Manifesto Perempuan: Tubuhku Otoritasku

Jumat kemarin, saya menyempatkan diri menghadiri acara Festival Tubuhku Otoritasku. Sesungguhnya, motivasi saya datang cuma untuk melihat dan bertemu dengan beberapa tokoh yang saya kebetulan nge-fans (pengen tau aja gimana mereka kalau di dunia nyata).

Bersama dua teman saya, Teh Chagi dan Mba Febro, kita berangkat ke Kinosaurus, yang letaknya di bagian belakang Ak’sa’ra Kemang. Kami sampai sekitar jam 7 lewat -acara sudah mulai berlangsung. Kelompok kami pun menyebar: Mba Febro ketemu kawan-kawan feminisnya; Teh Chagi mencari ide liputan; saya bengong melihat orang yang lalu lalang.

Agenda hari itu rupanya merupakan puncak perayaan International Women’s Day yang persisnya jatuh tanggal 8 Maret lalu. Kartika Jahja, Dhyta Caturani, Ika Vantiani, dan sejumlah tokoh feminis lainnya menggunakan momen tersebut untuk menyuarakan satu hal: perempuan merebut kembali tubuhnya.

Singkat cerita, kawan-kawan perempuan ini hendak mengkritik kondisi Indonesia yang kian lama kian represif terhadap kaum hawa. Sebut saja, ketika Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang memburamkan belahan dada wanita dengan alasan “menjaga birahi pria dan wanita.”

Lalu, kasus perkosaan dan pelecehan seksual yang memang bukan cerita mengejutkan di Tanah Air. Kebanyakan kritikus atau komentar yang meluncur langsung menyalahkan si korban. “Dia pakai baju apa? Ngapain keluar malam-malam?” dan lain-lain. Intinya, mereka menyalahkan si korban atas ketidakmampuan pria menahan birahinya.

Di daerah-daerah dengan unsur keagamaan kuat, kelompok radikal mulai mengeluarkan aturan aneh-aneh dengan dalih agama. Perempuan harus menutup aurat. Tak boleh berduaan. Tak boleh naik sepeda motor ngangkang. Oh, hal paling tolol yang pernah saya baca di daerah ini adalah ketika korban perkosaan justru mendapat hukuman cambuk. Rasanya bodoh.

Kisah-kisah ini adalah cerminan umum di negara dengan unsur patriarki kuat. Perempuan adalah kaum yang terpinggirkan -strata terendah dalam suatu piramida kekuasaan. Negara dan kaum pria berlaku memiliki kuasa penuh atas kaum ini -baik untuk nasib atau tubuhnya. Tubuh perempuan bukanlah miliknya sendiri, tapi juga milik publik. Berbeda jauh dengan laki-laki yang memiliki kontrol penuh atas badan dan nasib mereka dalam banyak hal.

Tak jarang, kaum perempuan justru ikut melestarkan budaya patriarki dan membatasi tubuh mereka. Kadang, justru kaum yang otaknya telah terpatriarki (atau kadang, teragamisasi) ikut mengekang perempuan lainnya. Kebebasan, yang dielu-elukan Indonesia sebagai negara demokrasi, rasanya hanya mitos belaka kalau dihadapkan pada kaum hawa. Perempuan yang memiliki otoritas penuh atas tubuh dan nasibnya, malah dipandang sebagai sesuatu yang salah.

Suara-suara inilah yang disampaikan Tika dan kawan-kawan melalui berbagai media: lagu, video, hingga open mic. Dari semuanya, yang terakhir menurut saya paling menarik. Mendengar orang berbicara mengenai apa yang meresahkan, pendapat, dan pandangan mereka terkait masalah otoritas tubuh perempuan.

Beberapa yang saya suka adalah sampaian tentang:

  • Hasil pencarian makna kata ‘lelaki’ dan ‘perempuan’ di satu search engine. Lelaki hanya memiliki satu definisi singkat. Sementara perempuan memiliki serentetan panjang, dan sebagian besar berkonotasi negatif.
  • Dengan merepresi tubuh dan hak perempuan, justru lelaki tengah menunjukkan kelemahan dan ketidakberdayaan mereka.
  • Perempuan juga bernafsu saat melihat lelaki semok dan seksi. Tapi kami tak lantas menyerang dan memperkosa. Kami tahu cara mengendalikan dan mengontrol diri.

Setelah saya pikir-pikir, betul juga. Rasanya sudah terlalu banyak yang mencampuri urusan perempuan saat ini, baik tubuh, nasib, hak, hingga moralitasnya. Tapi untuk laki-laki? Rasanya jarang sekali.

Saya belum pernah dengar ada sekolah yang saat budi pekerti mengajarkan laki-laki untuk menghargai hak perempuan. Belum ada yang memberi pelajaran pada lelaki tentang cara berpakaian yang baik dan tertutup. Tak ada yang memberitahu lelaki untuk tak pulang malam karena bahaya. Jangan berjalan sendirian karena takut diperkosa.

Tak ada yang memberitahu kaum adam kalau birahi mereka adalah tanggung jawab mereka sendiri, bukan kaum hawa.

Aneh kalau ada yang memikirkan hal ini dan tak berpikir: “Ini tak adil!” Ketika kaum laki-laki memiliki kebebasan yang lebih. Saya rasa, negara ini harus merombak ulang semua pandangan bodoh yang memarjinalkan kaum hawa, entah apapun dalil dan dasarnya. Cukup ingat satu hal saja, yang juga tercantum dalam sila ke-2 Pancasila: Kemanusiaan yang adil dan beradab.

Terlepas dari seks dan gender, kita sama-sama manusia. Berlakulah adil pada sesama.

Sebagai bonus bagi perempuan yang tak hadir pada manifesto tubuhku otoritasku kemarin, berikut isinya:

Ini suaraku tuk tubuhku,
Ini otoritasku.
Yang ku teriakkan, kenakan, adalah pilihanku.
Dan sahabatku laki-laki,
tanpa izinku kau tak masuk ke wilayahku.
Ini suaraku tuk tubuhku,
Ini otoritasku.
Ini milikku tuk kubuka atau tutupi,
bukan parameter moralitas dan harga diri.
Perempuan-perempuanku semua,
kita rombak dan dobrak stigma usang mereka.