Aku Ingin Hidup Biasa-biasa Saja

Utami Nurhasanah
Sep 8, 2018 · 4 min read

Gödöllö, Hungary

8 September 2018

Tami, aku ingin jadi orang biasa-biasa saja.

Suatu malam saya pernah mengajukan pertanyaan pada teman-teman saya: apa yang kamu ingin orang-orang kenang atas dirimu?

Ketika rata-rata orang menjawab ingin dikenang sebagai kenangan baik, A bilang ia ingin dilupakan. Alasannya? Karena kadang orang terlalu ingin diingat sebagai ‘sesuatu’ terus jadi pretensius. Dia menjeda ucapannya dengan tertawa lalu meneruskan, saya ingin hidup riil dan biasa-biasa saja.

Terus terang, ini bukanlah jawaban yang saya perkirakan. Saya mengira orang-orang akan secara absolut dan praktis ingin dikenang sebagai orang baik. Atau setidak-tidaknya, ada kenangan baik mereka yang melekat di hati orang-orang. Ternyata tidak demikian.

Dan terus terang, jawaban A benar-benar membukakan visi saya soal hidup dan kebermanfaatan dalam hidup.

Saya jadi teringat akan sosok Kaho di drama Jepang Nobunaga Concerto. Kaho adalah pelayan istri Nobunaga Oda yang jatuh cinta pada tangan kanan Oda, Tsuneoki Ikeda. Pada sebuah sore yang damai, Tsuneoki bertanya soal apa yang paling diinginkan oleh Kaho. Barangkali, di benak Tsuneoki yang kala itu ingin mempersunting Kaho, ia akan diminta membelikannya permata atau mahar. Lain dari anggapannya, mimpi Kaho yang sejati adalah hidup biasa-biasa saja. Hidup normal. Bisa hidup dan menghidupi. Reaksi Tsuneoki saat mendengarnya? Sama seperti saya yang menonton: takjub.

Dua jawaban lintas-dimensi itu terus tertinggal dalam benak saya. Apa yang dimaksud biasa-biasa saja? Apa itu hidup dan menghidupi? Apa itu hidup riil?

Apa karena kita punya tujuan lantas menjadikan kita sebagai orang yang hidup tidak riil? Hidup dalam angan yang penuh namun mengosongkan; dalam harapan yang hidup namun mematikan?

Seandainya bisa, saya ingin menyintesa semua formula yang mereka hipotesakan dengan paripurna. Apa daya, sebab tiap pribadi pun punya terjemahan masing-masing tentang cara Bumi bekerja, sehingga saya hanya bisa menaksir sedikit saja. Bahwa, hidup biasa-biasa saja adalah hidup yang memahami batas dan hidup di belakang batasnya.

Ada orang-orang yang memiliki tujuan dan sungguh-sungguh menjalani hidup yang linier dengan tujuannya. Lurus dan ambisius. Di satu titik, hasrat dan gairah tentu dibutuhkan untuk menghidupkan mimpi. Akan tetapi, jika keduanya dititikberatkan terus menerus hingga upaya pemenuhannya tak punya batas, maka itu berarti tidak biasa. Dan kalau menurut teman saya itu, dia akan menjadi orang yang pretensius — orang yang belagu.

Saya agak ragu mengalihbahasakan pretensi ke kata belagu. Kalau mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pretensi adalah nomina yang artinya: (1) keinginan yang kurang berdasar; (2) perbuatan berpura-pura; (3) alasan yang dibuat-buat; (4) dalih; sementara berpretensi adalah kata kerja yang artinya berpura-pura; berlagak.

Dalam konteks yang dibicarakan teman saya, pretensi yang ia maksud sepadan dengan kata belagu. Jadi, belagu-lah arti kata pretensi itu di sini.

Itu artinya, menjadi orang biasa-biasa saja tidak serta merta menjadikannya orang yang tak punya tujuan. Mereka punya tujuan, namun sederhana saja dalam menghidupkan dan menghidupinya. Tidak ngotot dan tahu batasan. Ah! Itu dia kata yang tepat bersanding dengan biasa-biasa saja: sederhana! Dan boleh jadi tujuan orang-orang yang ingin hidup biasa-biasa saja ini memang menjadi orang yang hidup sederhana-sederhana saja. Bersahaja. Secukupnya. Mereka tahu kapan harus dan akan mengerem hasratnya. Karena mereka tidak berlagak, mereka tak akan menemukan kejatuhan moral kala congkak memukuli mimpinya sampai tiada. Mereka hidup riil, nyata, tak dibuat-buat dan membuat-buat buat menegakkan misinya.

Dan, sekarang, saya pun ingin menyetujui ucapan teman saya itu. Saya ingin hidup biasa-biasa saja.

Saya ingin mengamini kebahagiaan segenap teman saya. Saya ingin terduduk di kursi malas dan mendengarkan kisah-kisah ajaib dari setiap sudut kota. Saya ingin kedamaian bagi setiap orang. Saya ingin bermanfaat dengan biasa-biasa saja, baik buat diri sendiri atau bagi orang lain. Saya hidup, namun juga bisa ‘memberi’ ke-hidup-an pada sesama. Saya bisa menghidupkan hidup orang lain tanpa perlu meredupkan hidup yang saya punya. Hidup yang menghidupi dan menghidupkan.

Saya tidak ingin pura-pura memiliki ini itu agar bisa dianggap sukses atau agar bisa menjadi pembicara TedTalks lalu mendapati audiens bertepuk tangan sambil berdiri. Saya mau senantiasa tersungkur saat ada di atas sajadah dan bersyukur pada Allah. Setiap sore menunggu maghrib dengan ngobrol sekeluarga. Sejahtera apa adanya.

Sebab kepura-puraan tidak akan membawamu kemana-mana. Kamu akan hidup dalam kebahagiaan yang juga tak nyata. Pada akhir laga, kamu cuma bisa berlagak tanpa memenangkan apa-apa. Kamu mungkin akan bahagia, tapi kamu akan kehilangan banyak hal yang tak kausadari di jalanmu menuju kemenangan. Dan kebahagianmu tak akan penuh, kan? Kosong, begitu saja. Melelahkan dan hampa.

Lalu, kalau kamu, ingin dikenang sebagai apa?

Tulisan ini tidak pernah diniatkan untuk pamer atau menunjukkan kecintaan saya pada leksipanikisme. Saya sama sekali biasa saja pada kata-kata tinggi dan tak pernah berkeinginan untuk menjadi orang yang penuh pretensi. Malah bagi para intelektual, boleh jadi tulisan saya ini dangkal atau semenjana. Betapapun, saya hanya niat curhat. Setiap amalan tergantung niatnya, kan? Nah, soal niat ini, saya rasa bisa juga dijadikan acuan dalam menarik batas. Soal niat ini bisa dibahas lebih lanjut. Akan tetapi, karena batas saya dalam berbagi cuma sampai sini, maka saya undur diri! Sampai jumpa lagi!

Ditulis selama 11 jam.

Selesai pukul 18.47 Waktu Musim Panas Eropa Tengah.

Ruang F006.

    Utami Nurhasanah

    Written by

    Penyuka bandrek, teh lemon hangat, coklat panas, kopi rendah kafein, dan obrolan yang mengiringinya. Mengharapkan kedamaian bagi tiap insan.