Hitungan Matematis

Ilustrasi makan bersama… diluar kantor 😆

Bagi wirausahawan atau pebisnis, berhitung secara detail dan cermat sangat penting buat kelangsungan usaha/bisnisnya. Berapa pemasukan dan berapa pengeluaran. Pengeluaran lebih besar dari pemasukan dan berjalan sekian lama merupakan indikasi akan tamat riwayat usahanya.

Boleh saja membakar uang selama fase awal usaha, namun tetap ada titik dimana usaha yang dilakukan harus bisa membiayai hidupnya sendiri.

Namun, ada kalanya hitungan matematis ini tidak 100% benar, terutama jika kita meninjau dari sisi lainnya selain sisi keuangan.

Saya ada cerita sederhana, terkait pengalaman pribadi mengenai hitungan matematis ini. Saya sampaikan ini siapa tahu ada manfaatnya, bukan bermaksud apalah-apalah… 😆

Saat Excellent memindahkan markas operasional ke Emerald Spring, semua team mendapat penggantian uang makan siang yang diakumulasi sebagai tambahan ke gaji bulanan. Dengan uang makan, mereka bisa lebih fleksibel dalam memilih menu makanan yang disukai.

Dalam rangka membantu team mendapatkan menu makan siang yang “cukup baik” sekaligus sebagai bagian dari kebersamaan, saya memutuskan untuk menambahkan menu buah-buahan dan cemilan diwaktu pagi, plus menu makan siang bersama setiap hari Jumat.

Itu sebabnya jarang sekali Excellent memiliki tugas keluar kantor/kunjungan ke klien di hari Jumat, karena hari Jumat merupakan family day di Excellent.

Jika dikalkulasikan, dengan jumlah team total sekitar 15 orang dan dengan nilai rata-rata makan siang Rp. 30.000,- maka akan butuh Rp. 450.000,- untuk sekali makan siang. Jika memperhitungkan biaya buah dan cemilan, maka per minggu akan ada tambahan biaya antara 500 ribu sampai dengan 700 ribu rupiah.

Diakumulasikan per bulan, keputusan memberikan makan siang setiap minggu akan menambah biaya pengeluaran Excellent antara 2 juta sd 3 juta rupiah. Itu sebabnya saya menimbang-nimbang keputusan ini sebelum menerapkannya. Saya tidak mau memberikan gimmick atau PHP (Pemberi Harapan Palsu) ke team. Saya juga tidak mau kebanyakan gaya satu dua kali memberikan menu makan siang lantas setelah itu berhenti.

Setelah mempertimbangkan kemampuan diri 😄 akhirnya keputusan ini dieksekusi dan Alhamdulillah tetap berjalan sampai sekarang meski Excellent sudah pindah operasionalnya ke markas Premier Serenity.

Jika dihitung secara matematis, jatuhnya memang pengeluaran mingguan sebesar 2–3 juta rupiah setiap bulan, namun ternyata Excellent bisa beradaptasi dengan hal tersebut. Apakah karena rezeki team-team staff atau karena tambahan makan siang bersama setiap minggu itu memberikan semangat dan kesempatan rehat, hasilnya adalah peningkatan kinerja disisi team dan penambahan jumlah customer untuk Excellent.

Penambahan jumlah customer ini bisa menjadi buffer terhadap pengeluaran tambahan tersebut. Jadi hitungan matematis bisa saja dikompensasikan dalam bentuk lain, misalnya dalam bentuk kinerja team dan peningkatan sales disisi Excellent.

Hal ini memberikan semangat, bahwa prinsip “team oriented atau employee oriented” secara prinsip sudah tepat. Jika kita memberikan hal positif bagi team, niscaya hasil yang baik pula yang bisa kita harapkan dari team. Kalau dalam bahasa lain, “bagaimana prajurit mau maju perang dengan penuh semangat jika dia tidak percaya pada jenderalnya. Bagaimana prajurit mau bertempur secara maksimal, jika kebutuhan utamanya tidak terpenuhi…

Saya menyadari hal diatas bisa berjalan di Excellent karena team masih relatif ramping. Lebih mudah eksekusinya dan lebih sederhana pengambilan keputusannya. Meski demikian, saya pikir ada baiknya hal diatas saya bakukan, karena besar atau kecil jumlah team seyogyanya tidak mengubah hal-hal baku yang semestimya diterapkan.

Dengan semangat yang sama, pekan lalu Excellent menambahkan perangkat rice cooker di markas Premier Serenity dan menyediakan stock beras dan telur. Artinya, di hari kerja selain hari Jum’at, team Excellent cukup membeli lauk yang diinginkan-jika telur belum memadai-sedangkan nasi sudah langsung tersedia di rice cooker. Saya bahkan meminta team yang belum bisa masak untuk bergantian memasak di rice cooker hehehe…

Jangan salah lho ya, ada rekan-rekan-terutama team laki-laki-yang selama ini memang belum pernah memasak, di rice cooker sekalipun. Mereka terima jadi nasi dan lauk pauk dari orang tuanya, jadi saat briefing pagi saya sampaikan bahwa kedatangan rice cooker diharapkan membawa minimal 2 benefit, pertama ada peningkatan kemampuan-tadinya tidak bisa masak jadi bisa masak 😅 dan kedua, lebih menghargai orang tua bahwa segala sesuatu itu butuh proses tidak asal terima saja.

Saat briefing, saya sampaikan juga perasaan cemas saya : “Jangan-jangan setelah rice cooker, ada yang pindah kost nih, dari kost dia sekarang ke markas Premier, hehehe….