Debug Program, Sumpeh Deh…

Ilustrasi Coding dari Pixabay

Ini pengalaman saat saya menjadi supervisor IT di sebuah perusahaan di Tanjung Priok, beberapa tahun yang lalu. Selaam beberapa hari saya hampir tidak bisa mengerjakan hal-hal yang menyenangkan 😩 gara-gara ada aplikasi yang dibuat oleh IT pendahulu saya dan mengalami masalah saat dijalankan.

Proses debug membutuhkan waktu lama karena pola pikir saya tidak bisa serta merta match dengan pola pikir pembuat program. Kode yang menurut saya semestinya bisa dibuat simple kok terasa berliku-liku. Mesti buka kode program disini, mesti cari fungsi disana, ambil recordset disana-sini, aaah, lebih mudah membuat aplikasi baru daripada menelusuri aplikasi milik orang lain. Apalagi aplikasinya belum menggunakan framework atau struktur/prosedur yang jelas, sehingga tidak mudah menentukan alur sistem dan hasil yang terjadi. Bosan melakukan debug tidak berhasil-berhasil membuat saya iseng-iseng membaca artikel blog (saat itu postingnya Willy Sudiarto Raharjo, Remember Your Limit). Setelah membaca posting itu, saya keluar sebentar. Lari-lari kecil mengejar capung 😺 dan ketika kembali menelusuri coding, voila, langsung terdeteksi lokasi salahnya. Begitu diupdate, saya ujicoba tidak ada masalah lagi. Kebetulan ? Rasanya tidak…

Ada beberapa hal yang bisa ditarik dari pengalaman ini :

  1. Tanggung Jawab Membuat Coding
    Beberapa perusahaan memang membuat aturan baku & standar yang ketat dalam hal penulisan coding, apalagi yang sifatnya kerja team, namun masih banyak programmer yang single fighter, yang mungkin menulis program dengan asumsi hanya dia yang akan melakukan utak-atiknya.

    Untuk programmer yang seperti ini, sadarilah bahwa bisa saja nanti anda kebagian tugas melakukan debug terhadap program orang lain. Daripada terkena karma gara-gara membuat coding yang sulit didebug, mulailah membuat coding program yang bisa dimengerti orang lain, bukan hanya anda dan mesin (mesinpun mungkin bingung 😜 ). Mungkin saja ini karma buat saya terhadap jejak program yang saya tinggalkan ditempat lain yang sulit didebug (dulu, kadangkala, kalau lagi senewen, nama apa saja saya jadikan nama variabel, xixixi…). Mudah-mudahan tidak, karena toh saya membuat program tetap dalam huruf latin yang masih bisa dibaca meski sulit dimengerti 😃 .

    Jika membuat coding, ingat selalu moto mas Ariya Hidayat, D.C.T.W.Y.C.D.T (don’t code today what you can’t debug tomorrow). Apakah mas Ariya sering kebagian debug program yang kacau logikanya sehingga merasa perlu menjadikannya sebagai motto? Silakan tanya kepada salah satu sosok yang menginspirasi saya bergabung dengan komunitas open source. Mungkin mas Ariya tahu psikologis dan kelakuan programmer yang suka ambil jalan pintas seperti saya, hehehe...
  2. Baca secara makro (global) dan tracking berdasarkan modul
    Berulangkali saya gagal mendebug suatu program gara-gara konsentrasi terpecah. Karena program memanggil fungsi dan prosedur dibagian coding yang berbeda, cara kerja otak saya ikut loncat-loncat sehingga saya malah sering lupa, “saya sudah debug sampai dimana…”. Sebaiknya, tetap komitmen pada pasangan, eh tetap komitmen pada alur program dan blok bagian yang perlu dicheck. Jika tidak fokus, proses debug akan semakin lama.
  3. Jangan lupa, backup-backup-backup
    Ingat selalu, akan sangat aman jika kita menggunakan JPP (Jaring Pengaman Program), dengan selalu membuat salinan program dan database jika ingin melakukan debug. Staff saya saat itu sempat melakukan kesalahan fatal dengan melakukan update data yang salah terhadap database utama atau melakukan perubahan pada blok coding program yang salah. Sumpeh deh, cape buanget kalau sampai kejadian.

    Sebenarnya saya sendiri selalu ada standar melakukan ujicoba pada database maupun sistem yang berupa data simulasi, namun namanya manusia, seringkali alpa dan tidak berdaya 😫 .
  4. Ingat Selalu, Remember Your Limit
    Daripada malah merusak coding program, sebaiknya berhentilah melakukan debug jika mata sudah sayu, badan lelah dan lunglai tak berdaya. Tutup program sambil berkata dengan tegar, “I shall return”.

Tulisan diatas saya tuliskan beberapa tahun lalu. Waktu terus berlalu dan bahasa pemrograman sudah berevolusi secara drastis. Banyak hal yang dulu dibuat manual sudah diotomatiskan. Banyak hal yang dulu menjadi masalah karena rentan lupa kini secara preventif sudah bisa dicegah karena sudah ada proses sinkronisasi data secara berkala. Meski demikian, tanggung jawab membuat aplikasi dan coding secara rapi mestinya tidak lantas menjadi kehilangan esensinya.

Bacaan Menarik :

  1. What is a coder’s worst nightmare?
  2. What is the best comment in source code that you have ever encountered?

)

Masim “Vavai” Sugianto

Written by

Traveller, Open Source Enthusiast & Book Lover. Works as Independent Worker & Self-Employer. https://www.excellent.co.id #BisnisHavingFun https://www.vavai.com

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade