Ada yang Hilang dari Ingatanku

(oleh @ulyauhirayra)
Kemarin kita masih mendengarkan lagu yang sama. Tak terhitung berapa kali kita menggerutu pada mereka yang menganggap musik kita tak bermutu. Beribu kali pula kita berserapah pada mereka yang menganggap musik kita tak lebih dari sampah. Tapi tak jadi soal, toh kekesalan itu tak pernah bertahan lama. Musik kita selalu mampu meredam amarah yang tak perlu. Kita berbagi luka yang sama, kita menemukan kebahagiaan yang sama dari musik-musik kita itu.
Kemarin aku masih mendengar kau memanggil namaku. Kita berjalan di sepanjang jalan kota tua itu, menertawakan apa saja yang bisa ditertawakan, menceritakan segala yang bisa diceritakan. Terkadang kau mengejek langkahku yang seringkali terlalu cepat, dan aku kemudian berusaha mencari celah agar dapat mengejekmu juga. Tawa yang jemawa menemani perjalanan panjang kita saat itu, angkuh mengayun langkah pada kesedihan yang mengikuti di belakang.
Kemarin kau masih berada di sebelahku, dan aku merasa aman karenanya. Kita memiliki kesenangan yang berbeda, tapi musik-musik itu menyatukan radar kita. Aku ingat ketika suatu waktu ada dua pasutri yang berdiri tepat di samping kita saat menyaksikan pertunjukan langsung dari musik kesukaan kita. Mereka terlihat bahagia sekali dan entah siapa yang memulai, obrolan yang menyenangkan mengalir begitu saja di antara kita berempat. Mereka lalu bilang kita berdua mengingatkan mereka pada masa muda mereka yang telah jauh berlalu, dan tiba-tiba saja senyum kita jadi sedikit salah tingkah.
Hari ini ada yang hilang dari ingatanku. Aku telah lupa cara agar tetap bahagia ketika kau tak lagi ada. Dulu aku baik-baik saja saat sebelum mengenalmu, tapi agaknya kini aku telah lupa bagaimana caranya. Sepotong ingatan itu benar-benar hilang. Kucari ke mana jua tak kunjung kutemukan. Kubuka semua catatan, kubaca semua buku, kudengarkan semua lirik, namun nihil..., aku masih tak bisa menemukannya. Aku ingin bertanya kepadamu, tapi aku ingat semalam kau memilih pergi.
Dan sekarang kembali kulihat kesedihan itu, yang kemarin pernah dengan angkuh kita tinggalkan di belakang, mendahului langkahku dan tertawa dengan lantang.