Kalau Aku bilang, Suka

Tri Wulandari
Sep 9, 2018 · 8 min read

Sebuah perasaan yang dicipta sendiri atau diberi olehNya — bukan sebuah kebetulan. Semua sudah diatur sedemikian. Nikmat, mari menikmatinya.

Aku mahasiswi semester tujuh, baru saja dan telah bertahan hidup beberapa tahun di kota kembang — menyukai diam. Aku bingung, apa yang harus kukataan? Percaya atau tidak, aku bukan seorang yang mahir dalam menulis, bahkan untuk memulai saja menjadi konflik kesekian perjalanan hidupku. Banyak orang diluar sana yang membuatku kagum, mereka menuangkan begitu indah walaupun kadang menusuk, mereka mengemas semua dengan baik — yang jadi pertanyaanku adalah apakah itu semua (sebuah) kebenaran? Bukan maksudku mengukur keindahannya, karena — jujur aku juga mengalaminya, mengurai kata-kata nansejuk padahal sedang dilanda badai. Kadang baik, kadang tidak juga. Jelas sekali kehidupan ini terasa hidup bila dimengerti setiap porsi yang disediakanNya bahkan porsi untuk menganggap sesuatu itu baik. Hmm harusnya aku tidak seformal ini, yasudah izinkan aku melakukan dua hal. Pertama, memanggil setiap pembaca sebagai kawan — setidaknya walaupun kita tidak saling mengenal, aku menganggapmu kawanku atau kalau kita saling mengenal, ketahuilah sedemikian kawanku bahwa aku dan kamu ada. Kedua, menyita sedikit waktumu kawan — sebenarnya lebih.

Kawan, tulisan ini lahir dari pertanyaanku sejak berseragam putih biru. Akan kuceritakan bagaimana semua ini dapat terjadi. Kumohon jangan marah, ini adalah apa yang aku alami dan kalaupun kamu merasakan hal yang sama; mungkin dapat berguna untukmu — setidaknya demikian.

Sebenarnya tulisan ini sudah ku rencanakan sejak 25 juli 2018 lalu, ketika aku duduk sendirian dan mulai mengenang apa yang seharusnya tidak ku kenang (nanti kamu akan tau kenangan itu). Lucu — sedikit, ketika tulisan ini akhirnya aku bagi menjadi beberapa bagian dan untuk memenuhi semua bagian tersebut aku meminta banyak sekali pendapat dari mereka yang dulu pernah ada bahkan sampai saat ini masih. Setidaknya 52 dari 70 mereka yang aku usik dengan beberapa pertanyaan memberi jawab. Lebih tepatnya 30 perempuan dan 22 laki-laki yang berbeda dari segi usia, pekerjaan, status dan/atau pengalaman menyoal tulisan ini. Sebelumnya maaf sudah merepotkan kalian semua. Setelahnya aku sangat berterimakasih untuk setiap kalian yang rela memberi waktu membaca dan memberi jawaban yang bahkan membuatku jadi mengerti lebih banyak. Aku juga berterimakasih untuk kalian yang tidak memberi jawab, aku tau tidak semua manusia mampu menuliskan apa yang mereka rasakan — tenang aku juga masih sama, manusia. Mari kita mulai.

Kalau Aku bilang, suka

Butuh dua minggu untuk menentukan empat kata diatas, tetapi untuk mengalaminya aku membutuhkan 12 tahun hidup didunia ini. Hidup sebagai seorang anak perempuan yang setiap harinya diwarnai anak laki-laki — aku berteman dengan siapa saja, sayangnya 90% teman sepergaulanku semasa kecil dahulu adalah anak laki-laki. Mungkin ini menjadi salah satu penyebab kebekuanku, tetapi tenang karena aku masih perempuan normal walaupun dalam beberapa situasi diatas normal (kamu harus tau siapa aku, haha, bercanda). Lupakan

Bagaimana denganmu kawan? Berhentilah sejenak, lalu mulailah memanggil ingatan akan kenangan yang sudah berlalu. Maaf, kapan kamu merasakan (suka) untuk yang pertama kalinya? Jawablah dengan jujur dan kamu akan mengerti mengapa aku bertanya.

