Excellent Insight Day #17 : Tuhan Maha Tahu Tapi Ia Menunggu


Originally published at Masim Vavai Sugianto.

Insight kali ini berkisah mengenai pengalaman pribadi saya saat beralih menjadi wirausahawan. Saya yang sebelumnya tidak pernah berpikir dan bercita-cita untuk wirausaha ternyata memiliki alur hidup yang berbelok tanpa saya duga sebelumnya.

Diantara anak-anak orang tua saya, sayalah satu-satunya anak yang sejak awal tidak berminat pada wirausaha, meski kedua orang tua saya wirausahawan. Ibu saya membuka rumah makan di Tambun dan bapak saya pemborong dan pedagang buah-buahan di Tambun. Sejak lulus SMA tahun 1995, saya langsung bekerja sebagai operator produksi di Jababeka. 1 tahun kemudian, karena garing menunggu waktu shift-saya kerja shift 1 dan 2 bergantian setiap minggu-saya memutuskan kuliah dibidang komputer. Tepatnya jurusan Manajemen Informatika pada STMIK Bani Saleh Bekasi.

Kuliah sambil kerja benar-benar capek, apalagi kerja shift membutuhkan juga kuliah shift. Tak apa, karena akhirnya saya bisa menjadi Asisten Lab di kampus tahun 1999, berhenti dari operator produksi juga di tahun 1999 dan kemudian bekerja sebagai staff IT di sebuah perusahaan di Kawasan Delta Silicon Industrial Park, Cikarang sambil tetap bekerja sebagai Assisten di Lab komputer.

Tahun 2004 posisi saya meningkat jadi supervisor IT. Saya punya staff 2 orang dan punya waktu membaca lebih banyak. Saya senang membaca kisah-kisah wirausaha meski tidak tertarik untuk terjun ke dunia wirausaha. Saya membaca dan memiiki banyak sekali koleksi bacaan tentang wirausaha. Seperti kalimat : “al imanu yajidu wa yanqusu, yajidu bit tha’ah wa yanqusu bil ma’siah”, yang berarti “iman itu bisa bertambah dan berkurang, bertambah kuat dengan melakukan ketaatan dan berkurang dengan melakukan maksiat”. Camkan ya –> ngomong ke diri sendiri, demikian juga dengan minat saya untuk berwirausaha, kadang naik dan kadang turun.

Meski tidak berminat wirausaha, saya tetap senang membaca artikel-artikel yang terkait dengannya. Siapa tahu bermanfaat suatu saat kelak, paling tidak saat saya pensiun nanti.

Saya cukup sering ambil pekerjaan freelance, menjadi amfibi dengan 1 kaki di perusahaan dan 1 kaki di usaha sampingan. Berjalan terseok-seok tapi ya Alhamdulillah cukup-cukupan. Tidak lebih meski banyak kurangnya, hehehe…

Tahun 2004 saya mulai menulis blog, meski 6 bulan pertama pengunjung blog hanya saya sendiri karena saya menulisnya di http://localhost alias di server saya sendiri. Saya malu kalau tulisan saya dipublish keluar takut ada yang ngomong : “Lo nggak mikir apa kalo tulisan lo bikin mual?”.

Pindah kerja ke Tanjung Priok tetap dengan posisi supervisor IT (namun tentunya dengan gaji berbeda, ehm), saya masih sporadis berwirausaha. Sempat membuat usaha rental komputer dengan menyisihkan uang gaji, usaha tersebut tetap bertahan sampai sekarang. Bertahan segitu-gitunya maksudnya, Tak disangka, hobby ngeblog dan menulis artikel ditahun 2004 berkembang pesat di tahun 2007 dan 2008. Hobby ngeblog itu membawa berkah karena ada beberapa perusahaan yang meminta saya melakukan implementasi sistem. Seorang rekan meminta saya mengajar training ditahun 2008. Mulai dari 1 peserta, rutin tiap minggu menjadi 2, berkembang menjadi 4, 8, 10 dan berlangsung terus sehingga akhirnya saya mendapat 3 gaji. 1 gaji dari perusahaan, 1 gaji dari training setiap minggu dan 1 gaji dari implementasi.

