Mengelola Karir, Keluarga, dan Iman

Tantangan umat Kristen, by Phillip Shee

“Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia… Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia… Sama sepeti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia.” (Yoh. 17:15–18)

Umat Kristen sering dikatakan berada di dunia namun bukan dari dunia. Bagaimana hal itu diartikan ke dalam prakteknya? Selain memastikan perilaku dan gaya hidup kita tidak serupa dengan praktik sekuler yang bertentangan dengan ajaran Alkitab, kebanyakan dari kita mempunyai satu bagian yang harus senantiasa kita hadapi, yaitu mengatur prioritas antara karir, keluarga, dan Allah kita.

Menjaga keseimbangan antara hidup dalam dunia sekular dengan bertumbuh dalam kehidupan rohani merupakan sebuah tantangan. Bisakah kita menjadi seorang Kristen yang baik dan berhasil dalam karir pada waktu yang bersamaan? Apakah mungkin kita mencapai potensi karir terbesar dan masih terlihat baik di mata Allah?

Makna Prioritas

Dunia ini seharusnya lebih maju dan efisien daripada masa lalu. Namun ironisnya, kita sering lebih sibuk dan tertekan lebih dari sebelumnya. Lebih efisien, namun punya waktu lebih sedikit — bagaimana kita menggapai keseimbangan antara karir kita, keluarga, dan gereja menjadi masalah yang membutuhkan strategi nyata.

Banyak yang mengatasi tantangan ini secara abstrak dengan membagi kehidupan mereka secara bertahap dan memfokuskannya pada satu daerah pada setiap tahapnya. Proses kita dalam menentukan prioritas seringkali dengan cepat menempatkan karir di peringkat pertama, keluarga kedua, dan gereja ketiga.

Karena inilah kita sering melihat orang-orang Kristen mengalami penurunan semangat pelayanan dan ibadah sembari mengalami peningkatan karir mereka. Kesempatan untuk mencapai prestasi, menerobos ke tingkat pencapaian berikutnya, seringkali terlalu nikmat untuk dilewatkan. Karena itulah, menjaga keseimbangan di sini seringkali berarti:
“Allah bisa menunggu,” atau “Kami akan mengurus keluarga nanti.”

Dalam perumpamaan pesta pernikahan, raja memerintahkan hamba-Nya untuk memanggil mereka yang diundang untuk menghadiri pesta, namun
undangan tersebut diremehkan. Mereka masing-masing pergi, entah ke peternakan mereka atau urusan lain. Raja sangat marah dan mereka dipandang tidak layak di hadapannya (Mat. 22:2–8).

Pada kesempatan lain, Yesus memanggil seseorang untuk mengikut Dia. Meskipun jawabannya tampak positif di permukaan, orang itu meminta Yesus menunggu karena ia harus mengucapkan selamat tinggal kepada keluarganya terlebih dahulu. Yesus menganggap orang ini tidak layak untuk Kerajaan Allah (Luk. 9:61, 62).

Kedua bagian ini mengingatkan kita bahwa menunda-nunda perkara Allah untuk mementingkan karir atau keluarga kita mungkin bukan pilihan yang bijak. Cara yang efektif dalam mengelola waktu dan tenaga kita dimulai dengan kesadaran bahwa ini bukanlah masalah memusatkan perhatian pada sisi-sisi yang berbeda di tahap yang berbeda dalam hidup kita. Keseimbangan yang berhasil juga tidak berporos pada pembagian waktu yang merata.

Sesungguhnya, salah satu cara agar keseimbangan dapat dicapai adalah dengan menjadikan Allah sebagai poros dan segala hal lain diseimbangkan mengelilingi-Nya. Ini berarti perhatian kita satu-satunya hanyalah Allah dan tidak ada yang lainnya.

Hal ini tidak berarti umat Kristen pada umumnya merupakan pekerja tidak bertanggung jawab dalam masyarakat dan pasangan atau orangtua yang lalai di rumah. Sebaliknya, justru karena satu-satunya fokus dan poros kita adalah Allah, orang Kristen harus menampilkan perilaku yang bertanggung jawab baik dalam pekerjaan maupun di rumah.

Semangat untuk melakukan yang terbaik dalam pekerjaan bukan usaha membabi buta dan tak terkendali mengejar upah duniawi, peningkatan karir, atau kepuasan pribadi, tetapi adalah kebutuhan alami orang Kristen untuk melakukan hal yang benar, menjadi teladan, dan memuliakan nama Allah.

Ini terangkum dalam Efesus 6:5–6

Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah.

Demikian juga, karena kasih kita kepada Allah maka secara alami kita akan mencintai dan menyediakan kebutuhan keluarga kita. Seseorang yang mengasihi Allah dan berjalan dekat dengan-Nya akan mengetahui bagaimana memelihara keluarganya dan mengandalkan-Nya untuk membangun keluarga yang kuat dan penuh cinta kasih.

Semakin kita dekat kepada Allah, Dia akan memberikan kita hikmat untuk mencapai keseimbangan yang alami dalam iman, karir, dan keluarga. Oleh karena itu, rumus untuk mengelola tuntutan yang saling berebut waktu dan energi kita benar-benar terletak hanya dengan berpusat kepada Allah.