Sudah dua hari berlalu, aku baru kembali untuk segera menyelesaikan tulisan ini. Sekarang jumat 17 Agustus 2018 pukul 15.21 wib, harusnya aku pergi mencari udara segar apalagi hari ini 73 Tahun Indonesia merdeka. Semoga kita tetap menjadi bangsa yang utuh dan saling mengasihi. Tetapi saat ini aku berada dalam sebuah ruangan tempatku menaruh rasa lelah selama dua tahun terkahir. Tempat dimana aku bisa tertawa, menangis bahkan buang angin sendirian. Haha, ruangan kecil ini dipenuhi gambar — setiap potret itu memberi makna bagiku, ada yang terus menemani ada pula yang pergi.

Terlepas dari itu, hari ini aku juga kembali mengenang apa yang seharusnya tidak aku kenang, aku menangis. Kadang aku merasa bodoh mengapa aku membiarkan airmata ini membasahi pipiku, kadang aku merasa lega. Kadang, ya masih sama semua butuh porsi.

Kadang suka yang aku pertanyakan membuat bahagia, kadang tidak juga. Begini, aku tidak mengerti sebenarnya apa yang aku rasakan setelah hidup 12 tahun didunia (saat pertama aku menyukai seseorang). Aku bilang, suka tetapi sesungguhnya apa itu suka?

Suka, Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan sebuah keadaan senang; girang hati; mau; sudi; rela; menaruh simpati; menaruh kasih; kasih sayang; cinta. Sedangkan menyukai berarti suka akan; suka kepada; meggemari; menaruh minat, kasih kepada; mencintai; menyayangi. Dari pengertian tersebut aku mulai bertanya apakah suka sama persis dengan sayang atau cinta? Menjadi alasan untuk bertanya dan inilah jawab dari mereka yang sudah aku beritahu sebelumnya.

Bagian pertama, suka

Teman, sahabat, saudara dan abang — suka menurut laki-laki. Izinkan aku menuliskannya. Secara umum mereka menjawab bahwa suka adalah sebuah perasaan seseorang tertarik dengan kepribadian orang lain, keterkarikan tersebut biasanya lewat panca indra (apa yang dapat dilihat dengan mata) entah itu paras, intelektual dan/atau kelakuan seseorang tersebut. Secara khusus aku akan menuliskan pendapat beberapa dari antara mereka — karena beberapa alasan pula. Pertama, dia adalah seorang teman yang satu tahun lamanya duduk bersebelah denganku sewaktu SMP, cukup untuk tinggi seorang laki-laki, si rambut keriting, mata hitam, kaku — diam tapi kami memiliki selera yang sama dalam olahraga, lebih tepatnya sebuah club sepakbola. Siapa pun yang mengenalku pasti tau Liverpool, ya dia menaruh perhatian lebih pada club tersebut — jadi kami sama saja. Menurutnya suka membingungkan. Hmm yasudah, setidaknya dia pernah mengalami suka dan sempat menjalin hubungan dengan orang yang pernah dia sukai. Kedua, dia adalah orang yang sangat pintar dalam hal pelajaran, rajin menulis, lebih dari cukup untuk tinggi seorang laki-laki, kulitnya tidak terlalu gelap, tidak pernah terlihat mengantuk karena benar dia adalah konsumen setia dari kopi — sudah dua tahun berteman, aku sering sekali mengamatinya menggenggam kopi instan — tetapi itu dulu, sekarang kami dipisahkan kesibukan jurusan dan tentunya kelas yang berbeda pula. Sesuai dengan apa yang dia capai saat ini, menurutnya semua bergantung pada pribadi masing-masing, entah mengapa dia memberi jawaban yang membuatku mengerti ada hal yang harus diselesaikan sebelum menaruh perasaan suka tersebut. Katanya ingin menjadi laki-laki yang mantep lebih dahulu baik dari segi akhlak, ilmu atau materi setelahnya barulah suka dan mengejar yang disukai atau bahkan lebih dari itu. Selanjutnya.

