ENTAHLAH HANYA SAJA

Ketika mata sudah tidak kuasa melihat

Ketika tangan melemah tak mampu meraih

Ketika kaki tak sanggup lagi melangkah

Ketika telinga bungkam tuk mendengar

Ketika semua terasa begitu menyiksa

Ketika hati berkata tak akan ada yang mengerti

Ketika dentuman perih bergembira

Ketika hitam kelam

Ya, ketika hitam dan kelam beradu

Sembari menghanyutkan insan yang terayu olehnya

Namun entah mengapa suara kecil itu tak kan bisa menerima

Bahkan dia tak inginkan si pemilik nama menjadi derita

Ya, dia kembali dengan lembut

Ya, dia datang menghampiri dan menyentuh luka itu

Kembali seketika

Apakah dunia boleh mengerti yang dirasa?

Ya tentu saja seluruh dunia merasa

Bahkan akan hanyut bersama derita

Tetapi tidak bagi si pemilik dia

Pemilik suara kecil itu

Apakah dunia juga memilikinya?

Tidak, itulah jawabnya

Tidak, bila dunia tidak merasakan hal yang sama

Percuma karena dunia tidak akan mengerti

Percuma?

Tidak, tidak ada yang percuma

Hanya saja pemilik nama bercerita

Dunia boleh berkata apa pemilik nama tetap pada suara kecil itu

Akankah semua kembali?

Entahlah hanya saja akan tejadi bila kembali pada suara kecil dari dasar dada

Kembali seketika inginkan kembali

Tak mudah tapi kembalilah pemilik nama

Siang hari di desember yang beradu antara luka dan tawa…

Like what you read? Give Tri Wulandari a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.