Excellent Insight Day #16 : Jangan Khawatir Jika Kita Masih Pemula/Newbie


Originally published at Masim Vavai Sugianto.

Insight kali ini berkaitan dengan pengalaman pribadi dan pengalaman rekan-rekan yang berevolusi, dari telur menjadi kecebong, dari kecebong menjadi katak. Dari telur menjadi ulat, dari ulat menjadi kepompong dan dari kepompong menjadi kupu-kupu…

Beberapa tahun yang lalu, saat berkunjung untuk maintenance sistem rutin di salah satu klien di Jatiasih Bekasi, saya mendengar salah satu rekan staff IT support pihak klien berkata,

“Yang hebat itu mas Abeb (menyebut nama salah satu rekannya yang juga merupakan alumni training di Excellent). Dulu dia bisa dibilang nggak tahu apa-apa, sekarang perkembangannya pesat. Dia sudah lancar dan terbiasa setting server Linux”

Saya mengamini ucapannya. Saat mengikuti training memang terlihat ia mau berusaha belajar dan mencoba. Meski ia belum memiliki dasar dari sisi pendidikannya, ia mau belajar dengan giat untuk mengejar ketertinggalannya. Ia mau membaca buku dan artikel yang terkait dengan pekerjaan yang ia jalani. Sekarang mas Abeb sudah menjadi expert dibidangnya, melebihi beberapa rekan yang beranjak dari posisi yang sama.

Semua orang berangkat dari kondisi sebagai pemula, tak perlu malu, takut, apalagi khawatir jika kita menjadi pemula. Tidak ada orang yang lahir langsung menjadi mahir. Kursus menjahitpun ada tingkatannya : pemula, terampil, mahir.

Jadi pemula itu justru enak, pikiran masih kosong, bisa diisi apapun tanpa ada praduga atau pretensi sebelumnya. Coba lihat anak-anak yang masih polos pikirannya, mereka dapat dengan mudah belajar karena pikiran mereka tidak dibebani oleh masalah. Jika kita sudah masuk pada level advanced biasanya jadi terlalu banyak pertimbangan.

Bukan hanya soal pekerjaan, hobby juga terasa menarik jika kita masih pemula. Saat saya menjadi blogger pemula, tanpa beban saya menulis apapun yang ingin saya tulis, yang tidak penting sekalipun. Begitu ngeblog sekian lama, saya jadi mikir jika menulis sesuatu yang dirasa terlalu lebay atau terlalu personal.

Setiap orang pada dasarnya adalah pemula dilingkungan yang baru ia jalani. Jika kita baru saja pindah kerja, justru disitu seni dan pengalaman menarik, yaitu saat-saat kita masih mencoba beradaptasi. Bahwa tidak semua orang mudah melakukan adaptasi, justru disitu pula letaknya keunikan masing-masing orang. Itu alamiah dan manusiawi kok.

Pemula juga tidak mengenal usia. Jangan lantas karena kita merasa sudah tua lantas kita tidak mau belajar karena toh sebentar lagi akan mati :-P. Memangnya nasib dan usia kita yang menentukan?

Andaikanpun kita meninggal dunia besok, apa salahnya hari ini kita masih mengisinya dengan belajar daripada mengisinya dengan maksiat atau hal negatif lainnya.

Bagi para pemula diseluruh dunia, anda tidak sendiri. Seorang pemula akan selalu dilahirkan setiap harinya. Tidak perlu khawatir jika kita belum bisa, karena disitulah fungsinya kita belajar. Jika kita menjadi seorang pemula dan terus menerus jadi pemula setelah sekian lama, barulah kita khawatir jangan-jangan ada yang salah dari diri dan mindset yang kita jalani.

Jika kita menjadi pemula, jangan mengalah pada keadaan, waktu dan suasana. Seseorang yang berhasil justru akan terlihat perbedaaannya jika ia mampu mengatasi kesulitan pada saat ia menjadi seorang pemula. Setiap orang bisa mengeluh, setiap orang bisa mengalah dan setiap orang bisa mencari pembenaran maupun alasan untuk tetap menjadi pemula. Jika kita selalu mengeluh, mengalah dan mencari pembenaran, lantas apa perbedaan kita dibandingkan dengan orang-orang lain yang kalah dan patah oleh keadaan.

Ada jauh lebih banyak pemula daripada orang yang expert. Itu artinya kita punya banyak kawan, yang selalu diciptakan setiap hari. Jika kita membuat buku, potensi pasar terbesar kemungkinan adalah untuk target pemula. Coba saja review di toko buku atau di list daftar buku, pasti lebih banyak untuk para pemula.

Meskipun demikian, jangan terus menerus terlena dengan status newbie. Motivasi diatas adalah sebagai penyemangat agar kita tidak malu menjadi seorang pemula. Jadikan itu sebagai titik tolak untuk selalu meningkatkan kualitas diri.

Referensi Artikel Menarik

  1. Jack Dorsey on the History of Twitter and Square
  2. Entrepreneurial Masterclass: Alibaba founder Jack Ma interviewed by Charlie Rose

Action

Pernah menjadi Pemula? Tentu saja setiap orang pernah menjadi Pemula. Jika menjadi pemula, biasanya kita memiliki banyak pertanyaan dan ketidaktahuan. Saat-saat seperti ini adalah saat yang tepat untuk mencatatnya. Jika kita hendak menulis buku, menulis artikel atau sekedar mengajarkan situasinya pada orang lain, kita akan kehilangan “feels” menjadi pemula saat kita sudah beranjak menjadi expert.

Saat tulisan ini saya check dan revisi ulang, posisi saya sedang di Bangkok menghadiri salah satu acara partnership Excellent. Saya memang ingat saat pertama kali ke Bangkok juga merupakan saat saya pertama ke luar negeri. Namun jika tidak mencatatnya, saya mungkin akan lupa saat-saat dan suasana itu, yang mungkin akan bermanfaat bagi rekan lain yang baru pertama kali seperti saya.

Tulisan catatan saya ada disini.

Catatan :

Tulisan diatas merupakan bagian dari seri tulisan “Excellent Insight”. Saat ini kumpulan bukunya sudah diterbitkan dalam bentuk buku cetak maupun ebook.