Hidup Bukan Hanya untuk Diri Sendiri

Saat pertama kali bergabung dengan komunitas, pertimbangan utama saya adalah : “Apa yang sudah dan akan saya perbuat untuk kemajuan lingkungan sekeliling saya”
Selama ini saya kerap abai tanpa saya sadari. Saya hanya berpikir tentang diri saya pribadi, tentang rencana dan cita-cita saya, tentang kesulitan dan peluang saya. Hingga disatu malam saya bangun dan terjaga, tersentak oleh satu pertanyaan, “Apa yang akan saya lakukan sampai akhir batas usia”.
10 tahun lalu, usia saya melewati 30 tahun (ini bahasa lain untuk menyebut diri saya sudah tua hehehe…). Dengan harapan hidup umumnya orang Indonesia, waktu aktif saya sejak 10 tahun lalu berkisar pada 20–25 tahun lagi. Mungkin lebih cepat dan mungkin lebih lama. Tak jadi soal, karena yang jauh lebih penting adalah apa kontribusi saya bagi sesama.
Mungkin tak akan ada yang salah jika saya berjuang untuk kesejahteraan diri dan keluarga saya. Setiap orang melakukan hal yang sama. Yang menjadi masalah, bukankah perjuangan memberi kesejahteraan bagi diri dan keluarga tidak menafikan peluang untuk melakukan hal yang sama bagi orang lain.
Beberapa hari belakangan saya membaca kisah-kisah orang pemberani, orang-orang yang menggunakan sebagian waktu dan hidupnya untuk orang lain tanpa kehilangan kebahagiaannya sendiri. Saya membaca kisah-kisah para volunteer yang berusaha memberikan pencerahan pada hidup dan lingkungan disekeliling mereka.
Saya membaca buku Pesantren Ilalang, nyanyi dan kisah sunyi mengenai perjuangan seorang guru dengan gaji pas-pasan di sebuah Pesantren sederhana di pelosok Sumatera. Saya membaca Tetralogi Buru Pram (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca) dan membaca pergulatan batin seorang Minke untuk memajukan bangsanya.
Kita tidak perlu berharap melakukan sesuatu yang besar dan fenomenal. Cukuplah apa yang bisa kita lakukan sekarang dengan apa yang kita miliki sekarang. Tak penting pula apakah jejak-jejak yang kita lakukan menjadi catatan sejarah atau bukan.
Jika kita ingin berkontribusi pada kesejahteraan dan kemajuan rakyat dan bangsa Indonesia, kita bukan hendak menuliskan bait-bait cerita sejarah namun kita melakukannya karena semesta mengendakinya. Karena kita diciptakan bukan untuk hidup bagi diri kita pribadi. Karena hidup kita akan terlalu singkat untuk sekedar kita lewati hari demi hari.
Sementara kita berjuang mencari nafkah, kita tidak harus kehilangan nurani kita. Kita tidak perlu menjadi terlalu kiri atau terlalu kanan untuk melakukan segala sesuatu yang kita dedikasikan.
Mungkin bukan hanya satu dua hal yang bisa saya lakukan sekarang. Mungkin ada banyak hal yang bisa saya lakukan untuk menuangkan ide-ide dan gagasan agar tidak hanya mati sunyi didalam pikiran saya.
Nanti waktu akan membuktikan, berbagi itu membahagiakan, asal bukan membagi derita bagi sesama 🙂
