Ilalang.

Di antara salah satu padang yang berisi berbaris-baris dan berjuta-juta lapisan ilalang, aku hanya sebatas tunas pohon yang ingin berjuang untung bertahan hidup.

Kapan aku akan tubuh mengelilingi mereka yang nyatanya lebih tinggi dan mampu menyongsong matahari lebih dulu hanya mimpi belaka.

Angan yang katanya tak akan sampai. Karena aku hanya tunas.

Tunas pohon yang bertahan hidup pun tertatih, tak berarti dengan tubuhku yang tak seberapa besar, mereka (sang ilalang) rela melindungiku dari bejadnya sentuhan dunia. Siksaan dunia bawah lebih kejam, kawan.

‘Siksaan’ di mana aku hanya bisa menunduk dan berkata hal-hal positif, meski aku rela diinjak untuk kali keberapa.

Aku tidak seberapa dibanding ilalang. Tak kutahu pula kapan waktu untukku mampu melampaui mereka.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Re.’s story.