Pengkhotbah Harus Distandardisasi

Anda mungkin pernah merasakan seperti saya ketika hadiri ibadah jumat di mana di saat itu pengkhotbahnya adalah seorang yang membosankan. Membosankan dalam artian materi khutbah yang sangat tidak jelas. Sebagai contoh, saat jumatan tadi, pengkhutbahnya adalah seorang yang beberapa kali imam di masjid tak jauh dari kosan saya. Rumah pengkhutbah kelihatannya tak jauh dari masjid soalnya saya sering berpapasan dengan beliau. Pengkhutbah ini memang lancar dalam membaca alquran namun tidak dengan materi agama. Itu terlihat ketika beberapa kali beliau ceramaah, isi ceramahnya sulit diterka : itu-itu saja. Sebagai contoh, saat beliau akan menerangkan definisi “rabb”, beliau justru tidak menerangkan, malah menukil ayat-ayat yang ada kata “rabb”-nya seperti “… rabbil ‘aalamiin” dan “.. “rabbin nass”. Ini jelas tidak nyambung. Selain itu beberapa ayat ditafsir secara serampangan dengan tanpa menukil sumber.

Ini adalah realita dan saya kira perlu ada tindakan yang pas menangani hal ini. Bayangkan, sebagian besar umat Islam negeri ini adalah umat yang tidak membaca alias kurang begitu dalam pemahamannya akan agama. Beragama kita umumnya minimalis. Nah, hari jumat adalah hari besar Islam yang di sana diwajibkan bagi lelaki untuk mengikuti rentetan ibadah yang satu bagiannya adalah mendengarkan khotbah. Maka, khotbah ini adalah sumber ilmu agama untuk kemudian menjadi “petunjuk” dalam seminggu ke depan. Umat Islam di-”refresh” setiap hari jumat. Lantas apakah belajar agama hari jumat saja ? Tidak, jelas “any time” namun melihat realita umat Islam di atas, patut kita berfikir minimalis dengan menjadikan hari jumat sebagai kunci.

Jika umat menjadikan jumat sebagai kunci mendapatkan petunjuk agama, bagaimana jika pengkhotbahnya bukan seorang yang kompeten ? Umat akan semakin kacau pemahaman agamanya di tengah perubahan dunia yang sangat cepat ini. Nilai-nilai agama akan semakin jauh dari umat karena hari ibadah jumat tak lagi mampu sebagai filter. Saya tambahankan hari jumat sebagai parameter karena pada saat itu masjid penuh dengan umat dibandingkan dengan hari biasa lainnya. Maka dari itu, perlu adanya cara bagaimana menstandardisasi pengkhotbah agar materi yang akan disampaikan mengandung pengetahuan agama yang sesuai dengan al-quran dan sunnah.

Standardisasi Pengkhotbah

Definisi pengkhotbah yang terstandardisasi berbeda dengan apa yang rencananya akan dilakukan Pemerintah melalui Kemenagnya yang sarat politik itu. Tujuan saya jelas bahwa saya mengharapkan umat yang kurang mendalami agama ini menjadi terbantukan dengan ibadah jumat. Mereka menjadi tahu tentang apa yang termuat dalam al-quran dan sunnah. Syukur-syukur pasca jumatan, mereka semakin giat dalam mengkaji nilai-nilai ajaran Islam. Atas dasar tujuan tersebut, langkah ini perlu dilakukan secara sistemik dengan melalui organisasi yang memayungi umat Islam Indonesia yaitu : Majelis Ulama Indonesia (MUI).

MUI perlu membuat kriteria pengkhotbah jumat. Sebagai contoh telah kuasai Tafsir Hamka dan hafal 1000 hadits dengan pemaknaannya. Setelah dapatkan kriteria selanjutnya baru diuji coba di beberapa kota besar di Indonesia melalui kerjasama erat dengan ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, dan Persis. Hal ini dilakukan supaya langkah ini dapat dilakukan secara tersistem melalui ormas yang memiliki struktur dari pusat ke daerah. Selanjutnya, pengkhotbah yang lolos kriteria akan mendapatkan insentif berupa beasiswa buku dan melanjutkan studi agama. Ini demi untuk menambah kapasitas pengkhotbah.

Melalui langkah ini saya berharap sekali umat ini bisa sedikit tercerahkan di tengan budaya konsumerisme yang semakin menjangkiti umat.

*) Gambar diambil di google image