Berkembang Secara Mandiri

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat pesan WhatsApp dan pesan Facebook Messenger dari seorang rekan sekolah saat SD. Dia sepupu saya, karena orang tuanya merupakan kakak dari orang tua saya.

Pesan dia singkat, “Boss, bisa pinjam uang nggak 1 juta buat tambahan modal jualan beras”

Meski belum jadi boss dan nggak pantas disebut boss, saya bilang, “OK saya coba usahakan…”

Saya memang kirimkan uangnya, namun dengan sederet pesan sponsor. Antara lain, pertanyaan : “Jualan lancar kenapa butuh tambahan dana yang sebenarnya sanggup dipenuhi?”, “Baiknya sih jangan mengandalkan pinjaman”, sampai dengan “Tidak apa-apa berkembang perlahan yang penting hasilnya bagus”.

Dia menerima saran saya dan menambahkan info bahwa uang modalnya sebagian tersedot kebutuhan anak sekolah.

Nah, ini juga yang menurut saya harus dikelola dengan baik. Modal bisnis tidak boleh sampai habis untuk salah satu kebutuhan. Jika sampai terjadi, itu namanya tidak sayang pada bisnisnya sendiri.

Hal diatas mengingatkan saya pada Excellent.

Saat membangun Excellent, saya benar-benar mengandalkan modal dengkul (dan otak). Uang modal pendirian perusahaan saya dapatkan dari tabungan mengajar training. Uang gaji saya maupun staff diambil dari pendapatan yang masuk setiap bulan. Itu sebabnya di tahun-tahun awal Excellent berdiri, saya terima gaji tidak tentu.

Defaultnya memang diakhir/awal bulan namun kadang bergeser maju atau mundur. Lebih sering mundur dan tertunda. Besarannyapun kadang berbeda. Saya usahakan semaksimal mungkin untuk memenuhi gaji staff/karyawan meski untuk itu saya mesti nombok. Tidak masalah, asal jangan terlalu sering dan jangan dibiasakan.

Setelah fase-fase awal pertumbuhan Excellent, saya berusaha menabung, agar gaji staff maupun gaji saya bukan berasal dari pendapatan yang dicari disetiap bulan. Awalnya saya menabung minimal 3 bulan gaji bisa tersedia. Setelah hal itu tercapai, kemudian targetnya dinaikkan menjadi 6 bulan, 9 bulan dan di tahun 2015 secara bertahap diset minimal 1 tahun cadangan gaji semua team tersedia.

Adanya tabungan membuat saya lebih leluasa dan fleksibel dalam menentukan target. Tidak membebani team dengan kesulitan pengaturan gaji. Pendapatan tiap bulan boleh turun naik namun gaji team harus dijamin tidak pernah terlambat.

Saya selalu belajar mengingat hal sepele yang pernah saya baca di salah satu artikel wirausaha, kalau nggak salah tentang tokoh wirausaha di daerah Priangan (Cianjur/Bandung/Majalengka atau daerah Sunda mana, saya lupa) yang tidak pernah pinjam uang ke bank namun bisa bertahan dan mengembangkan usahanya.

Kalau pendapatan seribu, pengeluaran maksimal 300. Tidak boleh kebanyakan gaya. Saya selalu ingat status bagus dari Hans Wiranata yang dulu pernah sama-sama merintis dan membangun Excellent :

“Rumus Usaha itu Gaya dikali Jarak. Kalau ngerjain sesuatu dan nggak jalan, itu berarti usahanya nol, sisanya cuma gaya doang.”

Jangan karena sempat diwawancara koran atau digadang-gadang sebagai wirausahawan lantas lupa pada fundamental usahanya. Lupa kalau usahanya masih kembang kempis. Kebanyakan gaya, makan jadi pilih-pilih, naik pesawat harus yang kelas bisnis, khawatir dicap “kurang sukses” jika terlihat kurang tajir.

Seberapapun kita kaya, teteup saja kalau makan cukup sepiring. Kalaupun lebih, tidak mungkin juga makan seember. Jika uangnya habis digunakan untuk gaya, lantas gimana usahanya bisa besar.

Jadi kembali ke case sepupu saya tadi, saya memang tetap berikan uang pinjaman namun sambil bilang bahwa upaya terbaik adalah berusaha sebaik dan sehemat mungkin. Jangan mengandalkan pinjaman karena berpotensi negatif jika tidak disiplin. Satu dua kali mungkin bisa disiplin namun lama-lama khawatir terlena.

