Bapak, Usianya (masih) 22 tahun

Bapak, anak kelima dari dua belas bersaudara dengan ketiga kakaknya sudah menghadap Yang Maha Kuasa pada saat kecil karena penyakitnya masing-masing. Satu kakaknya perempuan, enam adik laki-laki (satu sudah meninggal juga saat kecil), dan satu adik bungsu perempuan. Urutan kelahiran tersebut membuat Bapak menjadi anak laki-laki pertama di keluarga yang besar itu. Anak laki-laki pertama yang identik dengan anak andalan keluarga.

Bapak, seorang pendiam berwatak keras senang menjahili teman-temannya, sangat senang ketika Ia memiliki motor bebek pertamanya. Sebuah pemberian dari Nenek untuk cucu laki pertama. Motor bebek yang masih jarang berkeliaran di jalanan saat itu.

Saking senangnya dengan motor bebek itu Bapak selalu bepergian, dari pagi hingga larut malam. Bapak pergi ke tempat manapun yang ingin Ia sambangi. Bapak pergi ke Garut seorang diri. Sukabumi, Cianjur, Ciamis, dan tempat lainnya. Bapak pergi sendiri saja. Saat itu, Bapak berusia 22 tahun.

Bapak jadi tahu semua tempat beserta sejarah tempat itu. Kata Bapak, Ia melakukan hal tersebut supaya Ia punya cerita untuk anak-anaknya. Seorang Bapak pemberani yang senang bertualang. Supaya anaknya juga bertualang seperti dirinya. Supaya anaknya juga pemberani seperti dirinya. Walau Ia tak pernah secara eksplisit mengungkapkannya, anaknya tahu maksud dari Bapaknya itu. Tau darimana? Ya, karena dia anaknya. Dan dia bapaknya.

Kembali ke petualangan Bapak, singkat cerita Ia menjadi senang berkeliaran dengan motornya. Bak seorang pungguk mendapatkan bulannya. Ibu dari Bapak tersebut merasa khawatir. Tingkah Bapak membuatnya merasakan sesuatu yang ganjil.

Ibu dari Bapak itu seorang wanita yang telah melahirkan dua belas anak dengan pikiran konservatif namun pejuang tangguh. Ia yang memprakarsai membangun pembatas antara sungai dengan pemukiman warga di daerahnya. Terkenal sampai seluruh daerah dan sering dipanggil Nyai. Panggilan hormat warga terhadapnya.

Ibu dari Bapak tak senang anaknya berkeliaran setiap waktu. Berbahaya, di benaknya. Ibu dari Bapak merasa ada yang salah dengan motor pemberian Nenek itu. Yang ada di pikiran Ibu dari Bapak itu adalah kekuatan magis di motor tersebut telah memengaruhi anaknya.

Tanpa kompromi dengan Bapak, Ibu dari Bapak itu menaruh sesajen tepat dibawah motor Bapak. Dengan harapan Bapak tak lagi mengendarai motor hingga lupa waktu. Bahkan kalau bisa tak usahlah Bapak mengendarai motor.

Tiba suatu waktu. Didapati sesajen menghalangi motornya, Bapak menendang sesajen tersebut dan pergi mengendarai motor bebeknya lagi.

Like what you read? Give Uttarā a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.