Apakah Layak?

Foto courtesy alm Dodi Mulyana, semoga berkah selalu buat kang alm Dodi

Karena beberapa kali menulis tips wirausaha, kadang ada rekan yang bilang, “Kalau sudah sukses sih mudah wirausaha, tapi kalau masih bekerja resikonya terlalu besar ya…”

Saya garuk-garuk kepala mendengarnya. Namanya pekerjaan ya pasti ada resikonya. Jika kita berwirausaha, pasti ada resiko gagal dan bangkrut, bekerja diperusahaan juga ada resiko, dari yang paling ringan sekedar dimarahi atasan hingga yang paling berat, perusahaannya kolaps dan terpaksa mencari pekerjaan baru.

Cara paling mudah dalam menjawab pertanyaan soal resiko diatas adalah 2 hal :

  1. Sampai Kapan?
  2. Apakah Layak?

Soal “Sampai Kapan?” saya sudah pernah menuliskannya disini. Sedangkan untuk “Apakah Layak?” saya coba uraikan sekarang.

Apakah layak? Apakah masuk akal? Ini pernah saya tuliskan di tahun 2012 di tulisan : Kekhawatiran Saat Hendak Berpindah ke Jalur Wirausaha. Dulu di tahun 2011–2012 adik saya Marsan “Qchen” Susanto bekerja di daerah Sunter. Dari Tambun tempat ia tinggal ke rumah saya saja butuh waktu naik sepeda motor 45 menit s/d 1 jam sedangkan dari rumah saya ke Sunter antara 1 s/d 1.5 jam. Jadi total perjalanan sekitar 2.5 s/d 3 jam. 2.5 s/d 3 jam ini perjalanan berangkat, belum termasuk perjalanan pulang.

Itupun waktu normal, bisa lebih cepat jika ngebut dan mungkin juga bisa lebih lambat jika terjebak kemacetan. Apalagi jalurnya melintasi jalan raya Cakung Cilincing yang lumayan seram karena merupakan jalur truk kontainer/trailer ke pelabuhan Tanjung Priok.

Kadang saya kasihan melihat dia saat berangkat kerja dan mampir di rumah saya karena hujan. Tempatnya bekerja merupakan tempat pengemasan koran, jadi mulai aktif selepas dinihari sampai Shubuh. Berangkat dari rumah sekitar jam 8–9 malam dan kembali ke rumah menjelang Shubuh.

Untuk pekerjaan dengan waktu relatif singkat, gajinya saat itu terhitung lumayan. Tepatnya sih pas-pasan. Jika dibandingkan dengan jam kerja memang lumayan namun jika dibandingkan dengan waktu dan effort yang dikeluarkan, hasilnya tidak sebanding.

Saat ini Qchen fokus di 2 hal. Dia melepas pekerjaannya di Sunter sejak 2012, kemudian membuka toko kecil-kecilan di rumahnya sambil tetap bekerja di Excellent. Paling tidak, ia sekarang bisa tidur normal dan lebih punya waktu untuk hal-hal lain diluar pekerjaan

Itu yang saya maksudkan dengan “Apakah Layak?”. Apakah pekerjaan yang dilakukan saat ini hasilnya sepadan dan masuk akal dengan waktu dan tenaga yang dikeluarkan? Jika tidak sepadan, mau menunggu sampai kapan?

Mengutip ucapan Steve Jobs, kira-kira seperti ini maksudnya :

“If you live each day as if it was your last, someday you’ll most certainly be right.” It made an impression on me, and since then, for the past 33 years, I have looked in the mirror every morning and asked myself: “If today were the last day of my life, would I want to do what I am about to do today?” And whenever the answer has been “No” for too many days in a row, I know I need to change something.

Lha terus, kalau memang begitu, apakah kita lantas langsung keluar kerja? Apakah pasti sukses?

Tentu saja tidak. Kalau dalam bahasa formal, mungkin saya termasuk tipikal orang yang gradual, dalam arti tidak frontal. Dalam melakukan sesuatu saya biasanya melakukan kalkulasi dan membuat pengamanan jika suatu waktu ternyata hasil pekerjaan meleset dari yang direncanakan.

Ini saya kutipkan tulisan saya di artikel “kekhawatiran saat berpindah ke jalur wirausaha” :

“Jangan terjebak dengan keinginan keluar kerja padahal pendapatan pengganti belum stabil. Biasanya wirausaha itu pendapatannya naik turun. Jika naik turunnya masih labil dan tidak bisa dijadikan pegangan, sebaiknya jangan terburu-buru keluar dari pekerjaan.
Banyak motivator wirausaha yang bilang, “Kalau niat wirausaha, keluar ya keluar saja, kalau kelamaan mikir nanti nggak keluar kerja dan nggak pernah wirausaha”. Motivasi ini benar sesuai penempatan konteksnya, yaitu mendorong kita untuk semangat memulai wirausaha, namun tentunya dengan tidak meningggalkan pertimbangan-pertimbangan sehat dan rasional.”

Jadi point saya bukan menyarankan untuk buru-buru melepaskan pekerjaan dan kemudian baru memikirkan langkah-langkah berwirausaha. Point saya adalah :

“Apakah anda mau melakukan pekerjaan yang sama, bertahun-tahun, padahal imbalannya tidak masuk akal dan semakin lama semakin tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan hidup? Apakah kita mau membiarkan anak-anak kita tumbuh besar tanpa ada tabungan pendidikan ataupun tabungan untuk masa depannya karena uang yang ada hanya cukup untuk keperluan hidup sehari-hari? Mau sampai kapan?”

Jika demikian, solusinya seperti apa? Dari saya, saran solusinya ada 2, yaitu :

  1. Berhemat selagi masih bisa berhemat, supaya pendapatan yang ada bisa mengakomodir kebutuhan hidup sekaligus memenuhi kemungkinan peningkatan kebutuhan
  2. Meningkatkan pendapatan, salah satunya dengan wirausaha atau mencari sumber pendapatan lain yang bisa seiring sejalan dengan pekerjaan yang dilakukan

Jika kita sudah berhemat sampai ke titik dimana kita tidak bisa lagi berhemat, itu berarti fokus kita sebaiknya disisi nomor 2 : meningkatkan pendapatan.

Bagaimana caranya meningkatkan pendapatan? Coba saja review beberapa alternatif. Misalnya mencoba melakukan beberapa pekerjaan freelancer atau online atau pekerjaan sambilan yang bisa dilakukan tanpa mengganggu pekerjaan. Siapa tahu ada opsi reseller, atau ada peluang dimana kita bisa membuat dan menerbitkan buku, atau ada peluang lain tanpa perlu modal sama sekali.

Jangan kita berilusi pada diri sendiri. Berharap semua baik-baik saja padahal kita sendiri tahu kalau kita rentan pada perubahan. Jangan kita merasa aman secara finansial padahal kita tahu itu semu karena nyatanya setiap bulan kita selalu kejar-kerjaran dengan kebutuhan yang ada.

Jangan membiarkan hidup kita tidak dapat kita nikmati sepenuh hati kita. Jangan membiarkan kita menjalani hidup yang kita sesali. Jangan biarkan hidup kita ditentukan oleh keadaan yang tidak dapat diantisipasi.

Karena, hidup kita milik kita, susah maupun senang, kita juga yang menjalaninya…