Saya masih ingat buku trilogi Gadis Tangsi almarhum pak Suparto Brata. Disitu pak Suparto Brata berkisah tentang seorang anak perempuan desa yang belajar supaya bisa memperbaiki kualitas hidup. Pulang selepas penjajahan Belanda dan masuk ke Penjajahan Jepang, ia berangkat penuh perjuangan dari Sumatera ke Jawa, ia (tokoh utama namanya Teyi) berjualan beras. Karena keuntungannya sedikit, dia berhemat. Hemat dalam makanan. Hemat dalam berpakaian. Dia memastikan tiap rupiah dihemat untuk memperbesar modal.

Karena hemat dan hidup prihatin, sebagian besar hasil usaha ditabung menjadi modal. Modalnya semakin besar. Beras yang dijual semakin banyak. Keuntungan lama-lama meningkat. Teyi dipercaya oleh para Tauke/pedagang besar di kota karena Teyi punya integritas. Pembayaran tidak pernah telat. Dia trusted, bisa dipercaya. Setelah berjalan sekian lama,Teyi tidak perlu datang ambil beras, cukup menunggu orang lain yang menyetorkannya. Ia tidak perlu keliling kampung jualan beras karena sudah ada team penjual sendiri. Perlahan ia menjadi pengusaha kecil yang mempekerjakan tetangga dan sanak saudaranya.

Beberapa waktu kemudian Teyi punya sawah sendiri. Awalnya sawah sewa dari orang lain, kemudian sawah milik sendiri. Milik sendiri awalnya hanya 1–2 petak, kemudian berkembang semakin luas. Ia punya usaha penggilingan padi sendiri. Bisa membangun rumah yang lebih baik untuk ditempati. Bisa meningkatkan kualitas hidup sendiri dan lingkungannya

Saya senang sekali cerita itu. Salam hormat saya buat pak Suparto Brata untuk kisahnya. Saya merasa beruntung pernah bertemu pak Suparto Brata di rumahnya di Surabaya dan di rumah salah satu anaknya di Bekasi. Tiap kali ke Purworejo, saya bahkan suka tanya, dimana daerah Ngombol, karena daerah itu yang diceritakan oleh pak Suparto Brata. Daerah asal isterinya yang sejuk dan subur.

Bagi saya, justru disitu keindahan dan senangnya merintis usaha. Saat mengalami proses jatuh bangun dan kekurangan modal mungkin terasa menyiksa tapi setelah masa-masa itu dilewati kita jadi tahu bahwa hal itu yang membuat kita bisa lebih dewasa menyikapinya, tshaelah gaya banget bahasanya :-D

Di tahun 2012–2013 saya pernah dapat tawaran dari salah satu investor untuk membeli saham Excellent. Nilainya cukup besar untuk saya, bahkan saya sampai mikir, “Nggak apa-apa dijual aza sahamnya, nanti kalau kolaps ya saya bikin PT baru, hehehe…” namun setelah berdiskusi dengan isteri dan keluarga, akhirnya saya menolaknya. Tidak apa-apa Excellent berjalan seperti keong namun minimal tidak mengkhianati amanah orang lain. Jual saham kemudian niat bikin PT baru kan berkhianat pada orang lain, :-D

Kalau dibuatkan summary, saya bukan anti terhadap pinjaman maupun investor terkait perkembangan usaha. Saya mungkin termasuk orang yang memilih untuk mengembangkan usaha secara bertahap sesuai kemampuan, agar pondasi yang dibangun bisa lebih kokoh. Saya tentu mengapresiasi rekan-rekan yang mampu membangun usaha secara cepat dan berkembang pesat dengan manajemen yang baik. Masing-masing orang punya kelebihan dan kekurangan dan disitu kelebihan orang lain dan merupakan kekurangan saya.

Kalau bicara prinsip di Excellent, sempat ada ucapan, “Jika kita bisa hidup dengan 5 klien, cukuplah dengan 5 klien. Kita boleh menambah klien, jika mampu dan jika ingin naik gaji…” :-)

Catatan : Saat ini saya memiliki proyek “30 Days Excellent Insight & Tips”, yang akan mengirimkan email berisi cerita motivasi, tips dan inspirasi hidup maupun wirausaha. Free. Bebas unsubscribe kapan saja.