Surat untuk diriku di tahun 2020
Hai, mi. Gimana kabarnya? Udah dimana sekarang?
Aku harap saat kamu membaca surat ini, kamu tidak menyalahi keinginan-keinginan konyolmu di umur 22 tahun. Selalu meminta doa kepada orang-orang agar kamu punya suami yang kuliah atau tinggal di Jepang. Wkk. Ingat gak? Jangan-jangan sekarang kamu menertawaiku dan bergumam,
Aku udah di Jepang beneran tauk
Aku tidak akan bertanya dengan siapa dan bagaimana caranya kau berada di sana, biarkan aku mengeceknya sendiri.
Masih sering baca buku gak? Masih sering nulis gak? Apa tulisannya masih sama aja? Aku harap ada perkembangan dengan tulisan-tulisanmu. Setidaknya memberi manfaat buat orang lain. Nulis resep masakan misalnya.
Oh iya, kamu masih ingat kan target-target yang ingin kamu capai setelah lulus? Apa ada yang terealisasikan? Aku penasaran tentang kelas memasakmu dan rencana berkebunmu saat pulang ke kampung halaman. Apa hanya sebatas target saja? Kuharap tidak ya.
Aku harap surat ini bisa sampai padamu. Dan mungkin saja aku akan mengirimimu surat kembali, sekedar bertanya atau mungkin mengabari jika aku akan datang menemuimu. Titipkan salam pada orang disampingmu.
Salam, dirimu di tahun 2018
Biar ingat: aku menulis surat ini jam 9.50 PM hari Jum’at, 7 September 2018. Beberapa minggu sebelum kamu Yudisium.