Teman, sahabat, saudara, kakak dan adik — suka menurut perempuan. Sama saja, pada umumnya mereka menjawab bahwa suka adalah sebuah preferensi seseorang terhadap orang lainnya — menjadi daya tarik tersendiri sehingga menimbulkan perasaan senang/girang. Masih sama, secara khusus ada pendapat dari antara mereka yang akan aku jelaskan. Dia adalah seorang teman yang lebih kurang tiga tahun bersamaku ditanah sunda ini, seorang yang ramah — jelas sekali ketika berjalan bersamanya akan membutuhkan waktu untuk berdiri menunggu karena dia selalu saja bertegur sapa dengan banyak orang (ini baik sekali dalam pandanganku), penyuka hal baru, handal dalam mengantuk bahkan ter(tidur) dimana dan kapan saja, hal lain yang lucu yakni untuk kapasitas lambung dengan postur yang dia miliki tampaknya berbanding terbalik — dia suka dan banyak mengkonsumsi makanan tetapi berat badannya tetap saja sama. Selain itu ia kadang keras, kadang lembut dan sering sekali membantuku untuk berpikir dua kali dalam menghadapi beberapa kondisi tertentu kehidupan menjadi mahasiswa lebih lagi soal hal fana. Menurutnya suka berarti menaruh perhatian lebih, terkadang bisa lebih dari perhatian pada diri sendiri dan seringkali hal yang menimbulkan rasa suka itu adalah rasa kagum terhadap orang tersebut. Dari sekian banyak pendapat aku memilih pendapatnya Kawan, karena sudah aku jelaskan secara umum semua perempuan yang aku tanya mendefenisikannya sebatas preferensi dan tidak ada hal lebih atau tidak akan membuat yang memiliki perasaan itu bertindak lebih — pengorbanan misalnya. Kugaris bawahi untuk terkadang, ya kadang tanpa kusadari aku juga merasakan dan mengalami hal yang sama. Lebih dari pada diri sendiri. Apakah ini baik? Kadang tidak juga.

Bagian Kedua, Kalau aku bilang suka?

Lalu kawan, akan kujelaskan bagaimana perasaanku. Suka menurutku adalah menaruh perasaan terhadap sesuatu karena sesuatu itu memiliki (sesuatu) yang dapat membuatku memberi perhatian lebih. Sesuatu yang dimilikinya itu tidak terbatas bahkan kadang diluar nalar. Contohnya, sudah kusebut pada bagian pertama bahwa aku penyuka sepak bola — sayangnya tidak mahir bermain. Menurutku pantas menyukainya karena 90 menit berlarian dengan tujuan (mencetak gol ke gawang lawan) pasti memberikan rasa yang istimewa entah untuknya yang benar-benar berlarian atau untukku yang hanya dapat merasakan rasanya berlari dari layar. Aku menaruh rasa lebih pada Liverpool karena Liverpool memiliki (sesuatu) yang menarikku. Kawan, 2004 menjadi tahun pertamaku menyukai tim merah ini bukan karena torehan yang ia peroleh melainkan kalimat yang singkat yakni You’ll Never Walk Alone. Lucu? Begitulah, sayangnya rasa suka ku terhadapnya harus padam ketika aku duduk dibangku SMA. Ayahku — penyuka sepak bola malah membatasiku untuk fokus pada hal lain dan memang benar ada saatnya kita harus sadar ada batasan dalam menyukai segala sesuatu. Tetapi setelah melewati hal lain itu aku kembali padanya, menyediakan waktu untuk menatap layar dimalam hari atau dengan rela hati hanya menonton siaran ulang karena aku menyandang status mahasiswa — sudah jelas ada yang harus diutamakan, tugas misalnya walaupun lebih dari sering aku berlari layaknya pemain sepak bola sebelum tenggat waktu pengumpulan (jangan ditiru) haha. Emm, jadinya aku penasaran apakah suka memiliki batasan waktu? Apakah suka boleh menghilang lalu hadir kembali? Menyoal yang kusuka sempat dimampat lalu kembali suka seperti sedia kala. Jawabannya relatif. Semua bergantung pada apa yang disuka, benar? Kawan, coba pikirkan. Selanjutnya.