Tahun 2009, klien saya mencapai 30 perusahaan. Hampir setiap hari ada yang telp mengenai kesediaan saya presentasi, padahal saat itu saya masih bekerja sebagai supervisor IT di perusahaan.

Awal 2010, klien saya mencapai 40–50 perusahaan. Seringkali saya menerima telp dari klien saat saya bekerja di perusahaan. Hal ini membuat saya conflict of interest. Saya malu pada perusahaan karena bagaimana bisa saya bekerja di perusahaan, digaji oleh perusahaan namun sering menggunakan waktu diperusahaan untuk usaha saya. Akhirnya di pertengahan 2010 saya mengajukan pengunduran diri baik-baik. Arsip : http://vavai.com/2010/08/02/persiapan-sebelum-berhenti-kerja-resign/ dan vavai.com/2010/07/09/membangun-perusahaan-baru/

Boss saya keberatan saya keluar (sempat geer kayaknya saya dianggap sebagai supervisor yang berprestasi. Berprestasi jeblok maksudnya, hehehe…). Ia bertanya, “Memangnya kamu nggak minat jadi manager?”. Wah, saya sudah bulat hendak resign. Mungkin jalannya tidak lurus, berkelok dan mendaki dan siapa menanti tak pernah kutahu namun saya fixed, tetap hati dan istiqomah untuk resign. Akhirnya dicapai kesepakatan, saya diterima resign bulan Juni 2010 namun baru secara resmi ciao dari perusahaan Desember 2010. 6 bulan waktu untuk alih data dan alih pengetahuan untuk pengganti saya.

Dan akhirnya, awal Januari 2011, saya resmi memulai perjalanan saya sebagai wirausahawan, lebih cepat 15–20 tahun dari angan-angan saya semula. Saya resmi mengembangkan Excellent yang kemudian berevolusi menjadi PT. Excellent Infotama Kreasindo.

Ada banyak proses yang mengiringi saya dalam berwirausaha sejak Januari 2011 hingga tahun 2017 saat ini. Tidak semuanya manis dan tidak semuanya juga pahit. Karena memang dipersiapkan sebelumnya dan mengambil momentum pada saat yang menurut saya tepat, saya bisa menjalaninya dengan rasa senang. Jika saya melihat kebelakang, alur hidup itu yang menjadi warna kehidupan kita dan membuat kita tidak bosan menjalaninya.

Tuhan Tahu Tapi Ia Menunggu, kata Leo Tolstoy dalam sebuah judul bukunya yang sangat menarik dan saya benar-benar setuju dengannya. Kita tidak pernah tahu apa yang akan kita lalui didalam hidup kita namun merupakan tugas kita untuk mempersiapkan dan menjalankannya sebaik mungkin. Meski awalnya kita tidak punya bayangan dan rencana terhadap pekerjaan kita, jika kita berusaha dengan optimal berarti kita tidak perlu menyesali hasil yang nantinya dicapai.

Hasil, tidak akan menghianati usaha.

Referensi Artikel :

  1. How quitting my corporate job for my startup dream
  2. 25 Successful Entrepreneurs Who Quit Their Jobs to Pursue Their Passions

Action :

Jangan hidup bersama penyesalan. Jangan menyesali tahun-tahun yang berlalu. Ada kemungkinan kesalahan dan hasil yang kita sesali di tahun-tahun sebelumnya ternyata membawa kita pada kehidupan kita yang lebih menyenangkan. Cukup jadikan sebagai pembelajaran dan perbaikan untuk diri kita sendiri.

Apa yang mungkin menurut kita baik, belum tentu baik setelah kita menjalaninya. Demikian juga sebaliknya. Karena kita semua tidak tahu apa yang akan kita alami dimasa depan,usahakan dan lakukan segala hal sebaik mungkin setelah itu kita bisa mengikuti alur hidup yang akan kita jalani tanpa harus menjadikannya sebagai sebuah penyesalan.

Catatan :

Tulisan diatas merupakan bagian dari seri tulisan “Excellent Insight”. Saat ini kumpulan bukunya sudah diterbitkan dalam bentuk buku cetak maupun ebook.