One Fine Morning

Pantai dari Tebing

Basah rumput di pagi yang menyapa

Terasa lembut

Dia baru muncul perlahan

Malu-malu

Semalam bercerita tentang hamparan langit berbintang

Debur ombak yang tak tertelan putaran waktu

Ku datang dan disapa

Ku datang dan melepasnya

Bersama suara ombak dan bintang malam

Terpejam, menghela napas


“Masa muda masa yang berapi-api…” — Bang Oma

Tak salah memang ungkapan dalam suatu lirik lagu tersebut, “Masa muda masa yang berapi-api…”. Sekitar pukul 9 malam kami memulai perjalanan yang cukup jauh dari koordinat kami berada sekarang. Dari Bandung menuju Rancabuaya sekitaran Garut Selatan. 115 km kiranya jarak yang harus kami tempuh.

Penat dan bosan dan ingin pantai membutakan kami. Tak peduli jam berapa itu, tak butuh waktu lama untuk persiapan, yang kami tahu kami ingin pantai dan rehat sejenak.

Tak pikir panjang dengan resiko yang akan kami hadapi dalam perjalanan ini, begalkah itu, rasa kantuk, uang pas-pasan, atau mitos-mitos yang ada, kami tetap berangkat.

Tak lupa mampir sebentar di suatu toko untuk membeli makanan. No food, no joy haha.

Kepala keluar jendela, menengadah. Bintang udah kayak serbuk, banyak banget!

Jalanan berliku, panjang, dan memabukkan. Beberapa kali kami terhenti karena salah satu diantara kami merasa mual. Tapi sesering itu pula kami terkagum-kagum dengan langit. Bintang bertaburan. Bintang-bintang ini sudah tak nampak lagi dari Bandung. Mereka enggan menampakkan diri, mungkin. Atau tertutup dengan kemegahan kota yang ada, mungkin.

Langit berbintang di Pantai Puncak Guha. Salahsatunya mungkin adalah Kamu yang sedang melihatKu. Sudah menunggu jutaan tahun lamanya.

foto by Fahroel

Ya! Banyak banget. Cukup tidur terlentang di atas matras, tak perlu mendengarkan musik atau nyanyian, karena orkestra debur ombak sedang dimainkan. Berkolaborasi dengan angin. Apalagi yang bisa ku keluhkan? Hanya perlu melepas satu per satu pikiran yang mengganggu. Terserap ke dalam bumi yang menjadi alas.

Ini tak seperti yang kubayangkan. Ku berada di tempat yang menyenangkan. Tanpa harus ku berlari, hatiku serasa sedang berlari. Padang savanna! Seperti di Sumba…

Bisa apa? Foto-foto tentunya. Dan terkagum-kagum. Dan melancholic.

Dan terahir, bersyukur. Masih bisa menjejakkan kakiku di belahan bumi berbeda.

Perjalanan seperti apa lagi yang kan ku temui di sepanjang jalan ini?

***

Like what you read? Give Uttarā a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.