Catatan di Kereta
Jakarta, 11 Agustus 2016
Hari ini aku menulis di dalam kereta. Di tengah himpitan tubuh dengan tubuh lainnya, pertarungan memeroleh oksigen, dan perasaan berkecamuk yang menghantarkanku pada rasa ingin kembali pulang.
Sebentar lagi kereta sampai Cawang.
Aku memproyeksikan diriku berada di tengah lapang dikeliling bukit. Sepoy anginnya membelai pipi. Lalu tetiba, hujan turun dengan ganas. Tak biasanya kutakut hujan. Aku hanya berani menerka apa yang terjadi dalam pejaman mata. Saat itu Kamu datang. Tidak membawa payung untukku. Tapi kamu bersenandung. Senandung pengusir hujan.
Kereta tiba di Duren Kalibata.
Aku berada di belahan bumi yang hanya langit bisa ku tatap. Bagian bumi ini tak berpenghuni. Bahkan pohon tak nampak batang dan daunnya. Seketika ku merasa buta warna. Karna yang kutangkap hanya warna oranye. Kala bumiku sedang senja.
Sekarang sedang di Pasar Minggu Baru.
Sampai kubuka SMS dan ku tertawa dengan nyinyir. Ada pesan lawakan yang masuk entah dari siapa. Katanya Jakarta akan segera tenggelam. Bukan karena air bah atau banjir bandang. Tapi karena tawa orang-orangnya untuk mereka yang pilu hatinya. Untuk mereka yang sepi hidupnya. Tawa tanpa henti, tanpa belas kasih.
Tiba di Pasar Minggu.
Dia sedang sibuk dengan sapu dan daun-daun yang bertebaran. Tak ada lagi kawan selain debu dan jalan serta orang yang lalu lalang. Dia terlalu sibuk mengais dari daun yang Dia kumpulkan. Bukan main berat beban di pundaknya. Teringat Ibu di rumah yang terkhianati presiden yang sudah Ia pilih. Dikhianati harga sembako yang terus membumbung tinggi tanpa iba. Katanya Dia bisa mengubah nasib, tapi nasib hanya mempermainkan dirinya.
Tanjung Barat.
Teringat setiap tulisan yang kau buat. Berani membaca pun tidak. Karena yang kutau, pembunuhan paling keji yang kaubuat adalah kata-katamu. Katamu si penyabut nyawaku.
Menangis sampai di Lenteng Agung.
Blank. Semua catatanku hilang. Ibarat putus cinta rasanya. Kemana semua kata yang telah kutorehkan? Tersapu sinyal yang timbul tenggelam. Tanpa permisi beraninya Ia merenggut setiap butir hurufku. Aku mengulang kembali.
Stasiun Universitas Pancasila.
Melamun. Bersiap-siap untuk turun. Mendapati hujan besar diluar. Aku tak boleh turun di Pondok Cina (lagi). Aku harus turun di stasiun yang tepat.
Stasiun Universitas Indonesia.
Hujan besar. Tangga barel, gang barel, Margonda. Kaki basah, celana kugulung. Aku lelah ingin cepat tidur. Takperlu senandung itu, aku punya payung. Bahkan hitam kelam, bukan oranye senja yang kudapati. Tak satupun sms masuk, juga orang dengan sapunya.
Aku cuma mau tidur.