Kita Bisa Memilih Cara Menjalani Hidup Kita Sendiri

Ilustrasi dari Pixabay

Pernah membaca berita kemudian jadi sebel dan sewot sepanjang hari? Atau membaca komentar yang menurut kita tidak sesuai sebagaimana mestinya dan membuat hati kita tidak happy? Atau membaca update terbaru tentang politik Indonesia yang ngeselin?

Membaca berita di layanan berita online atau membaca status di social media sangat mungkin membuat hati kita kesal dan hari yang kita jalani tidak seindah yang kita inginkan.

Pertanyaannya adalah, mengapa kita mau saja distir untuk mengikuti arus berita yang tidak menyenangkan? Mengapa kita mau saja menjadi korban berita dan status yang tidak kita inginkan? Siapa yang memaksa kita untuk marah, khawatir dan takut jika membaca update berita yang membuat hati kita tidak nyaman?

Jawabnya, tidak ada! Diri kita sendiri yang membuat segalanya jadi sulit. Diri kita sendiri yang mau-maunya membuat kita menjadi korban perasaan sendiri.

Membaca berita itu baik, membuat kita jadi tahu apa yang terjadi di dunia yang kita tinggali. Di Indonesia yang kita cintai. Di lingkungan tempat kita berada.

Membaca status juga baik, jika itu membuat kita menyambung tali silaturahmi yang terputus. Menghubungkan kawan lama yang sudah lama tidak bersua. Membuat kita teringat pada guru, teman dan orang-orang yang berjasa pada jalan hidup kita.

Namun, semua menjadi tidak baik karena ketidakmampuan kita memilih dan memilah asupan yang baik bagi diri kita sendiri.

Sebagai contoh untuk lingkup yang besar, kita kerap mendengar berita soal Korea Utara yang katanya mau perang dengan AS. Soal Trump yang kerapkali mengucapkan kata-kata kontroversial. Betul, itu mungkin penting untuk kita ketahui karena siapa tahu perang di Korea Utara akan berimplikasi pada pekerjaan kita. Ekspor terganggu dan ekonomi akan terkena imbas. Pada akhirnya hidup sehari-hari jadi sulit. Lantas, apa yang memangnya bisa kita lakukan untuk mencegah hal itu?

Si Pieter Levels yang mengelola Levels.io pernah menulis seperti ini :

What’s the utility for me in repeatedly hearing about North Korea’s missile tests? Can I do something about it? Well, I could vote for a political leader who does something about it but. And I did. But that’s only one potential action every 4 years. What can I do now about North Korea? Should I fly there and try talk to Kim Jong-un that he should stop? Is he going to listen to me? No. Realistically the utility of this news reaches zero when it arrives in my mind.

Even worse, its utility is probably less than zero, it’s negative.

Because it makes me fearful, outraged, polarized, frustrated, annoyed and powerless. Which results in me projecting these emotions onto others. Now other people get annoyed with me being frustrated. Meanwhile, I can’t focus on work either because this fear has been planted in my brain. I’m distracted. For the people around me, I’m now a worse person than I was before this news hit my mind.

Ya iya kan. Hanya menambah-nambah rasa kesal kita. Membuat hidup kita jadi tambah susah. Membuat kita tidak fokus memperbaiki kualitas hidup kita.

Saya kerap memperhatikan dan merasakan sendiri, setelah membaca email, kadang hati saya jadi gembira dan acapkali jadi sebel. Setelah saya review apa saja yang saya baca, oh saya baru tahu ternyata hati saya jadi gembira karena ada kabar menyenangkan dan jadi sebel jika membaca kabar yang tidak diinginkan.

Bagi saya pribadi, saya tentukan saja apa yang ingin saya baca dan apa yang ingin saya dengar. Saya malas membaca berita yang saya tahu berita itu bias dan memuat pandangan politik yang kerap dikondisikan untuk kepentingan pemiliknya. Saya tidak ingin mendengar berita yang saya tahu beritanya hasil polesan yang berbeda dengan kenyataan.

Saya malas mendengar berita soal politikus tertentu yang kerap bersuara miring tanpa alasan yang masuk akal. Buat apa saya menghabiskan waktu mendengarkan ocehan yang tidak bermanfaat bagi saya dan hanya menambah rasa sewot saya.

Saya hide semua feed kabar dan status dari rekan-rekan yang kadang terjebak ghazwul fikri alias penyesatan pikiran dan statusnya jadi seperti pendekar pembela kebenaran secara tidak realistis. Saya bisa hide semua kabar namun tetap stay friends. Berbeda pandangan soal lumrah, hubungan pertemanan tetap penting. Bahkan, saya juga bisa unfriend tanpa rasa sesal jika menurut saya semakin lama level pertemanan yang ada tidak memberikan manfaat positif. Dan saya tidak perlu mengumumkan distatus saya bahwa saya akan unfriend karena buat apa juga harus mengumumkan hal yang mungkin tambah melukai perasaan hehehe…

Karena setiap orang punya lingkup kehidupan berbeda, tidak usah merasa khawatir jika apa yang saya sampaikan diatas terasa tidak cocok. Saya selalu menghindari generalisasi namun saya tidak menutup diri untuk menuliskan apa yang menurut saya cukup baik untuk dipikirkan. Sama seperti Pieter Levels yang menulis soal “Mute” di referensi artikel diatas. Dia tidak kenal saya dan dia tidak tahu apakah saya atau pembaca lain menyukai tulisannya. Namun dia menulis apa yang menurut dia baik untuk ditulis dan dia serahkan penilaian pada pembacanya. Sebagai salah satu pembaca saya menganggapnya baik dan itu sebabnya saya terinspirasi untuk melakukan “mute” terhadap hal-hal yang tidak menyenangkan bagi saya.

You are what you read. Saya memilih untuk menulis dan membaca artikel di Medium karena artikelnya bagus dan menambah wawasan saya. Artikelnya bermanfaat bagi saya. Saya mengurangi baca berita yang kurang bermanfaat atau sekedar “click bait”, hanya memancing rasa ingin tahu saja. Sesekali saya memang membacanya sekedar untuk hiburan tapi saya tidak ingin membiarkan orang lain menyetir langkah kedepan dari kehidupan saya. Saya tidak mau orang lain menyetir apa yang harus saya baca atau pendapat apa yang harus sesuai dengannya.

Saya memilih untuk mencari bacaan-bacaan yang bagus. Novel yang baik. Artikel yang mencerahkan. Cerita yang menghibur. Sejarah yang memperluas wawasan. Biografi yang menginspirasi. Apapun, sepanjang itu positif bagi saya.

Saya “mute” apa yang tidak bermanfaat bagi saya, apalagi yang malah memberikan dampak negatif bagi sikap dan hidup saya.

Life, is our precious gift. Don’t waste it being unhappy, dissatisfied, or anything else you can be.

)

Masim “Vavai” Sugianto

Written by

Traveller, Open Source Enthusiast & Book Lover. Works as Independent Worker & Self-Employer. https://www.excellent.co.id #BisnisHavingFun https://www.vavai.com

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade