Financial Literacy & Tabungan Pensiun


Originally published at Masim Vavai Sugianto.

Saya punya tetangga di lingkungan rumah tempat orang tua saya tinggal. Saat muda banyak diantaranya bekerja sesuai keahlian masing-masing. Ada yang jadi tukang ojek, ada yang jadi tukang bangunan, petani, kuli angkut pedagang dan lain-lain. Saat mereka masih bekerja, kehidupannya lumayan. Tidak berlebihan namun juga tidak kekurangan.

Saat usia merambat naik, pekerjaan yang dulu bisa dilakukan tidak memungkinkan lagi untuk dikerjakan. Kalau usia sudah tua, ngojek jadi susah, apalagi jadi tukang bangunan. Apalagi jadi kuli angkut barang. Jadinya sebagian besar orang tua yang memasuki masa pensiun ini sehari-hari tinggal di rumah.

Bagi orang tua yang anaknya memiliki penghidupan yang cukup baik, mereka mendapat tambahan budget untuk kehidupan sehari-hari namun bagi yang tidak seberuntung itu, banyak diantaranya yang harus melakukan pekerjaan sambilan.

Melihat hal tersebut, saya jadi sedih dan nyeri. Banyak diantaranya adalah orang-orang yang menyertai saya sejak kecil dan hingga beranjak dewasa. Saya besar bersama mereka. Anak-anak mereka adalah teman sebaya saya. Karena tidak semua anak-anak mereka memiliki kesempatan sekolah lebih tinggi dari SD, banyak diantaranya yang memiliki keterbatasan pilihan pekerjaan.

Ilustrasi Rencana Keuangan. Sumber Gambar : Pixabay

Benar, sekolah tidak menjamin seseorang sukses atau tidak. Sekolah juga tidak menjamin kehidupan seseorang terjamin atau tidak. Hanya saja, sekolah lebih tinggi membuka peluang dan pilihan yang lebih luas dibanding yang tidak.

Hal tersebut sering menjadi bahan diskusi saya dengan kakak dan adik saya. Bahwa semestinya kita bertanggung jawab pada kehidupan kita dan keluarga kita, baik saat kita masih bisa beraktivitas mencari nafkah maupun saat pensiun. Hal yang sama juga saya sampaikan ke team Excellent sebagai bagian dari pembelajaran. Bahwa persiapan untuk pensiun dengan penghasilan yang tetap terjaga akan jauh lebih mudah dilakukan dan disiapkan sejak usia muda.

Saat melakukan proses upgrade sistem di kantor klien akhir tahun lalu, saya berdiskusi santai (sambil menunggu proses upgrade berjalan) dengan pihak IT klien mengenai financial literacy atau pemahaman keuangan. Kami berdua sepakat : menyayangkan mengapa financial literacy tidak diajarkan disekolah. Yang diajarkan dan teringat sampai sekarang adalah mengenai “Menabung pangkal kaya” meski kenyataannya sekarang “Menabung pangkal habis” karena pendapatan bunga atau bagi hasil tidak sepadan dengan biaya administrasi dan pajak. Akan lebih baik jika pemahaman mengenai pola pikir dan tanggung jawab keuangan masuk sebagai bagian dari kurikulum, minimal sebagai materi tambahan, bekal untuk kehiduapan mereka kelak.

Bagi yang bekerja sebagai PNS mungkin sedikit beruntung karena mereka mendapat tunjangan pensiun. Yang bekerja pada perusahaan swasta besar juga biasanya memiliki lembaga dana pensiun. Namun bagaimana dengan pekerja diperusahaan kecil atau pekerja informal yang tidak secara definitif memiliki mekanisme dana pensiun atau tunjangan hari tua?

Disinilah pentingnya financial literacy. Bahwa kita tidak bisa selamanya bekerja mencari nafkah, karena pada usia tertentu kita tidak mampu bekerja sebagaimana tenaga dan semangat kita disaat kita masih muda. Kita harus bisa menyisihkan pendapatan untuk diinvestasikan sebagai bekal masa pensiun kita. Nilainya bisa saja kecil, sesuai dengan pendapatan yang diperoleh saat ini. Saat usia muda, nilai 20–30% dari gaji masih mungkin disisihkan untuk tabungan masa depan. Yang perlu diperkuat adalah disiplin pribadi untuk mau mengurangi kesenangan personal masa muda dan menyimpannya untuk bekal masa mendatang.

Menabung dimasa muda tidak berarti kita bersusah payah dan menderita. Menabung dimasa muda adalah upaya disiplin dan membiasakan diri, karena kita tidak tahu rezeki, usia, kemampuan dan kesehatan kita dimasa mendatang.

Saya masih ingat dulu adik saya Marsan “Qchen” Susanto pernah bercerita soal rumah kontrakan. Dengan modal Rp. 30–40 juta, kontrakan bisa menghasilkan antara 400–500 ribu per bulan. Saya bilang, repot amat, karena itu berarti menunggu waktu sampai 5 tahun untuk break even point (BEP). Itupun dengan asumsi pendapatan Rp. 500.000/bulan dan biaya pembangunan Rp. 30 juta. Saya bilang, dengan mengajar training atau menjadi konsultan IT saya bisa mendapat jumlah yang sama dengan masa waktu yang lebih singkat. Kemudian Qchen bilang,

“Itu saat sehat dan bisa bekerja”

Iya juga ya, kadang kita lupa bahwa mungkin saja saat ini kita memiliki pendapatan yang lebih dari cukup karena kita sehat dan bisa beraktivitas tanpa halangan. Nanti seiring berjalannya usia, kemampuan itu semakin lama semakin berkurang.

Saat ini trend di Amerika adalah “Early Retirement”. Pensiun lebih cepat atau pensiun dini. Bukan dipensiun dini melainkan memilih pensiun lebih awal, karena kondisi keuangan yang dimiliki sudah memadai untuk menopang hidup mereka lebih lanjut.

Rata-rata target mereka di usia 40. Ada sebagian yang sudah bisa pensiun dini diusia 37 atau 35. Mereka punya tabungan > 1 juta dollar dengan menyisihkan sebagian besar pendapatan mereka disaat muda. Dengan pensiun dini dan memiliki tabungan dalam bentuk dana pensiun, dana investasi dan dana sehari-hari, mereka bisa menikmati hidup secara lebih bebas, melakukan berbagai hal yang disukai jauh lebih awal dibanding kebanyakan orang.

Usia saya saat ini 43 tahun, jadi sudah telat untuk pensiun dini dibawah 40 tahun. Namun saya masih bisa pensiun dini diusia 50 tahun, lebih awal sedikit daripada rata-rata usia pensiun di Indonesia. Bagaimana menyiasati upaya menabung dan berinvestasi agar bisa pensiun lebih awal ditengah keterbatasan penghasilan dan pendapatan kita? Mudah-mudahan bisa saya tuliskan pada artikel berikutnya bersumber dari pengalaman saya pribadi dan dari artikel yang pernah saya baca sebelumnya.