Cinta Pertama

Bandung, Desember 2015

Udara yang ku hirup kali pertama
kini entah dimana
Kadang aku bayangkan ia kekasih
yang akan bersedih bila aku tiada
Sebab ia tahu
baginya kubuka rahasiaku kali pertama
Aku tak peduli berapa laksa tubuh
Ia masuki sebelum dan sesudahku
Pengalaman pertama ku dengannya selalu kuulang
Sampai aku mati dan ia kan sedih
Seperti yang ku bayangkan

Sitok Srengenge, penyair liberal yang sedang kusenangi. Terutama melalui puisi Cinta Pertama-nya. Entah mengapa, ada desir rasa cinta yang misterius tiap kali ku baca puisinya ini. Dia menyampaikan rasa cinta pertama yang gelap, cinta pertama yang berujung pada sebuah konsep kehilangan.

Ada sedikit rasa kecewa ketika mengetahui Sitok terjerat sebuah kasus. Ada sedikit rasa penyesalan ketika ku mencari tahu seluk beluk penyair yang kusukai, karena terkadang ku masih mendewakannya. Manusiawi, memang. Ku berekspektasi dan berimajinasi tentangnya melalui tulisan-tulisannya. Ketika ekspektasi tak terpenuhi, kecewalah sudah.

Tapi tidak untuk sekarang. Aku belajar untuk menghargainya karena karyanya. Dia bukan dewa. Dia manusia biasa, sama sepertiku. Aku tak lagi ingin melihat ia sebagai manusia, tetapi sebagai tulisan. Tulisan yang kutahu takkan mengkhianati makna.

Like what you read? Give Uttarā a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.