Cin(T)a
Ini kali pertama ku menulis sebuah review film. Bermula dari mengisi waktu luang dengan menonton film, randomly I chose Cin(T)a. Film yang sangat menarik dan cukup sayang kalau terlupakan begitu saja.
Bandung, 9 Desember 2015.
Kali pertama saya menonton film ini saya banyak tertawa karena ada banyak hal yang membuat saya tergelitik. Mulai dari beberapa dialog yang digunakan, bagaimana aktor wanitanya berakting (khususnya dalam berdialog), hingga shoot-shoot yang selintas terkesan kancut bahkan tidak perlu. Namun ketika saya selesai menonton film, ada perasaan mengganjal yang membuat saya kembali mengulang menonton film tersebut. Ternyata, ada hal berbeda yang saya dapatkan dari menonton film untuk kedua kalinya ini. Itulah yang saya tuangkan dalam tulisan ini.
Film ini menceritakan sebuah kisah cinta wanita Jawa Muslim bernama Annisa dengan pria Tiongkok Kristen bernama Cina dengan Tuhan berada diantara keduanya. Annisa seorang artis cantik terkenal merupakan mahasiswa tingkat akhir jurusan Arsitektur. Dan Cina adalah mahasiswa Arsitektur yang baru masuk. Satu perbedaan menarik yang diangkat, yakni hubungan cinta antara wanita yang lebih tua dengan pria yang lebih muda, yang mana di Indonesia hal ini masih belum lumrah adanya.
Dalam film, karakter Cina dibangun dengan watak religius, pekerja keras, pintar, dan percaya bahwa perbedaan ada untuk saling melengkapi. Cina yang sangat menjunjung tinggi perdamaian. Cina memaknai bahwa Tuhan adalah perancang terbaik yang pernah ada (architect). Berbeda dengan Annisa yang menganggap Tuhan adalah sutradara (director) dan manusia hanyalah aktor-aktor yang dimainkan di dalam film kehidupan.
Film ini sangat memaknai bahwa dunia hanya milik berdua untuk orang yang sedang jatuh cinta. Dari awal sampai akhir, film ini konsisten hanya menunjukkan dua wajah, yakni Annisa dan Cina. Tokoh-tokoh lain yang muncul dalam film tidak diperlihatkan secara jelas, yang ada hanyalah suara-suara dialog oleh tokoh lain tersebut. Film ini berusaha untuk membangun dunia yang terfokuskan pada Annisa, Cina, (dan Tuhan). Pada dasarnya, hidup ini adalah tentang aku dan Tuhan yang tahu. Ketika manusia sedang berusaha mencinta, ada konsep dia yang diangkat. Dia yang mulai dilibatkan dalam hidup. Tokoh-tokoh lain tak ubahnya suara-suara bising yang mau tak mau harus didengar, baik maupun buruk. Mereka memang suara, tapi mereka memberikan pengaruh dalam hidup seseorang.
Film ini benar-benar memainkan rasa secara implisit dan eksplisit. Dialog menjadi ruh yang cukup kuat dalam film ini. Semua perdebatan, bahkan perang batin, tersampaikan melalui dialog-dialog yang diucapkan oleh kedua tokoh. Tetapi diam dan saling tatap antarkedua tokoh pun tak sedikit ditampilkan yang sangat memainkan rasa bagi yang menonoton. Selain itu, pemaknaan film dilakukan lebih dalam secara implisit melalui objek-objek yang ada dalam film. Sesederhana menyampaikan 'pemikiran' Cina akan Tuhan melalui kaos yang dipakai. Atau shoot wayang-wayang saat adegan Cina dan Annisa berciuman yang mengisyaratkan bahwa manusia ibarat wayang dan Tuhan adalah dalangnya.
Banyak konflik yang diangkat dalam film ini dengan tetap berakar pada konsep perbedaan. Salahsatu perbedaan dalam menyebut Tuhan dengan nama berbeda dan menyembahnya dengan cara yang berbeda. Kenyataan bahwa Annisa telah dijodohkan oleh orangtuanya dengan seorang Cina Muslim. Kenyataan bahwa Cina mencari istri yang lebih mencintai Tuhan daripada dirinya. Dan issu perbedaan diantara mereka pun bukanlah sesuatu yang dihindarkan, melainkan sesuatu yang selalu mereka perbincangkan. Cina dan Annisa mengemas setiap perbedaan yang mereka miliki dengan begitu manis dan sederhana.