Bagaimana dengan suka terhadap lawan jenis? Ini pengalamanku, kusebut padamu bahwa kamu akan tau kenangan itu — hari ini 9 September 2018 tepat tiga tahun aku menaruh rasa pada seseorang. Si penyuka diam ini ternyata menyimpan rasa yang cukup lama. Benar, aku adalah seorang yang tidak mudah menaruh rasa itu pada seseorang dan kalau kusudah punya rasa itu, akan bertahan untuk waktu yang tidak singkat. Aneh? Tidak juga ini masih dalam batas normal — bagiku. Maaf ini akan menyita waktumu pula — begini, aku menyukai beberapa orang tetapi sebatas suka karena pengaruh oranglain bukan aku seperti adanya. Tetapi untuk yang satu ini aku benar suka karena pertama kali bertemu dilorong kampus dengan sebuah senyuman. Matanya mengarah padaku, aku tersenyum padahal tidak tau siapa dia. Dengan (sedikit) pengorbanan akhirnya kutemukan nama dan fakultasnya. Mari kita sebut dia ‘marmut’ karena dia imut haha, lupakan. Marmut, cukup untuk tinggi seorang laki-laki, mata hitam, kulitnya tidak terlalu gelap, penyuka salah satu club sepak bola Inggris, mahir bermain musik, lebih dari sering membalas pesan dengan kata terimakasih dan akan tersenyum karena dia tidak pernah memunculkan giginya kecuali tertawa. Suka itu kemudian membawaku dalam diam. Seperti menutup diri untuk yang lain. Ahh, ini menyebalkan, aku dan dia tidak pernah menjalin komunikasi, semua sebatas senyum balas senyum ketika berpapasan. Setahun kujalani sedemikian, ditahun kedua aku sempat berkomunikasi. Sekali saja lalu berlalu. Tahun ketiga bulan keempat, entah apa yang membuat kami menjadi teman yang cukup baik — bukan sebuah kebetulan. Kujadi tau siapa dia, asal-usulnya, bagaimana dia memberi tanggapan, merelakan waktu untuk sekedar makan sampai aku tau dia akan membutuhkan porsi lebih untuk menyantap lauk yang dipesan.

Lorong Kampus — salah satu potret (kenangan) yang kuambil ketika kami berkomunikasi, April 2018.

Kawan, sudah pukul 23.02 wib, aku duduk ditempat makan cepat saji di Kota Bandung. Awalnya aku tidak berniat melangkah dari ruang kecilku tetapi akhirnya aku pergi bersama seorang teman sejak SMP, dia sedang mengerjakan Tugas Akhir — aku malah menulis agar menyelesaikan malam kenang ini. Hari minggu yang ramai tetapi tidak seramai hatiku. Aku rindu ketika aku menyimpannya dalam diam, hanya tersenyum dan tidak pernah berkomunikasi seperti dahulu — sekarang sudah berbeda, aku sudah mati rasa. Mengapa? Apakah suka ini akan segera pulih? Entahlah, akan kujelaskan pada bagian kedua tulisanku. Hari ini sepertinya lirik lagu Dgyta — (seandainya ku katakan yang sesungguhnya tentang perasaanku padamu selama ini, seandainya ku bisa memutar kembali waktu yang telah pergi dariku — ) pantas menutup semuanya. Sebelum berakhir kalau aku bilang, suka padamu apakah kamu akan mengerti rasa suka yang aku maksud? Suka — menyita waktu, memikirkanmu, menulis banyak rindu bahkan menyebutmu pada ibuku. -Yasudahlah, lupakan saja. Dulu, sembilan bulan sembilan tahun limabelas — aku masih saja sama, hari ini sembilan bulan sembilan tahun delapanbelas.

Teruntuk kamu yang singgah untuk mewarnai sebahagian kecil semester enamku. Terimakasih, kamu baik. Hari ini aku sipenyuka diam memilih kembali berdiam dan pergi karena aku hanya mampu suka padamu lewat tulisan ini.

Baiklah Kawan, setelah hari ini berlalu akan kujelaskan padamu. Maaf membuatmu menunggu.

Bandung bersama dinginnya malam, diam tanda bersuara si pecinta padang gurun…

    Tri Wulandari

    Written by

    diam tanda bersuara | pecinta padang gurun

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade