Jam Karet, Terlambat, Tunda Jadwal dan Budaya Kerja Kita

Ilustrasi keterlambatan, gambar didapat dari Pexels

Saat masih bekerja di kantor di Tanjung Priok, saya pernah mengikuti diskusi “hangat” dengan beberapa rekan mengenai keterlambatan datang ke kantor masing-masing.

Salah satu yang cukup hangat dibahas adalah toleransi keterlambatan. Menurut saya, semestinya tidak ada toleransi mengenai keterlambatan. Saat itu ditempat saya bekerja ada toleransi 5 menit. Jam masuk kerja pukul 08.00, terlambat hingga pkl. 08.05 masih belum dianggap terlambat.

Saya cenderung untuk tidak bertoleransi mengingat terlambat masuk kerja adalah soal mindset, seperti halnya budaya jam karet yang juga lebih banyak terkait dengan mindset. Jika bicara toleransi keterlambatan, sudah ada aturannya dalam peraturan, misalnya sekian kali akan dikenakan sanksi, terlambat karena hal khusus diatur terpisah. Toleransi yang berlebihan menurut saya akan menumpulkan fungsi peraturan.

Seorang rekan berkata bahwa kalau aturan diterapkan secara apa adanya, bagaimana nanti jika ada halangan di jalan. Menurut saya, hambatan di jalan adalah satu soal yang semestinya-jika tidak ada sesuatu yang luar bisa-dapat dengan mudah diatasi. Datang lebih pagi misalnya, bisa menjadi salah satu altenatif solusi preventif.

Jika berangkat kerja selalu pukul 07.30 dan sering terlambat 5 menit karenanya, mengapa tidak berusaha memajukan jam berangkat ?

Dalam kondisi ekstrim, andaikan datang lebih pagi tidak membawa solusi, mengapa tidak membicarakannya kepada bagian HRD agar memiliki jam kerja dengan interval waktu khusus. Lagi-lagi masalahnya adalah mindset. Mindset bahwa namanya terlambat adalah sesuatu yang wajar dan tidak perlu menjadi masalah.

Rekan lain berkata bahwa yang mestinya dipentingkan adalah performance. “Kalau datang tepat waktu tapi performance dan kinerja kurang baik, lantas buat apa ?”

Padahal, analogi yang disampaikan adalah analogi yang cacat. Jangan bandingkan sesuatu yang buruk terhadap hal buruk lainnya. Datang tepat waktu tidak bisa menjadi alasan kinerja berkurang. Jika keterlambatan kerja dianggap dapat diabaikan dengan syarat kinerja bagus, bagaimana ukurannya. Jika mengelola waktu masuk kantor saja selalu kesulitan, bagaimana bisa memaintain proyek lain yang memerlukan perhatian dan ketepatan jadwal kerja?

Apa sulitnya datang tepat waktu? Jika jarak rumah yang jauh dari tempat kerja menjadi alasan, mengapa yang sering terlambat justru rekan yang rumahnya lebih dekat? Macet? Apakah lantas kita hanya pasrah pada kemacetan tanpa berusaha mengatasinya?

Diskusi yang menghangat membuat seorang rekan berkata, “Mengapa kita meributkan hal sepele?”.

That’s the problem. Keterlambatan masuk kerja bukanlah soal sepele. Hal ini sebenarnya bisa menjadi cerminan diri yang kesulitan melakukan manajemen diri. Pahit memang apa yang saya sampaikan namun faktanya demikian adanya. Jika keterlambatan masuk kerja soal sepele, okay, mengapa tidak ditepati saja supaya tidak ada masalah, karena kan hanya soal sepele 😆

Rekan lain menyoroti mengenai sanksi yang dirasa tidak adil. Terlambat masuk kerja 3X dalam satu bulan dikenai sanksi, meski hanya terlambat sekian menit saja. Sedangkan, seseorang yang 1 kali terlambat 1/2 jam-yang secara akumulasi lebih besar secara kuantitas dibandingkan yang pertama-tidak mendapat sanksi.

Lagi-lagi soal apologi. Meski hanya 1 menit, terlambat ya terlambat. Justru kalau kita takut menyesal, hal itu kita jadikan warning agar jangan sampai terlambat meski hanya 1 menit.

Bagian HRD, saya yakin tetap memperhitungkan akumulasi keterlambatan, jadi tidak perlu ada pengalihan masalah pada hal lain.

Sewaktu bekerja di kantor lama, ada juga yang berpikir bahwa jika kita pulang lebih lama, kita tidak masalah datang terlambat, karena secara total jam kerja tidak ada pengurangan. Padahal, namanya aturan selalu baku. Kalau boleh terlambat karena pulang lebih lama, enak sekali dong karena kita bisa pulang jam 8 malam karena masuk kerja jam 12 siang.

Jika ada pengecualian, menurut saya akan lebih elegan dan lebih bagus jika pengecualian tersebut diusulkan agar dibuat secara baku dan masuk dalam peraturan. Jangan selalu beralasan saat melanggar aturan hanya karena aturan tersebut masih bisa diakali .

Masalah lainnya adalah mengenai budaya jam karet dan schedule kerja yang mundur karena tidak terpenuhi.

Bukan sekali dua kali saya mengikuti rapat baik di perusahaan maupun ditempat lain, dimana rapat terlambat dimulai karena banyak yang “ngaret”. Aneh juga. Apa enaknya datang terlambat ke ruang rapat? Ada masalah? Kalau sering terlambat, berarti bermasalah terus dong . Seorang atasan berkebangsaan Jepang dulu pernah berkata, salah satu budaya orang Indonesia adalah jam karet ini. Sedih!

Soal schedule kerja. Banyak rekan memundurkan schedule kerja karena tidak dapat dicapai. Sanksi atas pemunduran jadwal ini justru membuat mereka membuat jadwal yang membutuhkan jadwal kerja jauh lebih longgar agar tidak dikenakan sanksi. Pekerjaan yang semestinya memungkinkan dikerjakan selama 1 bulan malah diestimasikan 3 bulan agar memiliki waktu luang yang berlimpah dan dapat lebih santai dalam memenuhi target.

Padahal andaikan satu waktu terjadi hambatan dalam pencapaian target-selama itu realistis-menurut saya pihak atasan tidak akan mencari-cari sebab kesalahan yang tidak perlu.

Bagaimana situasi ditempat rekan-rekan?

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade