UNTUKMU YANG SUDAH DAN AKAN MENGENANG

Arak-arakan wisuda di Kampus Gajah — April 2017, dokumtasi salah seorang teman
Sudah berlalu, malam yang dinanti sudah dilewati, entah atau sedang dalam mimpi menanti esok saat mendapat nama baru. Seberapa besar penantianmu? Tanya sendiri dan teruslah menikmati.

Bukan malam, selamat pagi kuucap dari sebuah ruang kecil tempat mengadu letih saat menutup hari. Ruang yang benar terasa sebagai ruang saat tidur lelap dan esoknya tidak ada tuntutan yang harus dikerjakan. Tetapi tuntutan tidak akan pernah berhenti sampai aku berhenti nanti. Perhentian kekal atau berpulang ke pangkuanNya, ya benar-benar berhenti. Pagi ini aku hendak berbicara tetapi mengungkapnya tanpa suara, kembali lagi bagiku diam dan mengerti sendiri adalah salah satu kepuasan yang sulit diterima orang lain tetapi bermakna bagi penikmatnya. Maaf bagi yang suka bersuara, kalian tetap istimewa dapat mengungkapnya secara lisan. Tetapi jangan kawatir bagi yang tidak suka bersuara karena kata adalah jawabnya.

Sudah dua tahun menyandang nama sebagai mahasiswa. Entahkah aku pantas disebut mahasiswa atau tidak siapa yang tahu, bahkan jiwa yang menyandangnya pun tidak tahu betul apa yang sedang dirasakan sebagai mahasiswa. Sudah lupakan, aku hanya ingin rasa yang masih hambar itu dapat diobati dihari setelahnya. Entah esok saat mata masih membuka dan kembali menjalani rutinitas harian atau bahkan kelak seperti salah satu dari mereka. Mereka yang sudah dan akan mengenang apa yang telah ditabur dan dituai selama menjadi mahasiswa.

Kesan terindah saat mata boleh menatap gelora yang keluar dari jiwa pembesar seperti mereka. Aku? Ya aku dalam bayang dan senandu merdu yang mengintai secara diam-diam. Jangan salahkan aku untuk mencuri sedikit kisah yang pada dasarnya belum kurasakan. Berharap bayang ini akan segera hilang ditelan sinar agar penikmat sepertiku dapat sadar akan kenyataan belum dan akan tiba saatnya.

Kemarin diawal bulan keempat dalam tahun ini aku mendapati diri dalam keramaian, bahkan sangat ramai jauh dari hari yang biasa aku lalui. Ramainya tidak hanya dibanjiri mahasiswa beralaskan Gajah duduk. Mengapa? Karena hari itu adalah hari yang dinanti mereka yang kusebut sudah dan akan mengenang. Mendapat gelar baru setelah sekian lama berjuang dalam satu tugas yang rasanya seperti rutinitas akan membuat siapa saja yang mengerjakannya berharap tugas itu dapat berlalu secepat mungkin karena ketika tugas tersebut selesai maka pintu yang kian terasa ditutup rapat sudah terbuka dan sipembuat tugas dapat pergi kemana saja atau bahkan berlari dengan kecepatan super hingga tak terlihat lagi di peredaran. Aku kembali bertanya apa yang mereka rasakan? Suka, duka, gelisah atau lainnya? Bertanya pada satu dua yang sudah mengalami masih membuatku berada dalam abu-abu. Ini salah atau tidak, kutarik sebuah kesimpulan bahwa jawab yang pasti akan aku dapat kelak dan rasanya pun akan terbayar. Tinggal menunggu saatnya tiba tetapi untuk menunggu pun dibutuhkan sebuah kesetiaan. Hahaha, entahlah kuharap begitu.

Kembali teringat pesan dari salah seorang yang berdiri di mimbar saat aku mengikuti ibadah, ya bagiku ini adalah salah satu jawaban pemberian Tuhan dari pertanyaan konyolku. Pertanyaan yang sudah sering aku tanyakan, bahkan tanpa sengaja aku pernah meneteskan airmata. Ini bukan soal ajaran agama yang aku anut dan perbedaan dengan agama lainnya apalagi soal langgar melanggar tetapi makna dari sebuah pesan penting bagi dunia. Karena bagiku agama bukan penyelamat manusia, kenyataannya agama pun dicipta oleh manusia. Dapatkah manusia menyelamatkan manusia? Tidak, jadi tak perlu pusing memusingkan diri dan berkoar kesana kemari mempersalahkan agama. Yang terpenting adalah ketika Anda dan saya tau jalan yang benar yaitu Pencipta dan Penyelamat dunia. Selain itu jangan bohongi diri atas kebenaran yang ada, kataku lembutkan saja hati dan rasakan semua yang dapat diterima sampai saat ini. Intinya jangan menyombong soal tau menau apalagi sombong soal agama.

Sore itu dia yang berdiri di mimbar berbicara ambisi (A strong desire to do or achieve something). Hem, ambisi yang sejatinya tidak perlu dipungkiri karena setiap kita memiliki ambisi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ambisi adalah keinginan (hasrat, nafsu) yang besar untuk menjadi (memperoleh, mencapai) sesuatu (seperti pangkat, kedudukan) atau melakukan sesuatu. Selain itu berambisi berarti berkeinginan keras mencapai sesuatu (cita-cita dan sebagainya). Setelah beberapa menit berusaha mencerna aku sadar dan memang benar bahwa ambisi dapat membangun dua nilai dalam diri manusia. Pertama, nilai yang benar jika ambisi itu berada dalam koridor yang tepat dan tentunya akan mendatangkan kebaikan. Kedua, nilai yang salah bila ambisi berada dalam koridor yang tidak tepat dan tentunya akan mendatangkan kekecewaan. Ambisiku yang dahulu sempat membuatku melakukan pergerakan yang aneh dan terkesan memalukan, ya ambisi yang ditabur sejak menduduki bangku Sekolah Dasar. Tetapi entah mengapa seiring dengan bertambahnya usia aku merasa aku tidak berambisi, bahkan untuk sekedar menuliskan resolusi setiap tahun baru tiba aku merasa hal itu membosankan. Lalu bagaimana apabila aku tidak memiliki ambisi? Itulah yang aku pertanyakan dan jawabannya adalah aku tidak sadar sebenarnya sampai detik ini pun aku masih memilikinya tetapi rasa yang timbul dari ambisiku ternyata tersembunyi ditelan tekanan yang aku jalani. Dunia apakah kalian juga merasakan hal yang sama denganku? Semoga tidak, berharap kita tetap berambisi untuk mencapai apa yang kita harapkan dan tidak lupa ambisi yang kita tanam tetap berada dalam koridor yang tepat. Bagaimana caranya? Pertama, tinjau kembali ambisi yang diharap dan teruslah merevisinya apabila timbul sesuatu hal yang membuat kita menyimpang kepada faktor lain selain faktor pendukung ambisi itu. Kedua, taklukkan ambisi padaNya karena kita bukanlah siapa-siapa istilah lainnya “Man proposes, God disposes” bagiku kalimat itu seperti I’m not belong to myself. Ketiga, ambisi harus membuat kita menerima keadaan kita apa adanya dan mengakui keunikan sesama kita seperti adanya naik turun dalam berkehidupan. Keempat, ambisi hendaknya melahirkan tindakan yang memuliakan namaNya.

Untukmu yang sudah dan akan mengenang, selamat atas tercapinya ambisi yang sudah kalian rindukan dan selamat menikmati ambisi berikutnya. Untuk Anda dan saya yang belum mencapai salah satu ambisi itu tenanglah tetap kerjakan harimu dengan syukur karena semua ada waktunya.

Sebagai penutup tulisan yang menurutku tidak seberapa dibanding mereka yang ahli dalam merangkai kata apabila kita berani berambisi untuk sebuah harapan atau yang sedang dicita-citakan maka beranilah juga menikmati proses yang ada. Entah proses yang menjadikan diri terluka atau bahagia. Tetaplah setia dan jalani dengan cinta walaupun sebenarnya cinta itu menyakitkan. Seperti kata Mother Teresa “Love means to be willing to give until it hurts”.

Selamat menikmati dan berambisi.

Bandung, 5 April 2017

Pagi yang telah menjadi sore dari Penikmat dan penanti