Ini sangat berbeda dengan menggunakan hikmat diri sendiri yang duniawi, karena dengan mengandalkan kemampuan sendiri pada akhirnya akan menjuruskan kita untuk mementingkan usaha atau pekerjaan kita, diikuti dengan keluarga, dan Allah dan gereja hanya mendapatkan apa yang tersisa dari waktu luang kita.

Meraih Keberhasilan di Dunia Sekular

Orang Kristen yang berusaha melayani Allah mungkin sering menghadapi dilema apakah mereka harus mewujudkan sepenuhnya potensi karir mereka. Dunia pekerjaan senantiasa mengusahakan kinerja yang lebih baik tahun demi tahun dan mendorong orang-orang untuk mencapai tingkat tanggung jawab yang lebih tinggi.

Pertanyaannya terletak pada apakah orang Kristen harus terus mencapai atau menerima posisi yang lebih tinggi dalam karier mereka, yang seringkali mengurangi waktu dan mutu pelayanan kepada Allah. Di sisi lain, apakah orang Kristen dimaksudkan untuk menjadi orang-orang yang kurang berprestasi di dunia walaupun mereka belum tentu demikian? Alkitab tidak melarang orang Kristen berprestasi. Malah ada beberapa contoh umat Allah yang mencapai prestasi yang sangat tinggi. Di usia tiga puluh tahun, Yusuf telah menjadi orang nomor dua di Mesir, peradaban paling maju pada waktu itu (Kej. 41:40–44, 46). Daniel menjadi salah satu dari tiga gubernur yang paling berkuasa di bawah raja Darius (Dan. 6:1–2).

Tetapi ada satu kesamaan dalam beberapa contoh ini. Pencapaian mereka merupakan pekerjaan Allah untuk memenuhi kehendak-Nya. Baik Yusuf maupun Daniel tidak secara aktif mengejar jabatan yang tinggi. Hal yang mereka lakukan adalah melanjutkan iman dan pendirian mereka kepada Allah walaupun menghadapi tentangan.

Ketika digoda oleh istri Potifar, Yusuf tidak bergeming, dan ketika dipenjara, ia tidak bersungut-sungut kepada Allah (Kej. 39:7–20). Daniel tidak meninggalkan imannya untuk menikmati kemewahan Babel dan mempertaruhkan hidupnya untuk terus berdoa tiga kali sehari seperti kebiasaannya (Dan. 6:1–10). Mereka berdua sekadar melakukan hal yang benar. Selebihnya telah disiapkan oleh Allah.

Saat kita melangkah maju dalam karir kita, teladan-teladan di atas mengingatkan kita untuk dengan jujur merenungkan hal-hal ini:

  • Apakah peluang karir ini diusahakan oleh kita atau oleh Allah? Apakah kita bekerja berlebihan untuk menjadi kaya raya, atau mencapai peningkatan karir?
  • Apakah peningkatan jabatan ini mengompori kebanggaan diri kita atau terdapat maksud Allah yang lebih tinggi?
  • Bagaimana keadaan iman kita? Maksudnya, apakah kita dekat dengan Allah sehingga kita sungguh-sungguh berpusat kepada-Nya dan menyerahkan jalan di depan kita dipetakan oleh-Nya? Atau apakah kita telah melenceng dari Allah sehingga kita bertindak sendiri sembari berharap Allah menyetujuinya?
  • Apabila kita mencapai tingkat yang tinggi dalam karir, apakah kita akan mampu menggunakan pencapaian kita untuk memberikan sumbangsih bagi Allah? Apabila ya, apakah kita bersedia melakukannya?
  • Apakah ada pertentangan langsung dengan iman kita? Apakah kita akan menaruh diri sendiri dalam kemungkinan keadaan sulit seperti mengompromikan iman kita?

Sembari mencari jawaban, Alkitab telah meletakkan pengajaran-pengajaran yang berkaitan sebagai berikut:

Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. (Ams. 3:5, 6)
Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkan niatmu ini. Kalau engkau mengamat-amatinya, lenyaplah ia, karena tiba-tiba ia bersayap, lalu terbang ke angkasa seperti rajawali. (Ams. 23:4, 5)
Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Mat. 6:33)

Walaupun keadaan tiap-tiap orang berbeda, memelihara hubungan yang dekat dengan Allah, berdoa dengan giat dan tekun, dan senantiasa mencari hikmat Allah dari Alkitab, pastilah Allah menyediakan pemecahan masalah bagi apa pun permasalahan yang kita hadapi.

Kesimpulan

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Mat. 16:26)

Mari kita bayangkan adegan pesta pensiun kita. Pada hari itu, kita dikelilingi oleh teman-teman sekerja dan rekan bisnis, kita merayakan karir yang gemilang. Pikirkan apa yang akan berpacu melalui pikiran kita? Apakah yang kita sukacita? Apakah yang akan kita sesali? Apakah keluarga kita masih di samping kita, bersukacita dan merayakan bersama-sama kita? Apakah kita dengan tenteram mengetahui bahwa kita telah menjadi garam dan terang dunia? Apakah kita akan bersyukur bahwa Allah telah berjalan bersama kita dan menuntun kita di sepanjang karir kita? Apakah Allah berkenan kepada kita?

Daftar pertanyaannya masih dapat berlanjut. Tetapi untuk saat ini, masih ada waktu sebelum hari itu tiba. Bagaimana kita mengelola waktu dan tenaga kita untuk memelihara kehidupan yang seimbang akan menentukan bagaimana kita memandang karir kita. Pikiran macam apa yang kita inginkan di pesta pensiun kita?