijalani nanti. Entahlah profesi yang akan kujalani nanti pun ku tidak tau karena ku hanya manusia yang bisa merencana tapi semua sudah diatur Yang Maha Kuasa. Seandainya pun nanti ku tidak berada di profesi ini yang jelas setiap hari aku akan selalu diusik untuk bersuara. Menariknya diluar sana aku mulai mencoba bersuara, membagi suka dan duka dengan mereka, tertawa dan mencoba berada diposisi yang sama tetapi entah mengapa seketika kembali melangkahkan kaki di pagi hari aku berubah menjadi seorang yang beku lagi dan lagi. Beku terhadap waktu yang terus berjalan hingga menutup hari kembali.

Terkesan aneh tetapi ini nyata, aku tidak berusaha menghias kata-kata sedemikian rupa sehingga yang membaca menjadi terpesona. Aku diam dan tak mengerti mengutarakannya. Aku juga hendak bersuara selagi kubisa, aku juga ingin berkata. Apakah hal ini hanya terjadi padaku? Apakah manusia lainnya yang mendapat sebutan mahasiswa tidak mengalami hal yang sama? Apakah ini akan tetap selamanya? Kuharap tidak, aku juga rindu untuk itu.

Pukul dua dan pagi sudah datang, kutuliskan isi hati setelah setahun lebih mendapat sebutan mahasiswa. Hari ini adalah penghujung rutinitas semester, beberapa waktu kedepan akan ada libur yang menjadi penantian selama menjalani perkuliahan. Penantian untuk sekedar menikmati alam sepuasnya, berkumpul bersama mereka yang selalu menyemangati hari, kembali pada hobby yang seakan dimusuhi, merenung di akhir tahun dan mengawali tahun baru kembali, ya tahun pemberian Tuhan dimana diam akan tetap menjadi diam atau berubah sejadinya.

Bandung, 15 Desember 2016

Diam tanda bersuara mahasiswa semester tiga

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Tri Wulandari’s story.