Dialog-dialog yang dibangun sarat akan makna dan filosofis, seperti dialog saat Annisa dan Cina sedang bermain putar-putar,
"Kenapa Allah nyiptain kita beda-beda, kalau Allah cuma pengen disembah dengan satu cara."
"Makanya Allah nyiptain cinta, biar yang beda-beda bisa nyatu. Tapi tetep, yang bener cuma satu"
atau,
"Dunia ini udah kebanyakan agama, kebanyakan Tuhan"
atau
"Lo kira kenapa Tuhan nyiptain atheis? Cape tau disembah dan dipuja semua orang setiap saat"
dan masih banyak lagi dialog-dialog lainnya yang semakin memberikan nyawa dalam film ini.
Hal lain yang menarik dari film ini adalah konsistensi yang dibangun dari awal hingga akhir film, seperti keberadaan semut dalam banyak scene di film ini. Bahkan semut digunakan sebagai media untuk menunjukkan karakter Cina lebih dalam lagi. Hingga menuju akhir film, semut seperti menjadi tanda titik pemberontakan Cina. Atau apel hijau. Di benak saya, apel hijau ini adalah upaya memvisualisasikan hukum newton ala Cina yang beberapa kali disinggung dalam film.
Terakhir tentang teknis, saya pernah mengikuti suatu workshop pembuatan film, dan disitu disebutkan perihal sound pengisi film. Mereka bilang bahwa backsound menjadi hal yang cukup penting untuk diperhatikan dalam pembuatan film. Ketika bagus penonton cenderung tidak akan ngeh atau mungkin biasa saja, tetapi ketika buruk penonton akan sangat notice dan complain for that. Dalam film ini, backsound yang ada sangat memberi nyawa dalam film. Bukan hanya sekedar pelengkap dan pemanis, tetapi memainkan emosi. Saya cukup notice untuk setiap backsound yang ada, bukan karena buruk tetapi keberadaannya cukup menonjol. Tetapi untuk beberapa part, saya cukup merasa terganggu dengan beberapa backsound tersebut. Sedikit menimbulkan tanya, mengapa backsound-nya ini yaa?
Ketika menuju akhir, konflik yang dibangun lebih terasa lagi. Terutama untuk Cina. Konflik agama, pengeboman gereja-gereja di berbagai tempat saat Malam Misa, menjadi penyulut pemberontakan dalam diri Cina. Beasiswa yang tidak dia dapatkan padahal dia sudah memperoleh nilai tertinggi. Hal ini menjadi cerminan bahwa tak sedikit orang-orang pintar di Indonesia yang merasa tidak diapresiasi dengan baik. Belum lagi, dunia yang mengkhianati. Perdamaian yang tidak dia dapatkan.
Pemberontakan Cina semakin menjadi. Cina yang semula menolak dicium oleh Annisa, pada scene akhir-akhir malah mencium Annisa lebih dahulu. Bahkan dalam scene tersebut Cina berujar, "Lebih baik gausah ada Tuhan. Gausah ada agama. Ga ada perang. Kau suruh aku masuk Islam pun aku mau." Adegan film pun dilanjutkan dengan tetiba Cina meninggalkan Annisa, dan Annisa terduduk dengan nanar. Adegan tersebut cukup membingungkan. Namun bila me-rewind, Annisa pernah berucap ketika Cina menawakan Annisa untuk pindah agama, "Yakin lo masih mau sama gue? Tuhan aja berani gue khianati, apalagi lo ntar." Hal tersebut menjadi awal perpisahan mereka. Annisa melanjutkan perjodohannya dan Cina pergi ke Singapura dengan menggenggam beasiswa yang didapatkannya.
Scene akhir yang cukup filosofis lagi adalah shoot Cina menggunakan kaos "God is a Director". Film ini berhasil menunjukkan peran Tuhan dalam kehidupan manusianya.
Dikutip dari kalimat pembuka film,
"
Dear God,
in Your Majesty, You create differences
in my arrogance, I question Your wisdom
in Your mystery, You create temptation
in my inferiority, You make me more than I am.
so here I am.
Surrender me in the agony of Your love.
Surrender me in the irony of Your law.
Lead me to the joy of love re divined.
Teach me how to love You more
".
This is it? Ya, this is it.