Mungkin aku terlalu memaksa agar kamu tetap ada disampingku, menjadi segalanya untuk ku. Hanya aku.
Ya, itu egois bukan? Tapi tunggu, bukannya dulu kita berjanji untuk saling mempertahankan? Dan saat aku coba untuk mempertahankanmu kau malah tak suka. Kau yang kenapa atau aku yang harus bagaimana?

Saat sempat kecewa untuk beberapa kali tentu aku bisa terima, namun saat kau seakan berat untuk memilihku di depannya, itu yang buat aku cukup dalam terluka. Tapi entahlah, ternyata cinta tetap bisa membekukan rasa sakit. Aku kembali mengalah.

Ternyata ego-ku tak lebih besar dari ego-mu saat itu.

Mungkin memang benar kata orang cinta tak kenal waktu. Kenangan manis, semua janji, suka duka, ternyata akan hilang seiring kau terlelap saat malam. Benarkan sayang?
Setidaknya itu yang aku rasakan darimu saat ini, aku heran betapa mudah semua itu luntur dari hidupmu, dari memori dan hati yang selama ini aku isi. Seakan walaupun selama satu abad pun kita bersama, ada waktunya diantara kita akan luluh oleh cinta lain yang datang hari kemarin. Selama ini aku teramat takut kau alami itu,

dan ternyata tuhan selalu mencoba kita dengan apa yang kita takuti.

Soal Kemarin, aku hanya coba mempertahankanmu. Dan ternyata kau tak suka itu. Roman wajah sendu dan mata elokmu yang katakan itu semua padaku. Terlampau jelas.
Jujur saja aku hancur dan marah waktu itu, tapi sudahlah kau tentu tak akan peduli lagi akan kecewaku. Ternyata ini yang aku dapat setelah lebih dari 1000 hari bersamamu. Sangat manis bukan?

Aku belajar satu hal disini, ternyata kita tak selalu bisa memaksakan kehendak kita. Walau sejujurnya kau tentu juga memaksakan kehendakmu untuk merasa bosan denganku dan lantas pergi. Sudahlah memang sudah menjadi tabiatnya manusia itu selalu suka memaksakan kehendaknya.

Bukankah manusia selama ini telah menjadi tuhan bagi dirinya sendiri?

Lantas aku berarti harus belajar mulai hari ini.

Aku harus belajar hanya mendengarkan lagu kesukaanku tanpa ikut bersenandung.

Ah sudahlah semoga kau tak salah artikan diksi itu. Aku sudah harus belajar rela untuk tersingkir dari orang yang merebutmu. Aku tak bisa memaksakan kehendakku, karena terkadang aku terlalu lemah untuk sekedar menjadi tuhan bagi diriku sendiri.

Pada akhirnya di ujung tulisan ini aku tak akan menyematkan satu titik pun. Hanya sekedar koma, agar aku berharap bisa teruskan cerita ini dengan akhir bahagia atau bahkan tak ada ujungnya. Seperti yang aku dan kamu selalu lakukan dulu, katanya kita bahagia. Dulu sekali

dan sesekali aku merindukan dulu itu kembali lagi kesini. Saat ini,

Satu tulisan dari "rangkaian patahan hati Nurlaila". (2016)

Bdg di 4 mei